Indonesia miliki industri bioteknologi pertama di Asia Tenggara

id Menkes, moeloek, evergen

Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek bersama Founder & CEO PT Evergen Resources Siswanto usai peresmian PT Evergen Resources yang merupakan industri bioteknologi berbasis mikroalga pertama di Asia Tenggara, di Kendal, Jawa Tengah, Kamis. (Foto: Nur Istibsaroh)

Kendal (ANTARA) - Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek meresmikan PT Evergen Resources yang merupakan industri bioteknologi berbasis mikroalga pertama di Asia Tenggara, di Kendal, Jawa Tengah, Kamis.

"Kami bangga ini ada di Indonesia. Ini (produk dari PT Evergen Resources,red) sangat diperlukan sebagai bahan dasar kosmetik dan suplemen," kata Nila di sela peresmian.

PT Evergen Resources mengembangkan budidaya mikroalga dan menghasilkan bahan aktif antioksidan Astaxanthin sebagai bahan baku pembuatan obat suplemen atau makanan dan produk kecantikan (berupa minyak dan powder).

Selama ini, kebutuhan bahan baku pada industri kosmetik dan makanan atau obat yang berbahan baku Astaxanthin masih dipenuhi melalui impor dari Jepang, China, dan India.

Nila mengakui pemerintah terus mendorong pengembangan industri farmasi dan kesehatan dan saat ini penerimaan dari obat-obatan mengalami peningkatan yakni Rp59,5 triliun di 2019 (tahun 2017 sebesar Rp5,3 triliun) dan selain obat-obatan banyak juga alat kesehatan yang diproduksi di Indonesia.

"Kita harus berkembang dan kenapa kita harus membeli produk kecantikan dari luar seperti dari Korea. Menurut saya kalau kita memakai produk ini (dalam negeri, red) akan lebih cakep dan cantik dari orang Korea. Perusahaan farmasi harus terus maju dengan memakai bahan baku obat dalam negeri," katanya.

Ia berharap PT Evergen Resources terus berinovasi menghasilkan bahan baku lain yang dapat digunakan untuk produk kesehatan baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun pasar ekspor.

"Janganlah berpuas diri, teruslah membuat inovasi yang banyak produk dan dapat diekspor ke mancanegara," katanya.

Founder & CEO PT Evergen Resources Siswanto mengakui dirinya membutuhkan waktu sampai lima tahun hingga mampu meraih skala komersial dengan produk 500 kilogram per bulan berupa bahan baku untuk kosmetik dan suplemen.

"Mulai dari pembibitan sampai tahap akhir, tidak ada yang impor. Untuk komersial, pasar domestik masih terus berkembang," katanya.

Terkait tahapan dari mulai pembibitan ganggang atau alga di laboratorium, masuk dalam green house, hingga tahap panen dibutuhkan waktu berkisar 34 hari.

Di seluruh tahapan tersebut harus diperhatikan dalam hal pengaturan temperatur hingga intensitas cahaya yang mengenai ganggang atau alga (jenis khusus).

Baca juga: BPPT libatkan masyarakat manfaatkan inovasi agroindustri
Baca juga: Unej hadirkan pakar hadapi kekurangan pangan melalui bioteknologi

 

Pewarta : Mahmudah/ Nur Istibsaroh
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar