Kuala Lumpur (ANTARA) - Pemerintah Malaysia pada Senin mengatakan pihaknya akan menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin ekonomi (AELM) Organisasi Kerja Sama Ekonomi di Asia Pasifik (APEC) yang diadakan secara virtual untuk pertama kalinya pada November 2020.

Pengumuman itu disampaikan ke publik, meskipun kabinet pimpinan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin masih dapat berganti karena adanya saling klaim dukungan mayoritas di parlemen antara kepala pemerintahan di Malaysia dan pemimpin kelompok oposisi.

Banyak pihak meragukan pertemuan-pertemuan APEC dapat terselenggara secara tatap muka karena adanya pandemi COVID-19. Selandia Baru, yang akan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi APEC tahun depan, mengumumkan pihaknya akan menggunakan ruang virtual karena adanya aturan pembatasan perjalanan dan ketidakpastian akibat pandemi.

Muhyiddin, yang menggantikan Mahathir Mohamad, menerima desakan untuk mundur dari kursi perdana menteri setelah Raja Malaysia Al Sutan Abdullah tidak mengabulkan pemberlakuan status darurat yang diusulkan oleh pemerintah.

Penetapan status darurat, menurut pemerintah, bertujuan untuk mengendalikan pandemi COVID-19, mengingat beberapa hari terakhir jumlah kasus positif terus naik di Malaysia.

Kementerian Perdagangan Internasional dan Perindustrian Malaysia, lewat pernyataan tertulisnya, mengatakan Muhyiddin akan memimpin AELM APEC 2020. Pertemuan itu akan dihadiri oleh 21 pemimpin ekonomi negara anggota APEC.

"Malaysia ikut mencatat sejarah dengan mengubah cara-cara yang biasa dilakukan APEC, dan (kami) akan menggelar pertemuan-pertemuan APEC dalam format virtual," kata pihak kementerian.

Malaysia, yang akan menjadi tuan rumah pertemuan APEC untuk kedua kalinya, menyebut AELM diharapkan dapat meresmikan Visi APEC Setelah 2020. Visi itu akan menggantikan "Bogor Goals" yang akan berakhir pada akhir tahun ini.

"Bogor Goals" atau "Tujuan-Tujuan Bogor", merupakan visi pembangunan yang disepakati oleh negara-negara anggota APEC pada 1994 di Bogor, Indonesia. Visi itu meminta seluruh anggota APEC untuk menciptakan perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka sampai 2020.

Malaysia saat ini menghadapi gelombang ketiga penularan COVID-19. Otoritas kesehatan setempat melaporkan 823 kasus baru, Minggu (25/10), sehingga total pasien mencapai 26.565 orang.

Sumber: Reuters
 

Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor : Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2024