FAO sebut harga pangan global turun 2,1 persen pada Agustus
Sabtu, 9 September 2023 10:56 WIB
Foto Dokumen: Sebuah truk terlihat di terminal biji-bijian saat panen jelai di Ukraina pada 23 Juni 2022. ANTARA/REUTERS/Igor Tkachenko
Roma (ANTARA) - Indeks acuan harga komoditas pangan internasional telah turun 2,1 persen pada Agustus dibandingkan Juli, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada Jumat (8/9/2023).
Namun harga beras melonjak sebesar 9,8 persen pada Agustus dan merupakan harga tertinggi dalam 15 tahun dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini dipicu oleh larangan ekspor beras yang diberlakukan India sejak Juli, yang diperparah oleh jeda musiman dalam produksi beras di belahan bumi utara.
Harga keseluruhan untuk biji-bijian dan sereal, yang merupakan komponen terbesar dalam indeks, turun 0,7 persen karena tingginya panen dari produsen-produsen utama. Harga jagung turun selama tujuh bulan berturut-turut karena panen melimpah di Brasil, sementara harga gandum turun 3,8 persen karena tingginya panen di Amerika Serikat dan Kanada.
FAO mengatakan empat dari lima sub-indeks mengalami penurunan. Selain sedikit penurunan harga biji-bijian dan sereal, harga minyak nabati, produk susu, dan daging juga lebih rendah.
Sementara itu, harga gula naik sebesar 1,3 persen dan lebih dari 34 persen di atas harga tahun sebelumnya. FAO mengatakan kenaikan harga gula berasal dari masih adanya kekhawatiran mengenai dampak fenomena cuaca El Nino di Samudera Pasifik bagian timur. Produksi gula di India juga terdampak oleh rendahnya curah hujan di sana, sementara hujan lebat membuat panen gula lebih sulit di Brasil.
Indeks harga pangan FAO berikutnya dijadwalkan dipublikasikan pada 6 Oktober 2023.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: FAO: Harga pangan global turun 2,1 persen pada Agustus
Namun harga beras melonjak sebesar 9,8 persen pada Agustus dan merupakan harga tertinggi dalam 15 tahun dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini dipicu oleh larangan ekspor beras yang diberlakukan India sejak Juli, yang diperparah oleh jeda musiman dalam produksi beras di belahan bumi utara.
Harga keseluruhan untuk biji-bijian dan sereal, yang merupakan komponen terbesar dalam indeks, turun 0,7 persen karena tingginya panen dari produsen-produsen utama. Harga jagung turun selama tujuh bulan berturut-turut karena panen melimpah di Brasil, sementara harga gandum turun 3,8 persen karena tingginya panen di Amerika Serikat dan Kanada.
FAO mengatakan empat dari lima sub-indeks mengalami penurunan. Selain sedikit penurunan harga biji-bijian dan sereal, harga minyak nabati, produk susu, dan daging juga lebih rendah.
Sementara itu, harga gula naik sebesar 1,3 persen dan lebih dari 34 persen di atas harga tahun sebelumnya. FAO mengatakan kenaikan harga gula berasal dari masih adanya kekhawatiran mengenai dampak fenomena cuaca El Nino di Samudera Pasifik bagian timur. Produksi gula di India juga terdampak oleh rendahnya curah hujan di sana, sementara hujan lebat membuat panen gula lebih sulit di Brasil.
Indeks harga pangan FAO berikutnya dijadwalkan dipublikasikan pada 6 Oktober 2023.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: FAO: Harga pangan global turun 2,1 persen pada Agustus
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mentan lapor ke Presiden produksi beras 2025 naik 4,1 juta ton dibanding tahun lalu
05 November 2025 9:36 WIB
Prabowo panggil mentan, wamentan, menteri kelautan ke Istana bahas swasembada pangan
09 October 2025 15:25 WIB
Presiden Prabowo minta jajaran perkuat tata kelola BGN usai insiden keracunan MBG
28 September 2025 17:52 WIB
Kementan buka kontak darurat pompa bagi petani di seluruh Indonesia antisipasi kekeringan
26 August 2024 4:50 WIB, 2024
PBB sebut Sudan hadapi krisis pangan terburuk dalam dua dekade terakhir
03 July 2024 14:10 WIB, 2024
Terpopuler - Dunia
Lihat Juga
Trump pertimbangkan tambah kapal induk jika kesepakatan dengan Iran gagal
11 February 2026 11:00 WIB
Di hadapan Modi, Anwar: Komunitas India bagian penting dalam pembangunan Malaysia
07 February 2026 21:31 WIB
Sikapi "Doktrin Monroe" dan "Trump Corollary", Malaysia ambil pendekatan pragmatis
05 February 2026 19:14 WIB