Logo Header Antaranews Kuala Lumpur

Berwisata ke Kampung Sarang Buaya di Muar, Johor, Malaysia

Minggu, 31 Mei 2026 13:36 WIB
Image Print
Wisata Kampung Sarang Buaya di Muar, Johor, Malaysia. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)

Muar, Johor, Malaysia (ANTARA) - Bagi kebanyakan orang berwisata ke sarang buaya mungkin akan menimbulkan kengerian tersendiri, karena hewan predator purba berdarah dingin itu dikenal sebagai hewan buas.

Tapi, berwisata ke Sarang Buaya, di Muar, Johor, Malaysia, adalah satu hal yang berbeda, karena ini merupakan sebuah wilayah perkampungan warga yang dinamakan sebagai Kampung Sarang Buaya.

ANTARA bersama dengan sejumlah rekan media lokal dan internasional serta beberapa perwakilan agen perjalanan asal Singapura, berkesempatan berkunjung ke kampung yang terletak di pesisir Selat Melaka, yang lokasinya berhadap-hadapan, dengan Bengkalis dan Dumai, Riau, Indonesia, pada 28–30 Mei 2026.

Kunjungan ini merupakan bagian dari program Familiarisation Trip showcase package homestay yang diselenggarakan oleh Badan Tourism Malaysia, di bawah Kementerian Pariwisata, Seni dan Budaya Malaysia.

Kampung Sarang Buaya adalah sebuah desa yang penuh dengan cerita legenda dan warisan budaya. Kampung ini terletak di subdistrik Sungai Balang, di Muar, Johor, Malaysia.

Kampung ini didirikan sekitar tahun 1872, sebelum kedatangan pemerintahan kolonial Inggris di wilayah tersebut.

Kampung ini dinamakan Sarang Buaya karena banyaknya jumlah buaya yang menghuni sungai di dekatnya.

Menurut cerita warga setempat, pada zaman dulu, dalam jarak sungai yang pendek, warga bisa melihat antara lima hingga delapan ekor buaya sekaligus dalam satu waktu.

Ukuran buaya di sini dikatakan mencapai dua hingga lima depa (satuan ukuran tradisional bentangan lengan di Malaysia), yang menjadikannya sangat besar.

Serangan buaya

Korban pertama serangan buaya di kampung ini adalah seorang gadis muda bernama Kamariah, yang diserang saat sedang mandi di sungai bersama teman-temannya.

Sebuah cerita lokal terkenal mengisahkan bagaimana seorang pawang buaya bernegosiasi dengan buaya jantan yang dijuluki si Bujang Jambu untuk mengembalikan tubuh Kamariah.

Pawang tersebut memukul permukaan sungai dan memanggil buaya yang bertanggung jawab. Seekor buaya perlahan mendekati tepi sungai, membawa beberapa helai rambut manusia di mulutnya sebelum mengembalikan tubuh Kamariah.

Setelahnya, serangan-serangan lain pun menyusul pria bernama Sardan bin Adam dikabarkan tewas saat sedang memancing; seorang warga Tionghoa diserang saat sedang buang air di dekat sungai, serta Ismail yang berhasil selamat namun wajahnya mengalami luka permanen akibat diserang buaya saat membasuh muka.

Meskipun banyak cerita serangan buaya, warga setempat tetap tinggal dan menetap di kampung ini.

Dan pada tahun 1992, seekor anak buaya dilaporkan tertangkap di pintu air desa, membuktikan bahwa buaya masih menghuni sungai tersebut.

Kampung wisata

Kampung Sarang Buaya, perlahan namun pasti, mengukuhkan diri sebagai desa wisata di Muar, Johor, Malaysia.

Wisatawan lokal Malaysia maupun mancanegara dapat menikmati keramahan warga dan keindahan alam di Kampung Sarang Buaya.

Atraksi wisata yang disuguhkan adalah interaksi nyata dengan masyarakat kampung setempat yang ramah, mencoba panganan lokal hingga menikmati kesenian budaya Kampung Sarang Buaya, yang merupakan akulturasi budaya Melayu dengan Jawa — karena jauh sebelum Malaysia dan Indonesia merdeka, orang-orang Jawa banyak bermigrasi ke Semenanjung Melayu membawa budaya dan melebur dengan masyarakat sekitar.

Dalam kunjungan tiga hari melalui program Familiarisation Trip showcase package homestay Tourism Malaysia di Kampung Sarang Buaya, ANTARA bersama partisipan lain merasakan pengalaman tinggal, hidup dan bercengkerama layaknya masyarakat asli di Muar, Johor.

Seluruh peserta menginap dalam beberapa homestay yang berdiri tepat di pekarangan rumah-rumah tokoh Kampung Sarang Buaya.

Pada hari pertama semua peserta diajak melihat pemotongan daging kurban lembu, yang biasa dilakukan saat perayaan Idul Adha. Kebetulan dalam kunjungan hari pertama itu, bertepatan hari kedua Idul Adha di Malaysia.

Kegiatan selama kunjungan dipusatkan di homestay utama milik tokoh Kampung Sarang Buaya bernama Mohd Khairi bin Abu.

Dari tata cara dan proses, pemotongan hewan kurban dilakukan dengan kaidah Islam, sama halnya pemotongan kurban yang dilakukan di Indonesia.

Kemudian peserta diajak bermain permainan tradisional congklak, mendengar pemaparan pejabat Tourism Malaysia, serta dilanjutkan melihat proses memasak daging kurban menjadi sebuah sup lembu.

Acara hari pertama dilanjutkan dengan makan malam bersama dengan menu utama sup lembu lezat yang menghangatkan tubuh, serta ditutup dengan pesta kembang api semalaman suntuk.

Sejumlah wanita bermain kembang api, dalam acara Familiarisation Trip yang diselenggarakan Tourism Malasyia di Kampung ASarang Buaya, Muar, Johor, Malaysia, Kamis (28/5/2026). (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)


Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan berkunjung ke sentra pabrik rumahan pembuatan dodol.

Dodol diracik secara tradisional dan diaduk menggunakan mesin aduk dalam tempo sekurangnya 5 hingga enam jam.

Dodol ini terkenal dengan rasanya yang tidak terlalu manis, sehingga terasa sangat pas di lidah. Selain itu peserta juga dapat melukis batik, hingga menulis kaligrafi dengan pena bambu.

Membuat dodol di Muar, Johor, Malaysia. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)

Kemudian para peserta diajak bermain perahu kayak menyusuri anak Sungai Sarang Buaya.

Saat kunjungan, sungai ini relatif dangkal hanya sepinggang orang dewasa. ANTARA dapat memastikan ini, karena sempat tercebur ke dalam sungai akibat perahu kayak yang ditumpangi seorang diri, terbalik setelah menabrak parit.

Kegiatan hari kedua dilanjutkan dengan sholat Jumat berjamaah bagi pria Muslim, dan diteruskan dengan berkunjung ke Keraton Mbah Anang di wilayah Muar, Johor.

Keraton ini didirikan seseorang warga Malaysia keturunan orang Jawa.

Ulasan mengenai Keraton Mbah Anang ini telah ANTARA lakukan dalam berita video berjudul "Melihat Keraton Mbah Anang di Johor Malaysia", serta dibahas dalam artikel "Jejak-jejak orang Jawa di Muar, Johor".

Keraton megah dengan gerbang gapura khas Mojokerto, menunjukkan persaudaraan antara Indonesia-Malaysia sudah terjalin lama yang salah satunya dikontribusikan oleh migrasi orang-orang Jawa ke Semenanjung Melayu.

Wisata hari kedua dilanjutkan dengan kunjungan ke wilayah ladang padi Sarang Buaya dengan melihat pemandangan matahari terbenam sembari meminum kopi dan teh serta camilan khas Muar, Johor berupa ubi/singkong dipadu dengan pancake serta dimakan dengan sambal dan ikan asin.

Di tempat ini seluruh peserta bisa bersantai dengan pemandangan indah hamparan sawah yang luas yang membelakangi Selat Melaka.

Hamparan persawahan di Sungai Balang, Muar, Johor, Malaysia. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)

Usai bersantai, peserta dapat kembali ke homestay untuk bersiap mengenakan baju khas Melayu, dan mengikuti proses makan malam bersama dengan menikmati persembahan tradisi silat dan barongan sebelum kembali beristirahat.

Hari terakhir

Kunjungan wisata hari ketiga, atau pamungkas, ditutup dengan kunjungan ke pabrik kopi Liberika milik Pak Ajes di Batu Pahat.

Pabrik kopi turun temurun ini menyuguhkan kopi asli lokal dengan rasa yang fruity dan segar.

Selama kunjungan, peserta Familiarisation Trip mendapatkan penjelasan menyeluruh tentang pemrosesan kopi mulai dari pemetikan, penjemuran, pemisahan kulit hingga pemanggangan dan pengemasan.

Peserta juga langsung menikmati kopi Ajes di kedai yang berada di depan bangunan pabrik.

Melihat penjemuran kopi di Muar, Johor, Malaysia. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)

Selanjutnya kegiatan wisata selama tiga hari dua malam, ditutup dengan menaiki kendaraan tram terbuka dan menikmati sepoi angin di Kampung Sarang Buaya.

Bagi ANTARA kunjungan wisata ini membuka pemahaman lebih dalam mengenai akulturasi budaya Indonesia dan Melayu yang terbangun sejak lama, mengingat banyaknya warga keturunan Jawa dan Bugis di tempat ini.

Lebih dari itu, kunjungan ini menunjukkan sebuah destinasi wisata yang potensial di Muar, Johor, Malaysia, yang sangat layak dikunjungi oleh wisatawan baik lokal Malaysia maupun mancanegara, termasuk Indonesia.

Peserta Familiarisation Trip, di Kampung Sarang Buaya, Muar, Johor, Malaysia. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)
Wanita berpose di salah satu homestay di tepi sawah Muar, Johor, Malaysia. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)



Pewarta :
Editor: Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026