Logo Header Antaranews Kuala Lumpur

Di Pasar Siti Khadijah, Kelantan terasa dekat dengan Indonesia

Rabu, 1 Juli 2026 01:42 WIB
Image Print
Penjual kue basah menjajakan dagangannya di Pasar Siti Khadijah Kota Bharu, Kelantan, Kamis (25/6/2026). (ANTARA/ZUBI MAHROFI)

Jakarta (ANTARA) - Ada sebuah peribahasa Melayu yang berbunyi, "Tak kenal maka tak cinta." Barangkali, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan pengalaman pertama menginjakkan kaki di Kelantan, negara bagian di pantai timur Malaysia yang kerap luput dari radar wisatawan Indonesia.

Bagi banyak orang, Malaysia identik dengan Kuala Lumpur, Melaka, atau Penang. Namun, Kelantan menawarkan pengalaman yang berbeda. Di sini, nuansa Melayu terasa begitu kental, mulai dari bahasa, budaya, kuliner, hingga keramahan masyarakatnya

Kini perjalanan menuju Kelantan semakin mudah. Jika dahulu pelancong dari Indonesia harus transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur, kini AirAsia menyediakan penerbangan langsung menuju Kota Bharu, ibu kota Kelantan.

Begitu roda pesawat menyentuh landasan, suasana yang terasa bukanlah hiruk pikuk kota metropolitan, melainkan kehangatan sebuah daerah yang masih memegang erat tradisi dan budaya.

Jika ada satu tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Kota Bharu, maka jawabannya adalah Pasar Siti Khadijah.

Terletak di pusat Kota Bharu, Pasar Siti Khadijah bukan sekadar pasar tradisional. Ia adalah denyut nadi kehidupan masyarakat Kelantan, kuliner, dan keramahan bertemu dalam satu ruang yang sama.

Dari luar, bangunan pasar berbentuk segi delapan ini tampak seperti pasar modern pada umumnya. Namun, begitu melangkah masuk, pengunjung akan disambut oleh ledakan warna, aroma rempah-rempah, suara tawar-menawar, serta senyum ramah para pedagang yang sebagian besar adalah perempuan.

Pasar ini memang dinamai Siti Khadijah, merujuk pada istri Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai seorang saudagar sukses. Nama tersebut dipilih sebagai penghormatan terhadap dominasi perempuan dalam aktivitas perdagangan di pasar ini.

Berkeliling di Pasar Siti Khadijah seperti berjalan menembus lapisan kehidupan masyarakat Kelantan.

Di lantai dasar, pengunjung akan menemukan berbagai bahan pangan segar. Ikan, ayam, daging, sayur-sayuran, rempah-rempah, hingga aneka hasil laut tersusun rapi di lapak-lapak pedagang.

Aroma jahe, kunyit, cabai, dan berbagai bumbu khas Melayu bercampur menjadi satu, menciptakan pengalaman yang memanjakan indera penciuman.

Naik ke lantai berikutnya, suasana berubah menjadi surga bagi pecinta makanan tradisional. Berbagai kudapan khas Kelantan tersaji berderet. Ada kerupuk ikan, serunding daging dan ayam, aneka kue tradisional Melayu, hingga makanan siap santap yang menggoda selera.

Di salah satu sudut, seorang pedagang dengan ramah menawarkan potongan camilan kepada pengunjung.

"Dari Indonesia? Coba ini dulu," katanya sambil menyodorkan sepotong kudapan tradisional tanpa meminta bayaran.

Keramahan

Keramahan seperti itu bukanlah hal yang langka di Pasar Siti Khadijah. Salah satu pemengaruh asal Sukabumi, Indonesia, Ibrahim Halil (25) mengaku merasa seperti berada di kampung halaman sendiri.

Apalagi, Bahasa Melayu yang digunakan mudah dipahami, wajah-wajah ramah menyapa tanpa canggung, sementara beberapa jenis jajanan bahkan mengingatkan pada suasana pasar tradisional di Indonesia.

Sebagian camilan yang dijual di sini bahkan terasa akrab di lidah masyarakat Indonesia. Ada kerupuk ikan, dodol, aneka kue basah, hingga jajanan manis yang sekilas mengingatkan pada suasana pasar tradisional seperti di Pasar Senen Jakarta atau pasar-pasar tradisional di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Namun, tentu saja ada beberapa kuliner yang tak boleh dilewatkan saat berada di sini.

Nasi kerabu menjadi salah satu yang paling terkenal. Hidangan khas Kelantan ini disajikan dengan nasi berwarna kebiruan yang berasal dari bunga telang, ditemani ayam goreng, sambal, kerupuk, dan aneka sayuran segar. Selain itu, ada nasi dagang yang menjadi favorit masyarakat setempat.

Bagi pencinta kerajinan, lantai atas Pasar Siti Khadijah menawarkan pengalaman berbeda. Di sini, pengunjung dapat menemukan berbagai produk tekstil khas Kelantan, mulai dari kain batik, hingga kerajinan tangan tradisional. Motif-motif yang ditawarkan mencerminkan kekayaan budaya Melayu yang masih terjaga hingga kini.

Suasana di pasar Siti Khadijah Kota Bharu, Kelantan, Kamis (25/6/2026) (ANTARA/ZUBI MAHROFI)

Suasana istimewa

Yang membuat Pasar Siti Khadijah istimewa bukan hanya barang yang dijual, melainkan suasananya. Tidak ada kesan terburu-buru seperti di kota besar.

Pedagang dan pembeli bercakap santai, sesekali diselingi tawa. Bahkan ketika pasar ramai, suasananya tetap terasa hangat dan bersahabat.

Direktur Divisi Pariwisata dan Kebudayaan Negeri Kelantan Mohd Azwan bin Ab Rahman, Jumat (26/6), mengatakan bahwa keramahtamahan merupakan salah satu identitas utama masyarakat Kelantan yang terus dipertahankan hingga sekarang.

"Kelantan terkenal bukan hanya karena makanan dan budayanya, tetapi juga karena masyarakatnya yang ramah. Kami ingin setiap wisatawan yang datang merasa seperti sedang berkunjung ke rumah keluarga sendiri," ujarnya.

Menurut dia, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal menjadi daya tarik yang tidak bisa digantikan oleh destinasi wisata modern mana pun.

Tak heran jika banyak pelancong yang datang ke Kota Bharu memilih menghabiskan waktu berjam-jam di Pasar Siti Khadijah. Sebab, pasar ini bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan ruang untuk merasakan denyut kehidupan masyarakat Kelantan yang sesungguhnya.

Bagi wisatawan yang ingin menginap, Kota Bharu memiliki banyak pilihan akomodasi, mulai dari hotel berbintang hingga penginapan ramah kantong. Salah satu yang populer adalah Hotel Renai Kota Bharu, yang lokasinya relatif dekat dengan berbagai destinasi utama di pusat kota.

Pada akhirnya, berkunjung ke Pasar Siti Khadijah bukanlah tentang berapa banyak barang yang dibeli atau berapa banyak foto yang diambil. Ini adalah tentang pengalaman merasakan sebuah tempat yang masih menjaga tradisi, keramahan, dan identitas budayanya.

Ketika meninggalkan pasar itu, membawa sekantong kerupuk, beberapa lembar kain batik, serta kenangan akan keramahan para pedagangnya, satu hal menjadi jelas bahwa di Pasar Siti Khadijah terasa Kelantan, Malaysia, begitu dekat dengan Indonesia.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Di Pasar Siti Khadijah, Kelantan terasa dekat dengan Indonesia



Oleh
Editor: Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026