Logo Header Antaranews Kuala Lumpur

Anwar Ibrahim bicara soal krisis hingga pertemuan dengan Presiden Prabowo

Sabtu, 4 April 2026 22:16 WIB
Image Print
Arsip - Presiden RI Prabowo Subianto menyambut kedatangan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di Istana Merdeka Jakarta, Jumat (27/3/2026). (ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden)

Kuala Lumpur (ANTARA) - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menjelaskan upaya yang dilakukan pemerintahannya untuk mengantisipasi dan menanggulangi dampak krisis akibat perang di Timur Tengah, hingga mengulas pertemuannya dengan Presiden RI Prabowo Subianto.

Hal tersebut disampaikan Anwar Ibrahim dalam sambutannya di acara Program Madani Rakyat Perak 2026, di Ipoh, Negeri Perak, Malaysia, Sabtu, menyinggung adanya pihak-pihak yang disebutnya memaki upaya-upaya tulus yang tengah dilakukan pemerintah.

"Kita di sini selalu marah, berteriak, membenci, tidak berpikir seolah-olah kita punya masalah, dan pemerintah tidak melakukan apa-apa," kata Anwar Ibrahim.

Anwar Ibrahim menyatakan sejak awal serangan Israel – dengan bantuan Amerika Serikat – ke Iran, Malaysia sebagai negara berdaulat, menjadi salah satu negara yang berani mengeluarkan pernyataan protes terhadap serangan tersebut.

"Malaysia ini negara merdeka, yang menjunjung tinggi negara merdeka, dan berdaulat. Tidak terikat, tidak tunduk pada kekuatan asing mana pun. Itulah mengapa saya mengajukan mosi di parlemen, meminta anggota parlemen untuk menyatakan dengan tegas bahwa Malaysia menolak serangan Israel dan Amerika terhadap Iran," ujarnya.

Dia menegaskan saat situasi perang semakin berlarut-larut, pemerintah Malaysia setiap hari melakukan pertemuan untuk mencari jalan keluar, baik dengan perusahaan minyak Petronas, dengan para ahli ekonomi, hingga melakukan sambungan telepon dengan sejumlah pemimpin negara sahabat.

Dia mengatakan selama beberapa waktu terakhir telah menghubungi sejumlah koleganya, para pemimpin negara-negara di Timur Tengah untuk membahas penyelesaian konflik.

Anwar Ibrahim di antaranya menyebut melakukan kontak telepon dengan pemimpin Mesir, hingga negara-negara Teluk termasuk Turki dan Azerbaijan, serta mengontak negara-negara Arab dan juga Iran.

Baca juga: Menilik posisi Malaysia atas perang Iran

Dia mengatakan bahwa apa yang terjadi di Selat Hormuz, telah meningkatkan biaya di banyak negara. Dia mempertanyakan pihak-pihak yang tidak melihat upaya yang sedang dilakukan pemerintah.

"Saya juga bingung. Apa sebagian dari orang-orang kita tidak membaca? Mereka tidak mengikuti perkembangan dunia. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan negara-negara tetangga," jelasnya.

Dia mengulas, bahwa di ASEAN, ada negara yang telah melakukan penjatahan minyak, menutup 400 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), hingga terpaksa memaksa para pekerja di sekitar kota untuk berjalan kaki ke kantor.

Dia menyampaikan pemerintah Malaysia tengah berusaha menanggulangi dampak perang di Timur Tengah. Anwar pun bercerita sampai harus terbang ke Jakarta menemui Presiden RI Prabowo Subianto beberapa waktu lalu untuk berdiskusi.

"Saya harus terbang selama beberapa jam untuk berbicara dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Karena sebelumnya, beliau datang menemui saya 4-5 kali. Saya pikir tidak sesuai bagi saya, kalau hanya beliau yang datang ke sini. Saya bahkan tidak membalas kunjungannya. Jadi saya pergi. Penerbangan 2 setengah jam, 35 menit ke Istana Kepresidenan, duduk dan berbicara selama 2 jam, lalu kembali ke Kuala Lumpur," terang Anwar.

Baca juga: Malaysia waspadai keamanan negara di tengah situasi Timur Tengah

Lebih jauh dia meminta semua pihak belajar bersyukur dan bersabar dalam menghadapi masalah dampak perang di Timur Tengah.

Anwar menyatakan tidak mempersoalkan jika ada orang yang mengkritik atau memakinya, namun dia meminta tidak ada pihak yang mengganggu pekerjaan pemerintah dalam mengantisipasi krisis dan membantu meringankan beban rakyat.



Pewarta :
Editor: Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026