Malaysia kirim bahan bakar sawit ke Jepang

id Bahan Bakar Sawit,Afjets Properti

Malaysia kirim bahan bakar sawit ke Jepang

CEO Afjets Properti Sdn Bhd, Amrul Nizar Anuar mengemukakan hal itu usai melakukan penandatangan kerjasama dengan Presiden Hyosung, Toshiyuki Hasegawa dan CEO Tocoo Corporation, Kazuya Nakamura di Hotel Istana Kuala Lumpur, Selasa.  (1)

"Bahan mentah diambil dari perusahaan-perusahaan sawit Malaysia. Juga akan mengambil dari negara tetangga seperti Indonesia dan Thailand," katanya.
Kuala Lumpur (ANTARA) - Perusahaan Malaysia Afjets Properti Sdn Bhd bakal mengirim bahan bakar untuk power plant dari minyak sawit ke Jepang, Korea Selatan dan Italia sebanyak 100 ribu ton hingga tiga juta ton pada 2020 mendatang.

CEO Afjets Properti Sdn Bhd, Amrul Nizar Anuar mengemukakan hal itu usai melakukan penandatangan kerjasama dengan Presiden Hyosung, Toshiyuki Hasegawa dan CEO Tocoo Corporation, Kazuya Nakamura di Hotel Istana Kuala Lumpur, Rabu. 

"Penandatanganan MoU untuk langkah permulaan selanjutnya akan menandatangani kontrak untuk power plant di Jepang Korea Selatan dan Italia," katanya.

Amrul berharap melalui kerjasama tersebut bisa memajukan perusahaan sawit, meningkatkan kesejahteraan lingkungan dan bisa melangkah untuk dunia yang lebih baik.

"Pengiriman bahan bakar minyak sawit ini baru pertama kali dilakukan karena untuk mengenalkan minyak sawit dalam bidang energi listrik bukan perkara yang mudah. Untuk sawit yang baik bagi lingkungan di Jepang diperlukan 100 persen 'liquid biomass'," katanya.

Dia mengatakan memerlukan waktu dua tahun untuk pendidikan dan menghasilkan bahan api yang terbaik.

"Yang lebih penting lagi ada adalah 'sustainability' sekurang-kurangnya 20 tahun setelah 2020," katanya.

Amrul mengatakan penggunaan energi bahan bakar sawit sendiri di Jepang baru tahap uji coba.

"Baru percobaan tahun depan akan lebih aktif dan komersial," pria yang pernah belajar di Jepang tersebut.

Untuk nilai transaksi dari penandatanganan tersebut, dia mengatakan untuk 20 tahun pada permulaan kontrak 2 miliar dollar Amerika Serikat sedangkan untuk semua power plant sebanyak 20 miliar dollar Amerika Serikat.

"Bahan mentah diambil dari perusahaan-perusahaan sawit Malaysia. Juga akan mengambil dari negara tetangga seperti Indonesia dan Thailand," katanya.

Dia mengatakan setelah pengiriman bahan bakar minyak sawit ke Jepang baru dilanjutkan ke Korea Selatan dan Italia.

"Mereka negara yang peduli dengan lingkungan, bagi mereka terbaik, bagi saya masih ada ruang untuk memperbaiki," katanya.

Tentang rencana pengambilan bahan mentah minyak sawit dari Indonesia, dia mengatakan dirinya sudah berbicara dengan perusahaan-perusahaan sawit kecil di Kalimantan.

"Kami mengumumkan kalau ada perusahaan sawit besar Indonesia yang ingin bekerjasama dengan perusahaan kami," katanya.

Amrul mengatakan bahan bakar minyak sawit tersebut menggunakan teknologi yang dihasilkan oleh perusahaannya sendiri di Perak dan Kuantan Pahang.

"Kami ada refinery tetapi ada proses lain untuk pembuatan bahan bakar sawit yang akan dimulai tahun depan," katanya.

Dia mengatakan pihaknya juga sudah bekerjasama dengan pemerintah tetapi yang diiutamakan perusahaan-perusahaan sawit dari BUMN atau Government Link Company (GLC).