Logo Header Antaranews Kuala Lumpur

Malaysia berharap Amerika, Iran capai kesepakatan demi perdamaian

Rabu, 24 Juni 2026 11:27 WIB
Image Print
Arsip Foto - Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengawal pertanyaan anggota parlemen di Dewan Rakyat, Kuala Lumpur, Rabu (10/7/2024). ANTARA/Virna P Setyorini/am.

Kuala Lumpur (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan berharap perundingan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan demi terciptanya perdamaian dan stabilitas di Asia Barat.

"Malaysia berharap agar perundingan yang sedang berlangsung di Swiss dapat mencapai kesepakatan demi perdamaian dan stabilitas di Asia Barat. Hal ini penting karena Malaysia dan negara-negara lain bergantung pada kawasan tersebut untuk memperoleh pasokan bahan mentah, termasuk pupuk, minyak, dan gas alam cair (LNG)," jelas Hasan di parlemen Malaysia, Selasa.

Dia menekankan dunia masih bergantung pada pasokan minyak mentah, dan bagi Malaysia, sebagian besar minyak mentah untuk diproses diimpor dari kawasan Teluk.

Ketika krisis terjadi akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Iran juga melakukan serangan balasan.

Salah satu dampak buruk pada awal konflik menurutnya adalah penutupan jalur perdagangan pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran.

"Jalur tersebut merupakan rute strategis yang menangani seperlima pasokan minyak mentah global. Malaysia masih mengimpor pasokan dari kawasan tersebut, meskipun kita memiliki pasokan minyak dan diesel sendiri. Ketergantungan terhadap pasokan tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak dan diesel di seluruh dunia, termasuk di Malaysia," jelas dia.

Malaysia bersyukur karena Amerika dan Iran sepakat menandatangani sebuah memorandum kesepahaman yang memuat 14 syarat, yang sebelumnya tidak disetujui oleh Amerika Serikat maupun Iran.

Di antara syarat yang diajukan Amerika Serikat adalah Iran harus menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium, yang menurut Iran tidak ditujukan untuk keperluan persenjataan.

Dia menyampaikan bahwa Iran telah mematuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh badan-badan internasional, yang telah mengonfirmasi bahwa negara tersebut tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium hingga tingkat yang memungkinkan pembuatan senjata nuklir.

Pada perkembangannya, Amerika Serikat dan Iran telah sepakat untuk terlebih dahulu menandatangani nota kesepahaman (MoU), di mana kedua pihak saat ini sedang berunding dan akan memfinalisasi perjanjian akhir dalam jangka waktu maksimal 60 hari.

Di antara isi kesepakatan tersebut adalah pembangunan kembali dan pengembangan ekonomi Iran senilai sedikitnya 300 miliar dolar AS, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penarikan penuh pasukan Amerika Serikat.

Sementara Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa penarikan penuh pasukan Amerika Serikat merupakan dasar untuk mencapai kesepakatan, karena Iran tidak lagi mempercayai gencatan senjata.



Pewarta :
Editor: Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026