Surabaya terapkan sistem pendeteksi teroris

id teroris,teroris surabaya,risma ,deteksi teroris,bom surabaya,peledak

Dokumentasi personel Polda Jawa Timur berjaga di lokasi penggeledahan rumah terduga teroris di kawasan Sikatan, Manukan Wetan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/5/2018). (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Surabaya (ANTARA News) - Pemerintah Kota Surabaya menerapkan sistem yang dapat mendeteksi kegiatan terorisme bagi setiap warga pendatang yang menetap secara musiman dengan cara menyewa atau mengontrak rumah di perkampungan.

"Sistem pendeteksi ini mulai diterapkan besok," ujar Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, usai meninjau rumah sewa terduga teroris bernama Dedi Sulistiantono alias Teguh di Jalan Sikatan IV, Kelurahan Manukan Wetan, Kecamatan Tandes, Surabaya, Selasa malam (14/5).

Terduga teroris berusia 41 tahun itu ditembak mati polisi karena melawan saat hendak ditangkap sekitar pukul 17.00 WIB, kemarin.

Polisi menggeledah rumah sewa Dedi hingga Rabu dini hari. Polisi juga meledakkan bom rakitan yang ditemukan di dalam rumah sewa itu.

Risma menjelaskan, Dedi tinggal di rumah sewa itu bersama seorang istri dan tiga anaknya yang masih kecil, yang tadi malam juga telah ditahan polisi.

"Dedi ini orang Surabaya. Dia adik kandung terduga teroris yang meledakkan diri di Rusunawa Wonocolo, Sepanjang, Sidoarjo. Tapi yang soal kegiatan terorisnya ini biar polisi yag menjelaskan," katanya.

Risma memastikan, dari beberapa pengalaman terduga teroris kerap bersembunyi dan beraktivitas di rumah sewa atau kontrakan, mulai besok akan diterapkan sistem yang dapat mendeteksi kegiatan mereka.

"Kami punya alat untuk mendeteksinya. Kami juga telah punya sistem dan peraturan daerah yang mengatur tentang warga pendatang," ucapnya.

Sistem dengan alat untuk mendeteksi kegiatan warga pendatang ini, lanjut dia, akan segera disosialisasikan ke setiap ketua RT dan RW di seluruh wilayah Surabaya. "Jika ada aktivitas yang mencurigakan biar langsung kami tangani," ujarnya.

Pewarta : Slamet Sudarmojo
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar