Upaya membebaskan desa di Sulteng dari 'kegelapan'

id listrik ,gempa palu,sulteng

Panel listrik tenaga surya terpasang di salah satu tenda pengungsian korban gempa di Desa Lolu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (4/11/2018). Sebagian pengungsi di tempat tersebut memanfaatkan listrik bertenaga surya sebagai sumber listrik mereka saat berada di pengungsian. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/foc. (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/foc.
)

Palu (ANTARA News) - Sejumlah tiang dan kabel listrik yang roboh dan putus akibat gempabumi 7,4 SR yang mengguncang tiga wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah masih terlihat di beberapa ruas jalan di Kabupaten Sigi.

Kabupaten Sigi merupakan wilayah terdampak parah bencana alam, karena selain gempa bumi, juga disertai likuifaksi dan banjir bandang.

Akibat bencana ada banyak infranstruktur, termasuk listrik yang porak-poranda sehingga PLN harus bekerja keras memperbaiki kembali agar masyarakat bisa lagi mendapat pasokan daya untuk menerangi rumah dan juga kebutuhan usaha dan lainnya.

Tiga hari setelah bencana melanda Palu, Sigi dan Donggala, relawan PLN dari berbagai kota di Tanah Air langsung berdatangan ke Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng untuk melaksanakan pekerjaan pemulihan listrik.

Setibanya di Kota Palu, para relawan yang tergabung dalam tim pemulihan listrik bencana alam di Palu,Sigi dan Donggala (Pasigala) langsung mendirikan tenda-tenda untuk menunjang kegiatan mereka dipusatkan di halaman Kantor PT PLN Area Palu terletak di kawasan jalan RA Kartini, Kecamatan Palu Selatan.

Dan hampir dua bulan para relawan PLN harus bekerja keras sepanjang hari membangun kembali tiang listrik dan jaringan yang roboh dan putus karena diterjang bencana alam dasyat tersebut.

Mereka rela tinggalkan keluarga, istri dan anak demi kegiatan kemanusiaan membantu masyarakat di Pasigala yang ditimpa gempa, tsunami, likuifaksi dan banjir bandang agar segera mendapatkan penerangan listrik.

Tiang dan jaringan listrik banyak yang roboh, hancur dan putus sehingga harus dibangun kembali dengan biaya yang tidak sedikit.

Padahal, pemerintah berharap pada 2019 tidak ada lagi desa di Provinsi Sulteng yang belum menikmati penerangan listrik dari PLN.

Optimistis 

Manager PT PLN Area Palu, Abbas Saleh mengatakan sekalipun beberapa daerah di Sulteng dirundung bencana alam baik gempabumi, tsunami, likuifaksi dan menyusul banjir bandang di Kabupaten Sigi, ada banyak infranstruktur listrik yang rusak dan harus diperbaiki kembali, namun tetap optimistis target 2919, semua desa sudah terjangkau listrik nicaya tercapai.

Ia mengatakan sudah menjadi kewajiban dari BUMN tersebut untuk menyediakan listrik di seluruh wilayah Tanah Air, termasuk di Sulteng yang masih banyak desa belum terang.

Selain membangun dan memperbaiki jaringan listrik yang rusak akibat bencana alam, PLN juga terus mengembangkan pembangunan kelistrikan desa (lisdes).

Pembangunan lisdes setiap tahun di Sulteng bertambah dan 2019 ditargetkan pemerintah dan PLN bahwa tidak ada lagi satupun desa yang belum berlistrik.

"Kami berusaha dengan segala kemampuan yang ada agar masyarakat di seluruh wilayah Sulteng pada malam hari tidak lagi gelap gulita," kata dia.

Ia mengaku paling banyak desa di Sulteng yang belum terlistriki hingga saat ini ada di Kabupaten Sigi dan Donggala. Dua kabupaten di Sulteng itu paling banyak desa belum ada listrik.

Karena itu, PLN gencar melakukan program pembangunan lisdes di dua kabupaten di Provinsi Sulteng itu dan sekarang ini seperti di Kecamatan Lindu, salah satunya di kecamatan di Kabupaten Sigi yang belum terjangkau listrik sedang dibangun/dipasang tiang listrik.

Sebenarnya, pada 2018 ini ditergetkan listrik di kecamatan itu sudah masuk, tetapi karena berbagai kendala, termasuk bencana alam sehingga wilayah itu belum juga menikmati penerangan listrik PLN.

Tiang-tiang listrik sudah dipasang, tinggal penarikan jaringan. Kendala lain adalah harus melewati kawasan hutan lindung sehingga perlu mendapat izin dari kementerian berwenang.

Seperti diketahui bahwa, Kecamatan Lindu terdiri atas lima desa yakni desa Puro'o, Langko, Tomado, Anca dan Kanawu/Olu. Semua desa di wilayah tersebut dikelilingi hutan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

Karena itu, pembangunan listrik di wilayah Lindu harus terlebih dahulu mendapat izin dari pihak-pihak yang berkompoten dalam hal ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Selain Lindu, juga Kecamatan Pipikoro. Kecamatan itu terletak di Kabupaten Sigi dan sampai sekarang ini belum terjangkau listrik PLN.

Selama ini masyarakat di Kecamatan Lindu maupun Pipikoro untuk kebutuhan listrik memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas yang sangat terbatas.

Padahal kedua wilayah Sigi itu memiliki banyak potensi ekonomi yang dapat meningkatkan sumber penghasilan masyarakat dan juga daerah.

Seperti di Kecamatan Lindu terdapat obyek wisata menarik dan banyak diminati wisatawan mancanegara yakni Danau Lindu dan berbagai jenis flora dan fauna yang endemik dan unik.

Begitu pula di Kecamatan Pipikoro dengan kebudayaan dan adat istiadat yang masih sangat kental dan terus dilestarikan secara turun-temurun menjadi salah satu obyek wisata yang selama ini banyak menarik kunjungan wisatawan.

Jika kedua wilayah ini sudah dijangkau listrik PLN,dipastikan akan semakin berkembang baik perekonomian masyarakat maupun akan tumbuh pula usah-usaha kecil mikro yang pada akhirnya juga akan mendatangkan pendapatan bagi daerah dan devisa negara dari sektor pariwisata.

Abbas juga mengatakan hingga kini masih ada sekitar 300 desa di Sulteng belum ada listrik PLN.

Tingkat rasio elektrifikasi kelistrikan desa di Provinsi Sulteng masih sektar 80 persen. "Jadi, masih 20 persen listrik desa yang belum terealisasi dan diharapkan pada 2019 sudah 100 persen terjangkau listrik," ujarnya.*

Baca juga: Listrik di Sulteng sudah normal

Baca juga: Kementerian ESDM sebut 1.910 gardu listrik Sulteng beroperasi


 

Pewarta : Anas Masa
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar