Kartini tanpa tanda jasa, "Panggil aku Dewi Kartika saja"
idDewi Kartikaningrat, Kartini, Kartini Kuala Lumpur, guru SIKL
Oleh Rangga Pandu Asmara Jingga
Selasa, 21 April 2026 11:36 WIB
Guru bahasa Inggris Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Dewi Kartikaningrat. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)
Kartini tanpa tanda jasa, "Panggil aku Dewi Kartika saja"
Selasa, 21 April 2026 11:36 WIB
Guru bahasa Inggris Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Dewi Kartikaningrat. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)
Guru bahasa Inggris Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Dewi Kartikaningrat bersama anak didik. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)
Vonis kanker payudara
September tahun 2023, di tengah kesibukannya mengajar, sebuah kabar mengejutkan menyesakkan dada Dewi. Dewi Kartikaningrat mendapat vonis kanker payudara.
Sebelumnya berbekal dukungan dan dorongan keluarga, benjolan di payudara yang sudah dirasakan sejak beberapa waktu, akhirnya ia periksakan ke rumah sakit. Hasil medis memvonisnya kanker payudara hampir stadium 3.
Rasa bingung dan khawatir menghinggapi diri Dewi saat itu.
"Waktu itu saya bingung. Benjolan diameter 4 sentimeter dan sudah hampir stage 3," kata Dewi. Raut wajahnya larut dalam kenangan, matanya agak berkaca-kaca saat bercerita perihal ini.
Dia kemudian segera meminta izin kepada kepala sekolah di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur untuk menjalani kemoterapi selama beberapa bulan. Acap kali setelah menjalani kemoterapi, Dewi harus absen mengajar setidaknya selama sepekan, karena tidak bisa bangkit.
"Setiap setelah selesai kemoterapi, satu minggu pasti saya tidak bisa masuk mengajar, karena memang tidak bisa bangun. Tapi di minggu keduanya saya bertekad mengajar anak-anak, pakai masker karena harus bersih," jelas Dewi.
Mengajar anak-anak di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur menjadi "obat" tersendiri bagi Dewi Kartikaningrat.
Bertemu anak-anak membuatnya bahagia, ketimbang hanya diam di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Lebih-lebih di sekolah dia mendapat dukungan penuh dari para kolega guru.
Pernah ada kenangan saat seorang anak kelas XI bertanya dengan polos dan sedikit bergurau kepada Dewi. "Ibu sombong, kenapa sih pakai masker terus, lagi kena Covid ya?" gurau anak tersebut.
Dewi memberikan pengertian kepada anak itu, bahwa dirinya mengidap kanker. Sang anak pun terkejut, lalu dengan polos memperingatkan Dewi bahwa kanker adalah penyakit yang bisa membawa pada kematian.
Ada juga momen ketika para anak didik selalu menanyakan kondisi kesehatan Dewi saat berjumpa di sekolah. "Ibu ok? Ibu sehat?", lalu para anak mengajak Dewi berswafoto.
"Mungkin mereka menganggap saya tidak akan berumur panjang, jadi mereka ajak saya foto. Tapi saya senang. Anak-anak care dan juga toleransi dengan sakit saya," kata Dewi.
Dewi Kartikaningrat menolak terpuruk dan meratapi apa yang telah menjadi kehendak Tuhan. Dia merasa dirinya kini sudah berada pada tahap pasrah yang paling puncak di sepanjang hidupnya.
"Dulu waktu awal-awal berdiam di rumah ada halusinasi, ada pikiran, jangan-jangan saya begini, jangan-jangan saya begitu. Sekarang betul-betul selalu berpikir positif dan semakin ingin berbuat banyak," kata Dewi.
"Jadi saya ingin terus mengajar anak-anak, meninggalkan kenangan yang bagus. Saya tidak mau terpuruk di rumah hanya tidur do nothing. Jadi tetap mengajar," kata dia.
Begitulah sekilas kisah Dewi Kartikaningrat, Kartini tanpa tanda jasa yang sudah mengabdi puluhan tahun mengajar anak-anak diaspora di Kuala Lumpur. ANTARA berupaya mengangkat kisah inspiratif Dewi Kartikaningrat dengan harapan dapat menjadi motivasi yang positif bagi khalayak.
Bagi Dewi kanker mungkin menguji raga, namun urung mematahkan semangatnya untuk terus bersama-sama seluruh guru di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dalam memenuhi hak anak-anak Indonesia di Kuala Lumpur menerima pendidikan.
Seperti Kartini yang terus membara melalui isi surat-suratnya, Dewi Kartikaningrat terus berusaha menjadi lentera lewat ilmu yang dibagikannya dengan penuh rasa cinta kepada anak-anak diaspora.
Di peringatan Hari Kartini saat ini, Dewi berpesan kepada seluruh wanita Indonesia, agar selalu kuat dan bermartabat dalam menjalani hidup.
Guru bahasa Inggris Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Dewi Kartikaningrat menyapa seorang anak didik. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)