Logo Header Antaranews Kuala Lumpur

Piala Dunia yang lebih adil dengan sentuhan kecerdasan buatan

Kamis, 11 Juni 2026 17:29 WIB
Image Print
Ilustrasi. Pendukung Tim Nasional Meksiko mengenakan pakaian tradisional di kawasan Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Rabu (10/6/2026). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.

Jakarta (ANTARA) - Piala Dunia 2026 di Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat segera bergulir. Dari Stadion Azteca di Mexico City, peluit pertama akan mengawali perjalanan panjang yang dipenuhi harapan, impian, dan perjuangan.

Tim dari 48 negara telah tiba di berbagai kota di Amerika Utara. Mereka datang dari latar yang berbeda, membawa warna, sejarah, dan cita-cita yang tak sama. Namun, tujuan mereka serupa: menaklukkan panggung sepak bola paling megah di dunia.

Di lapangan hijau, setiap pemain akan berlari mengejar satu hal yang sama yaitu kemenangan. Ada yang akan pulang dengan senyum kemenangan, ada pula yang harus menundukkan kepala menerima kekalahan.

Namun, Piala Dunia tidak hanya berkisah tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Di balik gemuruh stadion dan sorak-sorai jutaan pendukung, ada satu nilai yang selalu dicari dan dijaga yaitu keadilan. Sebab, kemenangan akan terasa lebih bermakna ketika diraih secara jujur. Sebaliknya, kekalahan akan lebih mudah diterima ketika lahir dari pertandingan yang berjalan dengan adil.

Sepanjang sejarahnya, Piala Dunia telah menghadirkan banyak kisah agung yang terus dikenang lintas generasi. Tetapi, sejarah juga menyimpan sejumlah luka yang lahir dari keputusan yang keliru.

Pada 1986, Inggris harus menyaksikan Diego Maradona mencetak gol dengan tangannya dalam laga melawan Argentina. Gol yang kemudian dikenang sebagai "Tangan Tuhan" itu menjadi simbol bagaimana keterbatasan manusia terkadang ikut menentukan arah sebuah pertandingan.

Enam belas tahun kemudian, Italia merasakan kekecewaan yang serupa. Dalam laga melawan Korea Selatan pada Piala Dunia 2002, sejumlah keputusan wasit memantik kemarahan dan perdebatan panjang yang masih dikenang hingga kini.

Lalu pada Piala Dunia 2010, Inggris kembali berada di sisi yang dirugikan. Tembakan Frank Lampard memantul dari mistar dan telah melewati garis gawang sebelum keluar kembali. Mata jutaan penonton melihatnya sebagai gol. Tayangan ulang membenarkannya. Namun pada saat itu, keputusan di lapangan berkata lain. Bola telah masuk, tetapi gol tak pernah tercatat.

Peristiwa itu menjadi salah satu alasan utama FIFA kemudian memperkenalkan teknologi garis gawang agar tidak ada lagi gol yang hilang di antara keraguan dan keterlambatan pandangan mata.

Perjalanan inovasi berlanjut pada Piala Dunia 2018 di Rusia melalui penggunaan Video Assistant Referee (VAR). Teknologi tersebut hadir bukan untuk menggantikan wasit, melainkan membantu mereka melihat lebih jelas apa yang mungkin luput dalam sepersekian detik.

Empat tahun kemudian di Qatar, kecerdasan buatan mulai mengambil peran yang lebih besar. Teknologi offside semi-otomatis dan bola yang dilengkapi sensor memungkinkan setiap sentuhan, pergerakan, dan posisi pemain dibaca dengan ketelitian yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Kini, pada Piala Dunia edisi ke-23 yang akan berlangsung di Amerika Utara, FIFA akan menambah lagi teknologi termutakhir, lebih unggul dibandingkan dengan edisi-edisi sebelumnya.

Kecerdasan buatan

FIFA akan menghadirkan sejumlah inovasi teknologi berbasis AI pada Piala Dunia kali ini. Berbagai teknologi tersebut dirancang untuk membantu perangkat pertandingan, meningkatkan analisis performa tim, serta menghadirkan pengalaman yang lebih impresif bagi penggemar di seluruh dunia.

Salah satu inovasi utama adalah teknologi offside semiotomatis generasi terbaru atau Advanced Semi-Automated Offside Technology. Teknologi ini memungkinkan keputusan offside diambil dengan lebih cepat dan akurat.

Sistem tersebut memanfaatkan pelacakan pemain dalam format tiga dimensi dan mampu mengirimkan peringatan secara langsung kepada asisten wasit di lapangan ketika terdeteksi potensi pelanggaran offside.

FIFA juga memperkenalkan Football AI Pro, asisten berbasis AI generatif yang akan tersedia bagi seluruh tim. Tim memperoleh akses yang setara terhadap analisis pertandingan, data performa pemain, serta informasi taktis, terlepas dari perbedaan sumber daya yang dimiliki masing-masing federasi.

Selain itu, seluruh pemain akan menjalani pemindaian tubuh tiga dimensi (3D scanning) untuk menciptakan avatar digital yang dapat dimanfaatkan dalam analisis pertandingan maupun tayangan ulang tiga dimensi bagi penonton.

Di sektor perwasitan, FIFA menghadirkan Referee View yaitu kamera yang dipasang pada perangkat wasit untuk menampilkan sudut pandang langsung dari lapangan. Teknologi ini dilengkapi sistem stabilisasi gambar berbasis AI sehingga menghasilkan tayangan yang lebih jernih dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan siaran, edukasi perwasitan, serta evaluasi pertandingan.

Piala Dunia kali ini juga tetap menggunakan teknologi bola yang terkoneksi pada bola resmi TRIONDA. Bola tersebut dilengkapi sensor gerak berkecepatan tinggi yang mampu mengirimkan data setiap saat kepada sistem VAR guna membantu pengambilan keputusan.

Seluruh inovasi tersebut merupakan upaya FIFA meningkatkan kualitas pertandingan, transparansi pengambilan keputusan wasit, serta pengalaman para penggemar pada Piala Dunia yang untuk pertama kalinya diikuti oleh 48 negara peserta.

Aturan baru

Meskipun teknologi canggih semakin banyak diterapkan dalam Piala Dunia, teknologi tidak serta-merta menjadi solusi atas seluruh situasi kompleks yang terjadi dalam pertandingan. Karena itu, FIFA juga menghadirkan sejumlah pembaruan aturan.

Salah satu perubahan penting adalah perluasan cakupan intervensi VAR. VAR yang dapat campur tangan dalam kasus ketika wasit secara keliru mengeluarkan kartu kuning kedua, salah mengidentifikasi pemain yang melakukan pelanggaran, atau membuat keputusan yang keliru terkait tendangan sudut.

Selain itu, VAR juga memiliki kewenangan untuk meninjau kemungkinan pelanggaran yang terjadi sebelum bola dimainkan kembali dalam situasi bola mati. Jika VAR mendeteksi adanya pelanggaran, wasit akan diminta meninjau tayangan ulang melalui monitor di tepi lapangan sebelum memutuskan apakah akan memberikan sanksi disiplin atau memerintahkan pengulangan tendangan bebas.

Namun, intervensi VAR dalam keputusan tendangan sudut hanya dilakukan untuk mengoreksi kesalahan yang jelas dan nyata. Dalam kasus kartu kuning kedua, VAR hanya dapat mengoreksi keputusan yang salah dan tidak berwenang merekomendasikan kartu kuning kedua apabila wasit sebelumnya tidak mengeluarkannya.

Perubahan lain yang cukup mencolok adalah aturan yang memberikan sanksi kepada pemain yang sengaja menutupi mulut menggunakan tangan, lengan, atau bagian bajunya saat terlibat dalam konfrontasi dengan lawan.

Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional atau IFAB) menilai tindakan menutupi mulut dapat menyulitkan wasit maupun pihak berwenang untuk mengetahui isi percakapan, terutama dalam kasus yang berkaitan dengan rasisme, penghinaan, atau pelanggaran disiplin lainnya.

Pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit juga akan menghadapi sanksi. Anggota staf pelatih maupun ofisial tim juga dapat dijatuhi sanksi apabila terbukti menghasut pemain untuk meninggalkan lapangan.

Aturan pergantian pemain pun diperketat. Pemain yang ditarik keluar hanya memiliki waktu 10 detik untuk meninggalkan lapangan setelah papan pergantian pemain diangkat. Apabila tidak dipatuhi, timnya berpotensi bermain dengan jumlah pemain yang berkurang untuk sementara waktu hingga prosedur pergantian selesai sesuai aturan.

Untuk mengurangi praktik membuang waktu, wasit akan menggunakan hitungan mundur lima detik pada situasi lemparan ke dalam dan tendangan sudut. Jika tim yang berhak melakukan lemparan ke dalam gagal memainkan bola sebelum waktu habis, hak penguasaan bola akan diberikan kepada lawan.

Demikian pula dalam situasi bola mati lainnya. Jika bola tidak dimainkan dalam batas waktu yang ditentukan, tim lawan akan memperoleh hak melanjutkan permainan sesuai jenis pelanggaran yang terjadi.

Perubahan juga berlaku bagi pemain yang mengalami cedera. Pemain yang mendapatkan perawatan medis harus berada di luar lapangan setidaknya selama satu menit sebelum diizinkan kembali bermain. Namun, aturan ini tidak berlaku dalam kondisi tertentu, seperti cedera penjaga gawang, benturan keras, cedera kepala, dugaan gegar otak, maupun cedera pemain saat mengambil penalti.

FIFA juga berupaya mengurangi praktik memanfaatkan cedera untuk menghambat tempo pertandingan atau menggelar instruksi taktis di tengah permainan. Melalui aturan baru ini, penyelenggara berharap pertandingan dapat berlangsung lebih lancar dan sportif.

Aturan baru yang akan diberlakukan juga terkait jeda antara babak. Jeda turun minum di antara babak dalam semua pertandingan Piala Dunia 2026 berlangsung selama tiga menit, terlepas dari kondisi cuaca atau suhu. Wasit akan menghentikan pertandingan pada menit ke-22 setiap babak untuk memungkinkan pemain meninggalkan lapangan untuk minum air. Langkah ini bertujuan untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan para pemain selama turnamen.

Penerapan teknologi yang semakin canggih serta aturan yang lebih rinci pada Piala Dunia 2026 memunculkan pertanyaan yang selalu relevan: apakah setiap pertandingan akan benar-benar berlangsung adil? Jawabannya mungkin berbeda bagi setiap orang. Namun satu hal yang pasti, kombinasi antara teknologi modern dan penyempurnaan regulasi telah memperbesar peluang terciptanya pertandingan yang lebih adil.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Piala Dunia yang lebih adil dengan sentuhan kecerdasan buatan



Oleh
Editor: Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026