
Korea Utara kecam kerja sama pertahanan Jepang-Korea Selatan

Tokyo (ANTARA) - Pemerintah Korea Utara mengkritisi kerja sama pertahanan antara Jepang dan Korea Selatan dengan menyebutnya sebagai "tindakan yang dapat menyebabkan kehancuran" dan membahayakan stabilitas keamanan di Semenanjung Korea.
Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) pada Kamis melaporkan bahwa kritik tersebut disampaikan dalam komentar yang diterbitkan Institut Studi Negara Musuh pada Rabu.
Lembaga itu memperingatkan rencana penandatanganan Acquisition and Cross-Servicing Agreement (ACSA) antara Tokyo dan Seoul.
Menurut lembaga tersebut, perjanjian itu akan menjadi "tahap akhir pembentukan aliansi militer" antara kedua negara.
ACSA merupakan perjanjian yang mempermudah pertukaran dukungan logistik, seperti makanan, bahan bakar, dan amunisi, antara angkatan bersenjata dua negara sehingga mempererat kerja sama pertahanan.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebelumnya menyebut perjanjian tersebut sebagai kebutuhan praktis.
Lee mengakui masih ada sentimen publik di Korea Selatan terkait sejarah Jepang pada perang masa lalu.
Dalam komentarnya, Korea Utara juga menyinggung sejumlah bentuk kerja sama pertahanan kedua negara, di antaranya adalah dukungan pengisian bahan bakar oleh Pasukan Bela Diri Udara Jepang kepada pesawat militer Korea Selatan saat berkunjung ke Jepang pada Januari, serta latihan gabungan pencarian dan penyelamatan (SAR) yang digelar pada Juni.
Korea Utara menilai hubungan pertahanan yang semakin erat antara Jepang dan Korea Selatan merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama trilateral bersama Amerika Serikat.
"Tidak akan pernah ada perubahan terhadap struktur pertahanan mutlak tanpa mundur yang dibangun di Semenanjung Korea oleh negara pemilik senjata nuklir terkuat," demikian komentar dari lembaga tersebut.
Sumber: Kyodo
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Korea Utara kritisi kerja sama pertahanan Jepang-Korea Selatan
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor:
Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
