
ABIM apresiasi gencatan senjata AS-Iran, harap tidak jadi jeda taktis

Kuala Lumpur (ANTARA) - Gerakan kepemudaan berbasis Islam, Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) menyambut baik pengumuman gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran sebagai perkembangan penting menuju de-eskalasi ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Asia Barat.
Dalam konteks ini, ABIM menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas peran konstruktif Pakistan sebagai mediator dalam memfasilitasi de-eskalasi.
"Upaya ini mencerminkan kemampuan dunia Islam untuk tampil sebagai fasilitator yang kredibel dan berprinsip dalam mengelola konflik internasional secara bertanggung jawab," ujar Presiden ABIM Ahmad Fahmi Mohd Samsudin dalam keterangan kepada ANTARA di Kuala Lumpur, Kamis.
Namun demikian, ABIM menegaskan bahwa gencatan senjata ini tidak boleh sekadar menjadi jeda taktis. Sejarah menunjukkan bahwa ketiadaan komitmen yang tulus hanya akan menyeret dunia kembali ke dalam siklus kekerasan yang berulang.
Oleh karena itu, kata Fahmi, semua pihak harus menunjukkan kemauan politik yang jelas, konsisten, dan tulus, bebas dari agenda tersembunyi.
ABIM juga menekankan bahwa setiap pelanggaran terhadap gencatan senjata merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip dasar Piagam PBB, khususnya larangan penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional.
Kegagalan untuk bertindak secara konsisten dan tanpa pilih kasih dinilai akan mengikis kepercayaan terhadap sistem tata kelola global dan memperkuat persepsi kemunafikan geopolitik.
Dalam hal ini, ABIM mengusulkan pembentukan mekanisme pemantauan yang independen dan transparan di bawah naungan guna memastikan kepatuhan terhadap gencatan senjata, serta mencegahnya menjadi sekadar kesempatan untuk konsolidasi militer.
ABIM menyerukan penguatan upaya diplomatik untuk membangun kepercayaan antara Amerika Serikat dan Iran, guna membuka jalan menuju perjanjian perdamaian yang lebih komprehensif, adil, dan berkelanjutan.
Menurut Fahmi, pendekatan ini tidak hanya penting bagi stabilitas kawasan, tetapi juga merupakan prasyarat bagi perdamaian global yang berkelanjutan, termasuk menjaga rantai pasok energi serta stabilitas jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada ekonomi termasuk Malaysia.
Sejalan dengan itu, segala bentuk provokasi, ancaman, narasi menyesatkan, dan tindakan militer yang dapat merusak gencatan senjata harus segera dihentikan. Hal ini termasuk tindakan berkelanjutan rezim Zionis Israel di Palestina dan wilayah sekitarnya.
ABIM menegaskan bahwa setiap upaya menuju perdamaian di Asia Barat akan tetap tidak bermakna tanpa penyelesaian yang adil terhadap isu Palestina, yang terus menjadi pendorong utama ketidakstabilan kawasan.
Kerangka perdamaian yang layak harus mencakup pengakuan atas hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri serta pengakhiran pendudukan yang berkepanjangan.
Pada saat yang sama, ABIM menegaskan bahwa konflik yang melibatkan Iran tidak dapat dipandang secara terpisah dari realitas di Lebanon, yang telah menjadi perpanjangan dari ketegangan regional yang lebih luas.
ABIM menegaskan pelanggaran kedaulatan dan aksi militer berkelanjutan oleh Israel di Lebanon menunjukkan bahwa pendekatan yang terfragmentasi dan tidak menyeluruh hanya akan memindahkan dan memperluas konflik ke wilayah lain.
Situasi ini menegaskan bahwa perdamaian yang selektif pada dasarnya rapuh dan berisiko memicu eskalasi baru sekaligus memperdalam krisis kemanusiaan di kawasan.
Oleh karena itu, kata Fahmi, setiap kerangka perdamaian regional harus bersifat komprehensif, mencakup penghentian segera pelanggaran di Lebanon, pengakhiran pendudukan di Palestina, serta komitmen nyata dari semua pihak untuk mengakhiri kekerasan dalam segala bentuknya.
ABIM memandang krisis ini sebagai ujian bagi dunia modern untuk melampaui logika dominasi menuju etika tanggung jawab bersama, keadilan universal, dan perdamaian berbasis nilai.
ABIM menegaskan kembali bahwa abad ke-21 tidak boleh terus terjebak dalam siklus konflik usang yang hanya mengakibatkan hilangnya nyawa tak berdosa dan tergerusnya kemanusiaan bersama. Perdamaian sejati membutuhkan keberanian moral untuk mengakhiri kekerasan secara menyeluruh, tanpa selektivitas dan tanpa kemunafikan geopolitik.
ABIM juga menyerukan kepada pemerintah Malaysia untuk terus memainkan peran aktif melalui diplomasi multilateral, termasuk dalam ASEAN, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan PBB, dalam mendukung upaya de-eskalasi yang berprinsip dan berkeadilan.
Pewarta : Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor:
Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
