Warga Minahasa Tenggara korban perdagangan manusia

id KBRI Kuala Lumpur,Perdagangan Manusia,Minahasa Tenggara

KBRI Kuala Lumpur buka 24 Jam (Foto @KBRI_Kuala Lumpur) (1)

Minahasa Tenggara, (AntaraKL) - Sepuluh warga Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara, yang ditelantarkan di Malaysia karena tergoda iming-iming menjadi tenaga kerja di negara jiran diduga merupakan korban perdagangan manusia.

"Kami menduga sepuluh warga Minahasa Tenggara yang ditelantarkan di Malaysia karena dijanjikan menjadi tenaga kerja merupakan korban perdagangan manusia," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Minahasa Tenggara Robby Sumual, di Ratahan, Minggu.

Dia menuturkan, berdasarkan pengakuan para korban kepada keluarga mereka, setelah direkrut dari Minahasa Tenggara mereka kemudian dibawa ke Medan untuk diperdagangkan.

"Menurut keluarga korban, setelah mereka dibawa ke Medan, para korban ini diperdagangkan oleh oknum yang merekrut mereka dengan kisaran harga Rp17 juta per orang," ujarnya.

Lebih lanjut diungkapkan Robby, status penyedia jasa tenaga kerja yang melakukan perekrutan bagi kesepuluh TKI tidak terdaftar di Disnaker Kabupaten Minahasa Tenggara. 

"Termasuk sepuluh TKI ini tidak pernah tercatat sebagai pencari kerja. Sedangkan untuk penyedia jasa ini tidak terdata sebagai penyedia tenaga kerja secara resmi," ujarnya pula.

Robby menambahkan, para keluarga korban telah melaporkan oknum yang melakukan perekrutan sepuluh warga tersebut ke pihak kepolisian.

Juru Bicara Pemkab  Minahasa Tenggara Franky Wowor menegaskan semua instansi di lingkungan Pemkab telah diperintahkan untuk melakukan koordinasi dengan Pemprov Sulut untuk dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).      

"Setelah kami menerima laporan tersebut, semua instansi terkait diperintahkan langsung melakukan penanganan secara cepat," katanya pula.

Dia menambahkan, berdasarkan informasi saat ini dari sepuluh warga tersebut, empat warga telah berada di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Malaysia, sedangkan enam warga lainnya belum diketahui keberadaannya.
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar