Dana penelitian rendah, Wapres JK: yang dibutuhkan riset terfokus

id Wapres Jusuf Kalla, JK,dana riset rendah,penelitian terfokus

Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jakarta, Selasa (19/2/2019). (Fransiska Ninditya)

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan perlu diadakan penelitian terfokus di bidang-bidang tertentu yang menjadi isu terkini, mengingat dana riset Indonesia tergolong rendah di bawah Singapura dan Malaysia.

"Ya benar, bahwa dari segi perbandingan mungkin kita memang lebih rendah karena begitu banyak kebutuhan nasional kita. Sebenarnya yang dibutuhkan ialah fokus, sekarang ini terlalu terbagi macam-macam, semua merasa penting," kata JK kepada wartawan di Kantor Wapres Jakarta, Selasa.

JK menjelaskan dengan riset terfokus tersebut maka berbagai persoalan terkini yang dihadapi Indonesia bisa diselesaikan secara bertahap.

"Katakanlah fokus riset tentang pangan. Nanti saya akan bicarakan lagi itu, fokusnya dulu, supaya tiap tahun ada yang dicapai dengan baik," tambahnya.

Selain pengembangan riset terfokus, Wapres juga mengatakan pemanfaatan penelitian yang belum optimal di berbagai institusi, baik lembaga pemerintah maupun swasta.

"Banyak yang bisa diperbaiki, bisa universitas atau lembaga riset memunculkan produk yang dapat diproduksi dengan baik. Atau perusahaan itu yang memulai (riset), kemudian dibantu oleh lembaga riset pemerintah," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan dana riset di Indonesia cukup besar nilainya yang mencapai Rp26 triliun. Presiden mengatakan dengan anggaran tersebut pihaknya menginginkan ada lembaga besar yang khusus mengurus penelitian dan pengembangan.

Sementara itu, berdasarkan laporan 2018 Global R&D Funding Forecast, dana riset Indonesia di 2016 sebesar 9,38 miliar dolar AS atau setara dengan 0,89 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Dalam laporan tersebut Indonesia berada di urutan ke-28, dalam hal pendanaan penelitian dan pengembangan, di bawah Singapura di peringkat 20 dan Malaysia di urutan ke-26.


Pewarta : Fransiska Ninditya
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar