LIPI dorong penghitungan lahan pertanian hilang di Palu

id gempa palu,Pemulihan sulawesi tengah,lembaga ilmu pengetahuan Indonesia ,Bencana palu

Seorang petani memanen garam yang diproduksi untuk kebutuhan pupuk pertanian di Talise, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (9/1/2019). Kawasan yang porak-poranda akibat diterjang gempa dan gelombang tsunami pada 28 September 2018 itu kini kembali dimanfaatkan petani untuk memproduksi garam. Petani berharap pemerintah dapat memberikan bantuan peralatan bagi mereka agar produksi garam di tempat tersebut kembali maksimal. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/aww.


Jakarta  ( ANTARA News)  -  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendorong pentingnya penghitungan status lahan pertanian yang hilang di daerah terdampak bencana di Palu, Sigi dan Donggala di Sulawesi Tengah untuk pemulihan sumber penghidupan warga  sehingga dapat kembali ke kehidupan normal.

"Perlunya penentuan status lahan pertanian yang hilang serta besarnya kompensasi akibat bencana sehingga dapat dijadikan sebagai modal usaha bagi pemiliknya," kata peneliti Pusat Kependudukan LIPI Gusti Ayu Ketut Surtiari dalam Seminar Hasil Kajian Penanganan Pascabencana di Palu, Sigi, dan Donggala: Pemulihan untuk Tempat Tinggal dan Sumber Penghidupan di Kantor LIPI, Jakarta, Selasa. 

Dalam pemulihan sumber penghidupan, tim peneliti LIPI memetakan tiga sektor mata pencarian utama di Palu, Sigi dan Donggala yang terdampak bencana, yaitu pertanian, perdagangan dan perikanan laut. 

Untuk sektor kelautan, Gusti menuturkan pihaknya merekomendasikan adanya bantuan kepada nelayan tradisional berupa peralatan. 

"Juga sarana untuk menyimpan ikan agar tetap segar yang bisa digunakan oleh istri-istri nelayan untuk menjual ikan hasil tangkapan suaminya," ujarnya. 

Dia mengatakan warga mengalami kesulitan untuk membangun kembali kegiatan mata pencahariannya, di antaranya nelayan mengalami kerusakan alat tangkap ikan akibat bencana, serta petani menghadapi sejumlah masalah antara lain saluran irigasi rusak dan hilangnya lahan pertanian. 

Warga yang bergantung pada sektor pertanian dan yang terdampak bencana meliputi di antaranya pemilik lahan pertanian, buruh tani dan pengelola hasil pertanian atau pelaku usaha.

Sementara untuk sektor perdagangan, tim peneliti LIPI memberikan rekomendasi bahwa pentingnya bantuan modal dan tempat usaha untuk pedagang yang disesuaikan dengan kebutuhan jenis usaha dagang dan skala usahanya. 

"Juga penyediaan dan peningkatan akses informasi, modal, keterampilan, teknologi dan akses pasar yang lebih luas bagi penyintas serta pembimbingan dalam kegiatan usaha," tuturnya.

Baca juga: Dekranas siap gandeng Kemenkop bangkitkan UMKM Palu pasca-bencana
 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar