Willy: nasionalisme kaum muda tak berkurang

id kaum muda,nasionalisme

Peluncuran Buku Willy Aditya pengarang buku "Indonesia di Jalan Restorasi" memerlihatkan bukunya di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Bandung, Jabar, Kamis (17/10). "Indonesia di Jalan Restorasi" merupakan cara pandang seorang Surya Paloh terhadap kondisi Indonesia. (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)

Jakarta (ANTARA News) - Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya berpendapat semangat nasionalisme di kalangan kaum muda jaman 'now' masih cukup tinggi, bahkan sama sekali tidak luntur atau berkurang.

"Yang berkurang adalah monumen-monumennya. Terhadap narasi politik kebangsaan mungkin kurang, tapi dalam narasi kebanggaan nasional, semangat itu masih sangat kuat," kata Willy kepada Antara, di Jakarta, Jumat. 

Politisi muda partai besutan Surya Paloh itu pun tidak setuju bila semangat nasionalisme kaum muda disebut sudah luntur. 

"Buktinya kalau timnas bermain, seluruh bangsa ini, terutaman anak mudanya, begitu besar gairahnya mendukung timnas. Satu stadion penuh oleh mereka demi mendukung timnas. Jersey timnas juga banyak terjual. Saat Muhamad Zohri menjadi juara dunia, kurang bangga apa bangsa ini terhadapnya," tuturnya.   

Menurut dia, manifestasi di jaman dulu dengan jaman sekarang berbeda, bukan semangat nasionalismenya. 

"Mungkin dulu gelora nasionalisme itu berupa perjuangan politik atau perlawanan terhadap penjajah, perlawanan terhadap otorianisme. Namun sekarang ekspresinya berbeda. Jadi nasionalisme di kalangan kaum muda saat ini sama sekali tidak luntur atau berkurang," kata Willy. 

Willy mengatakan, setiap generasi memiliki semangat dan interpretasi sendiri terhadap nilai-nilai yang dimiliki sebuah bangsa. 

"Itu terjadi sesuai dengan kondisi jaman. Di jaman pergerakan kemerdekaan nasionalisme tentunya bisa dilihat bagaimana para pemuda turut serta dalam perjuangan melawan kolonialisme. Setelah merdeka nasionalisme bisa jadi bagaimana pemuda aktif dalam proses pembangunan," katanya. 

Namun, sekarang ini tentu berbeda, dengan revolusi industri 4.0. Dimana teknologi informasi sangat pesat, kecintaan terhadap negara dan bangsa juga harus bisa dilihat dalam perspektif itu. 

"Nasionalisme bisa dengan memperbanyak bahan bacaan positif digital yang bisa diakses siapapun. Melawan hoaks juga bentuk nasionalisme, karena hoaks dapat merusak kehidupan sosial dan bangsa," katanya.

Selain itu bisa juga dengan mendirikan "e-commers" untuk bersaing dengan kompetitor dari negara lain.

Nasionalisme Indonesia berdiri di atas semangat sosio nasionalisme yang berbasis pada kecintaan tanah air yang merawat ikat keberagaman dan menjunjung tinggi perbedaan sebagai takdir sejarah dari kelahiran Indonesia itu sendiri. 

Basis yang kedua adalah semangat nasionalisme yang kosmopolitan dimana dalam pergaulan internasional, kita menjadi pelopor hubungan yang setara antar negara bangsa dan tidak secara aktif menjaga perdamaian dunia, katanya. 

Oleh karena itu, lanjut dia, yang dibutuhkan dan harus diwujudkan oleh pemerintah bagi kaum muda saat ini adalah sebanyak mungkin membuka ruang "kompetisi keluar". 

Selain olahraga, pemimpin nasional harus mampu membuka ruang-ruang lain, baik itu politik luar negerinya atau seni kebudayaannya. 

"Joe Taslim dan Iko Uwais bisa jadi contoh di bidang seni pertunjukan karena kemampuan mereka tembus di Hollywood. Tapi, itu belum cukup, karena identitas Indonesia sebagai bangsa belum cukup eksis sebagaimana Tiongkok dan India," ujarnya. 

Hal itu, kata Willy, sangat penting agar tumbuh kebanggaan nasional yang lebih besar dan kuat lagi di kalangan anak muda. 

"Mereka pun bisa berkata dalam hatinya bahwa ternyata bangsa ini adalah bangsa yang besar. Agar kita sebagai anak bangsa juga tersalurkan energinya kepada hal yang positif dan lebih produktif, bukan malah berantem antara sesama. Apalagi, di rumah sendiri karena isu-isu kerdil, isu-isu yg membodohkan sepertin isu SARA dan sama sekali tidak mencerdaskan kehidupan bangsa ini," tegasnya.

Baca juga: Ulama: Patriotisme Harus Ditanamkan Pada Kaum Muda
 

Pewarta : Syaiful Hakim
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar