Shichahai, Danau beku legenda para biksu

id danau beku

Danau Beku Shichahai (Foto ANTARA / M Irfan Ilmie)

"Beijing kondusif untuk skating, olahraga favorit saya dan ini untuk pertama kalinya saya melihat Danau Shichahai membeku," kata Olga Marianova, pelajar asal Rusia, saat di sela-sela berseluncur bersama teman sebayanya. (1)

Sejak awal November tahun lalu, perubahan tanda-tanda pada permukaan air telaga dan sungai sudah mulai tampak oleh mata. 

Permukaan air sungai tidak lagi memancarkan kilauan putih saat gelombang alirannya terantuk batu atau benda penghalang lainnya. 

Demikian pula air telaga yang tiba-tiba legam, meskipun masih menyisakan bercak putih di mana-mana. 

Masyarakat Kota Beijing,China melihatnya sebagai fenomena lumrah yang terbentuk secara alamiah pada saat suhu udara sudah di bawah titik nol atau biasa disebut dengan "tianqi lingxia". 

Air dan sungai itu membeku seiring dengan makin rendahnya suhu udara yang mencapai minus tiga hingga minus 11 derajat Celcius di daerah khusus Ibu Kota. 

Shichahai yang juga dikenal dengan Beihai atau Houhai biasanya ramai oleh wisatawan, terutama pasangan remaja, yang memadu kasih dengan mengayuh bahtera mengarungi telaga nan luas. 

Air telaga yang terbendung di atas cekungan 147 hektare sejak dilestarikan Dinasti Jin (1115-1234 Masehi) itu pada saat suhu udara rendah tidak hanya membeku melainkan juga mengeras. 

Awal bulan Januari ini, Pemerintah Kota Beijing membuka Danau Shichahai untuk umum setelah dipastikan keamanannya untuk berseluncur. 

Sebelum menyatakan terbuka untuk umum, pemerintah daerah khusus itu bekerja sama dengan masyarakat sekitar danau melakukan penelitian secara saksama dan cermat agar tidak memakan korban jiwa. 

Shichahai yang 200 tahun silam dikenal sebagai tempat favorit bagi para biksu dan biksuni karena terdapat sedikitnya 10 kelenteng Buddha dan Taoisme tidak lain adalah telaga yang kedalamannya antara 1 hingga 2 meter. 

Tentu tidak bisa dibayangkan kalau ada pengunjung tenggelam karena permukaan danau yang mengeras itu tiba-tiba pecah. 

Oleh sebab itu, dibutuhkan kepastian yang bisa menjamin keamanan wisatawan untuk berseluncur, bermain hoki es, bersepeda es, atau sekadar menikmati suasana yang berbeda di atas permukaan Danau Shichahai. 

                                                                                                          Batas aman 

Ketebalan es 15 centimeter merupakan batas aman permukaan Danau Shichahai bagi pengunjung untuk berseluncur.

Sepasang tongkat besi berujung lancip yang dipegang setiap pengunjung untuk menjaga keseimbangan saat berseluncur pun tidak mudah menembus permukaan danau es jika standar minimum ketebalannya tidak kurang dari angka itu. 

Puluhan petugas yang berasal dari penduduk sekitar dikerahkan untuk terus memantau permukaan danau. 

Selain memastikan keamanan para pengunjung, mereka berkeliling dan memberikan tanda berupa garis atau lingkaran warna merah jika permukaan rawan pecah untuk menghindari celaka. 

Tentu saja Shichahai bukan satu-satunya danau di Kota Beijing yang berubah bentuk menjadi gelanggang es untuk mereka yang suka berseluncur. 

Istana Musim Panas atau Yiheyuan di perbukitan pinggiran Ibu Kota itu juga sangat mendukung untuk dijadikan ajang rekreasi pada saat musim dingin. 

Telaga seluas 2,9 kilometer persegi yang berlokasi di Distrik Haidian itu juga membeku seperti halnya Shichahai. 

Tidak heran jika Istana Musim Panas menjadi salah satu tempat favorit bagi pengunjung, terutama wisatawan asing, untuk merayakan Tahun Baru. 

Demikian halnya dengan Danau Weiminghu yang berada di sekitar kampus Peking University juga ramai pengunjung untuk bersenang-senang pada akhir pekan. 

Walau begitu, Danau Shichahai tetap ramai oleh pengunjung karena lokasinya berada di pusat kota sehingga lokasinya mudah dijangkau. 

Danau Shichahai tidak jauh dari Kota Terlarang dan Lapangan Tiananmen, objek wisata terpadat pengunjung di Beijing. Bahkan Shichahai bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari kedua objek wisata tersebut. 

Objek wisata itu juga bisa langsung ditempuh dengan kereta bawah tanah (subway/MRT) Line 8 turun di Stasiun Shichahai atau Line 6 turun di Stasiun Beihai dengan tarif 4 hingga 6 RMB (Rp8.000-Rp12.000) untuk sekali jalan. 

Begitu keluar dari kedua stasiun kereta bawah tanah itu, pengunjung langsung dapat melihat permukaan danau. 

Selain kereta bawah tanah, Shichahai juga dapat ditempuh dengan bus kota nomor 5, 60, 107, dan 124 turun di halte Gulou. 

Atau bisa juga dengan menggunakan bus nomor 13, 111, 118, 609, dan 623 turun di halte Beiahai Beimen. Menggunakan bus kota di Beijing tarifnya 2 RMB (Rp4.000) dengan uang pas, namun lebih murah dengan kartu isi ulang karena hanya 1 Reminbi atau RMB (Rp2.000) untuk sekali jalan. 

Setiap pengunjung Shichahai dikenai tarif 60 RMB (Rp120.000) untuk sekali masuk dan bisa sepuasnya menggunakan alat peluncur dan sepeda es tanpa dikenai biaya lagi. 

"Beijing kondusif untuk skating, olahraga favorit saya dan ini untuk pertama kalinya saya melihat Danau Shichahai membeku," kata Olga Marianova, pelajar asal Rusia, saat di sela-sela berseluncur bersama teman sebayanya.

Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar