Influencer penyebar hoaks perlu minta maaf
Sabtu, 5 Oktober 2019 12:03 WIB
Ilustrasi anti-hoaks di aplikasi ponsel pintar. (ANTARA News/Handry Musa).
Jakarta (ANTARA) - Pendiri dan Pemimpin Rumah Produksi Cameo Project Martin Anugrah menilai para pemilik akun media sosial dengan ribuan pengikut (influencer) perlu meminta maaf kepada publik dan pengikutnya jika terbukti menyebarkan berita bohong atau hoaks.
"Indonesia ini budaya "latah"-nya kuat. Latah menyebarkan berita trending, menyebarkan sesuatu yang dianggap benar, membela sosok dan golongan tertentu, sehingga beritanya jadi masif," ujar Martin kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Pria yang juga memiliki 33,9 ribu pengikut dalam akun Instagram-nya itu mencontohkan kasus berita bohong soal Audrey, siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat, yang mengaku menjadi korban pengeroyokan 12 siswi SMA.
"Saya mengerti, kasus itu bisa meningkatkan engagement dalam media sosial sehingga banyak influencer akhirnya menyorotnya. Tapi setelah kasus itu terbukti hoaks, mereka malah tidak minta maaf," katanya.
Padahal, permohonan maaf yang disampaikan influencer akan menjadi penanda klarifikasi bagi para pengikutnya.
Para pengikut sang influencer, lanjut Martin, akan memahami informasi yang sebelumnya tersebar itu merupakan berita bohong.
Martin mengatakan para pengikut influencer akan teredukasi dan turut berhenti menyebarkan informasi palsu.
Bagi influencer, permohonan maaf tersebut bisa jadi pengingat untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan berita dan informasi berikutnya.
"Kalau dia tidak ngaku, tidak minta maaf, kemungkinan akan gampang kirim hoaks lagi tanpa ada rasa bersalah dan malu. Setidaknya, kalau influencer mengakui dan dia minta maaf, dia ada introspeksi diri juga," kata Martin.
"Indonesia ini budaya "latah"-nya kuat. Latah menyebarkan berita trending, menyebarkan sesuatu yang dianggap benar, membela sosok dan golongan tertentu, sehingga beritanya jadi masif," ujar Martin kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Pria yang juga memiliki 33,9 ribu pengikut dalam akun Instagram-nya itu mencontohkan kasus berita bohong soal Audrey, siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat, yang mengaku menjadi korban pengeroyokan 12 siswi SMA.
"Saya mengerti, kasus itu bisa meningkatkan engagement dalam media sosial sehingga banyak influencer akhirnya menyorotnya. Tapi setelah kasus itu terbukti hoaks, mereka malah tidak minta maaf," katanya.
Padahal, permohonan maaf yang disampaikan influencer akan menjadi penanda klarifikasi bagi para pengikutnya.
Para pengikut sang influencer, lanjut Martin, akan memahami informasi yang sebelumnya tersebar itu merupakan berita bohong.
Martin mengatakan para pengikut influencer akan teredukasi dan turut berhenti menyebarkan informasi palsu.
Bagi influencer, permohonan maaf tersebut bisa jadi pengingat untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan berita dan informasi berikutnya.
"Kalau dia tidak ngaku, tidak minta maaf, kemungkinan akan gampang kirim hoaks lagi tanpa ada rasa bersalah dan malu. Setidaknya, kalau influencer mengakui dan dia minta maaf, dia ada introspeksi diri juga," kata Martin.
Pewarta : Agita Tarigan
Editor : Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pecco nyatakan puas dengan performa motornya usai libas Martin di GP Malaysia
04 November 2024 8:05 WIB, 2024
Pulau di Bangladesh mengalami krisis pangan akibat penembakan dari Myanmar
11 June 2024 7:12 WIB, 2024
Martin dan Aleix Espargaro bergantian pimpin hari pertama Moto GP Catalunya
25 May 2024 5:45 WIB, 2024
Terpopuler - Ragam
Lihat Juga
Ribuan wisatawan asal Malaysia gunakan Whoosh untuk wisata di libur Natal dan tahun baru
28 December 2025 15:41 WIB
Gunung Semeru kembali erupsi dengan letusan setinggi 1.000 meter Sabtu pagi
20 December 2025 9:01 WIB
Sebanyak 14 mahasiswa UMPSA Malaysia belajar sains-budaya di Universitas Negeri Semarang
15 December 2025 19:01 WIB
KJRI Penang genjot peningkatan kunjungan turis Malaysia ke Indonesia lewat QRIS
03 December 2025 19:23 WIB