Membangun MRT fase 2, merekam keberlanjutan lingkungan dan budaya

id MRT,fase 2,jakarta,transportasi ibu kota

Penumpang menaiki kereta MRT di Stasiun Bunderan HI, Jakarta, Sabtu (6/6/2020). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Membangun peradaban yang maju menjadi kebutuhan manusia yang tidak dapat dihindarkan. Pesatnya laju pembangunan Ibu Kota memaksa tiap sudut kota untuk berbenah, beradaptasi serta menyesuaikan tingkat guna sarat penduduk.

Satu hal yang tidak boleh luput adalah transportasi publik, yang kian dibutuhkan untuk memberikan ruang lebih dan nafas bagi tata kota yang beretika.

Moda Raya Terpadu (MRT) menjadi simbol dari sebuah capaian peradaban kota. Kini pada tahun 2020, Jakarta memulai pembangunan jalur fase 2.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menjelaskan bahwa pada fase 2A, jalur akan berada sepanjang lajur Bundaran HI hingga Kota dengan nilai investasi sebesar Rp22,5 triliun.

Bukan perkara nominal saja yang harus diperhatikan dalam pembangunan jalur transportasi modern tersebut. Namun, jalur strategis di jantung Ibu Kota membuat lajur infrastruktur harus melalui titik utama bangunan hijau dan bersejarah.

Sebut saja jalan protokol MH Thamrin yang lekat dengan jalur Ring 1 menuju Istana dengan tingkat lalu lintas yang padat. Hal tersebut haruslah direkayasa serta sebisa mungkin meminimalkan dampak kemacetan yang terjadi akibat konstruksi.
Baca juga: MRT Fase II, melanjutkan nadi lajur Jakarta

Di antara kendala yang ada, merawat paru-paru kota yang melalui Monumen Nasional (Monas) adalah tantangan tersendiri bagi proses konstruksi.

PT MRT Jakarta berkomitmen bahwa pembangunan fase 2 tidak boleh nantinya mengurangi jalur hijau yang sudah ada.

Sebab, visi utama dari MRT sendiri adalah mengurangi emisi karbon sebesar 2,77 juta ton karbondioksida per tahun.

Kemudian, dari total target penurunan emisi sebesar 26 persen dalam bidang energi dan transportasi Indonesia, MRT ditargetkan untuk berandil sebesar 3,8 persen.

Untuk mengatasi hal tersebut, MRT memberikan perlakukan khusus bagi para pohon-pohon hijau yang terdampak pembangunan. Di antaranya adalah merelokasi atau bahkan menanam kembali pepohonan yang berada pada jalur pembangunan.
Baca juga: Simak rekayasa lalulintas di Jalan MH Thamrin imbas MRT fase 2

Jalur MRT fase 2A melalui Thamrin dan Monas, sehingga harus ada penanganan khusus terhadap pohon dan cagar budaya yang terdampak. ANTARA/Afut Syafril

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim merinci, sebanyak 430 pohon di area Monas akan diganti sementara sebanyak 150 pohon lainnya akan direlokasi. Lalu 171 pohon di area Thamrin bakal diganti dan 64 pohon bakal direlokasi.

Selain itu, ada 52 pohon di Jalan Museum yang juga terdampak, sehingga bila ditotalkan ada 867 pohon yang terdampak. Acuan penanaman kembali adalah Keputusan Gubernur Nomor 792 Tahun 1997.

Strategi dalam relokasi adalah pertama tim akan mengidentifikasi dari jumlah pohon, jenis, diameter dan kondisi pohon yang terdampak.

Selanjutnya, tim akan meminta persetujuan dan perizinan oleh PTSP dengan rekomendasi dari Dinas Pertamanan dan Kehutanan DKI. Setelah itu barulah akan ada sosialisasi kepada masyarakat bahwa pembangunan jalur MRT Fase 2A memiliki pertanggungjawaban atas lingkungan hijau.

Bagi pohon besar yang sudah dalam keadaan tidak sehat, maka akan digantikan pohon baru yang memiliki diameter sama dan jenisnya dari pohon sebelumnya.

Sesuai Rekomendasi Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, penempatan kayu pohon yang diganti ditempatkan di TPK (Tempat Penimbunan Kayu) Pondok Pinang Jakarta Selatan milik Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta.

Total anggaran untuk relokasi dan penanaman kembali pohon-pohon tersebut sebesar Rp5 miliar. Dengan begitu, paru-paru kota tidak akan terdampak dari adanya pembangunan MRT Fase 2, menurut Silvia.
Baca juga: Pengusulan lahan Depo MRT Ancol Barat sebagai syarat pinjaman JICA

Mengingat potensi ditemukan berbagai artefak dalam proses penggalian jalur MRT Fase 2, maka dilibatkan tim arkeolog, agar bila ditemukan benda peninggalan sejarah selama penggalian dapat diidentifikasi dengan mudah.

Tim arkeolog memiliki waktu sebanyak 21 hari untuk memberikan rekomendasi apakah penggalian konstruksi bisa dilanjutkan kembali atau mengubah desain yang ada sebab adanya penemuan artefak yang lebih berharga dari segi nilai sejarah dan budaya.

Pekerjaan tersebut akan dilakukan oleh ahli-ahli arkeologi, arsitektur, dokumentasi, penggambaran, pemetaan, analisis temuan, pemugaran, dan konservasi yang kompeten di bidangnya guna memaksimalkan hasil.

Selain itu, Tugu Jam Thamrin akan dilakukan relokasi untuk dalam proses pembangunan. Berdasarkan hasil pengamatan visual, struktur Tugu Jam saat ini dalam kondisi yang kurang baik. Sebagai bentuk upaya pelestarian cagar budaya, saat pelaksanaan konstruksi MRT Jakarta fase 2, Tugu Jam akan di relokasi dan akan dikembalikan kembali dengan kondisi yang lebih baik.

Tugu Jam Thamrin merupakan bangunan cagar budaya yang dibangun pada tahun 1969 dan merupakan menara jam yang pertama dibangun oleh Pemerintah DKI Jakarta.

Untuk stasiun Monas, Pembangunan Entrance-1 Stasiun Monas menggunakan metode box jacking untuk menjaga lalu lintas di Jl. Medan Merdeka Barat tetap berlangsung normal. Namun, Jalan Museum akan ditutup sementara karena akan digunakan sebagai area kerja.

Masih pada kemasan stasiun Monas, pagar untuk area konstruksi pada area Monas akan menggunakan konsep hijau untuk menyamarkan area konstruksi dengan Taman Monas dan tetap memberikan kesan teduh serta nyaman untuk publik.

Proyek fase 2A MRT sendiri akan dimulai dengan rute dari Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Kota dengan total panjang jalur enam kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah yaitu Stasiun Thamrin, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok dan Stasiun Kota.

Baca juga: Pembebasan lahan Depo MRT di Ancol akan mulai dilakukan tahun 2021


Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar