Telah pulang seorang senior
Rabu, 27 Mei 2020 14:53 WIB
Datuk Ahmad A Thalib (Foto : News Strait Times)
Kuala Lumpur (ANTARA) - INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJ'IUN. Kabar duka datang dari Malaysia menjelang Magrib tadi, (Selasa, 26/5). Wartawan senior Malaysia, Datuk Ahmad A Talib, meninggal dunia di Universitas Malaya Medical Center Petaling Jaya, setelah beberapa tahun berjuang melawan kanker hati.
Kabar duka saya dapatkan dari Group Whatsaap Forum Wartawan Malaysia-Indonesia. Beberapa hari sebelumnya, wartawan senior Malaysia di antaranya Tan Sri Johan Jaaffar, Datuk Zakaria Wahab, dan Sabaruddin Ahmad -- yang tergabung dalam gorup whatsaap -- telah mengabarkan kondisi kritis Datuk Ahmad Talib. Foto saya dengan Datuk Talib pun mereka kirim ke group.
Datuk Ahmad Talib wafat dalam usia 69 tahun. Menurut putrinya, Sophia, jenazah akan dibawa ke Masjid Al Muqarrobin, Bandar Tasik Selatan. Solat jenazah akan diadakan di lokasi sama. Allahyarham dikebumikan malam itu juga selesai Isya.
Saya terakhir bertemu dengan Allahyarham saat resepsi pernikahan anak Tan Sri Johan Jaaffar di Kuala Lumpur, 2018. Di sini, kami berfoto bersama. Pada Hari Pers Nasional (HPN) di Ambon, 2017, Datuk Ahmad Talib -- salah seorang pendiri Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia-Indonesia (ISWAMI) -- juga hadir.
Allahyarham pernah berkhidmat di New Straits Times Press (NSTP), sebagai Pengarah Eksekutif, Meja Berita dalam Lembaga Pengarah NSTP pada 1 Juli 2009 dan Pengerusi Institut Akhbar Malaysia.
Karier wartawannya bermula di Kantor Berita Malaysia, Bernama pada 1972, kemudian Business Times (Malaysia) pada 1978, dan Berita Harian (1985). Allahyarham pernah menyandang jawatan Asisten Editor Berita Harian (1987), Editor Berita New Straits Times; Pemimpin Redaksi Berita, Pengarang Bersekutu, dan Asisten Editor Kumpulan (1991-1996).
Seterusnya dilantik sebagai Editor Kumpulan, New Straits Times (1998); Pengurus Besar Kumpulan dan Komunikasi dan Pemasaran Editorial (2004). Pada 2005, Allahyarham mengumumkan pensiun dari Kumpulan NSTP. Juga pernah sebagai panasihat Media Prima Berhad, termasuk membidangi interview di TV3.
Allahyarham meninggalkan isteri, Datin Norsimah Daud dan empat anak.
Kematian itu pasti. Namun kesedihan selalu datang setiap ada kabar kematian, lebih lagi tentang sahabat. Kenangan masa pertemuan, dialog, senda gurau, kembali muncul di pelupuk mata yang berair. Kebaikan demi kebaikan, silih berganti.
Tok Mat -- begitu biasa Datuk Ahmad Talib disapa -- salah seorang yang berjuang untuk hubungan lebih baik antara Malaysia-Indonesia. Selain pendiri, Tok Mat adalah Presiden pertama Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia Indonesia (ISWAMI) bersama Saiful Hadi Chalid dari Indonesia, yang juga telah wafat.
ISAWAMI didirikan wartawan senior untuk mempererat hubungan Indonesia-Malaysia, dua belas tahun lalu. Para pendiri antara lain Tarman Azzam (alm), Ilham Bintang, N Syamsuddin Ch Haesy, Saiful Hadi Chalid, dan saya. Dari Malaysia antara lain Tan Sri Johan Jaaffar, Datuk Ahmad Talib, Azman Ujang, Nasir Yussof, dan Sabaruddin Ahmad. Saat ini, untuk Malaysia dipimpin Abdul Rashid Yusof (NST), dan saya untuk Indonesia.
Allahyarham Ahmad Talib aktif menulis kolom di surat kabar berbahasa Inggris, New Straits Times. Tulisan terakhirnya pada 2 Mei 2020 tentang Perintah Kawalan Pergerakan Covid-19 (MCO --Movement Control Order). Judul tulisannya, "MCO the best time to reflect on life."
Ahmad Talib mengajak pembaca untuk tidak mengeluh menghadapi Perintah Kawalan Pergerakan Covid-19 ini. "Saya pikir begitu! Memang, ini adalah periode terbaik untuk refleksi pribadi dan keluarga. Juga untuk rekonsiliasi kesalahan masa lalu (jika ada), mencari dan memperluas pengampunan, terlepas dari apakah Anda merayakan Ramadhan atau tidak."
"Berhentilah mengeluh dan mengeluh tentang MCO. Gunakan itu untuk merefleksikan nilai-nilai keluarga, target, merencanakan karier, dan ikatan yang erat. Anda mungkin tidak pernah mendapatkan kesempatan lain," tulis Ahmad Talib pada bagian akhir kolom terakhir itu.
Tulisan yang menggugah kesadaran.
Selamat jalan Datuk Ahmad Thalib, semoga Allah menempatkan Allahyarham di sisi-Nya, di sebaik-baik tempat, seindah-indah tempat...
Jakarta, 26 Mei 2020
Kabar duka saya dapatkan dari Group Whatsaap Forum Wartawan Malaysia-Indonesia. Beberapa hari sebelumnya, wartawan senior Malaysia di antaranya Tan Sri Johan Jaaffar, Datuk Zakaria Wahab, dan Sabaruddin Ahmad -- yang tergabung dalam gorup whatsaap -- telah mengabarkan kondisi kritis Datuk Ahmad Talib. Foto saya dengan Datuk Talib pun mereka kirim ke group.
Datuk Ahmad Talib wafat dalam usia 69 tahun. Menurut putrinya, Sophia, jenazah akan dibawa ke Masjid Al Muqarrobin, Bandar Tasik Selatan. Solat jenazah akan diadakan di lokasi sama. Allahyarham dikebumikan malam itu juga selesai Isya.
Saya terakhir bertemu dengan Allahyarham saat resepsi pernikahan anak Tan Sri Johan Jaaffar di Kuala Lumpur, 2018. Di sini, kami berfoto bersama. Pada Hari Pers Nasional (HPN) di Ambon, 2017, Datuk Ahmad Talib -- salah seorang pendiri Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia-Indonesia (ISWAMI) -- juga hadir.
Allahyarham pernah berkhidmat di New Straits Times Press (NSTP), sebagai Pengarah Eksekutif, Meja Berita dalam Lembaga Pengarah NSTP pada 1 Juli 2009 dan Pengerusi Institut Akhbar Malaysia.
Karier wartawannya bermula di Kantor Berita Malaysia, Bernama pada 1972, kemudian Business Times (Malaysia) pada 1978, dan Berita Harian (1985). Allahyarham pernah menyandang jawatan Asisten Editor Berita Harian (1987), Editor Berita New Straits Times; Pemimpin Redaksi Berita, Pengarang Bersekutu, dan Asisten Editor Kumpulan (1991-1996).
Seterusnya dilantik sebagai Editor Kumpulan, New Straits Times (1998); Pengurus Besar Kumpulan dan Komunikasi dan Pemasaran Editorial (2004). Pada 2005, Allahyarham mengumumkan pensiun dari Kumpulan NSTP. Juga pernah sebagai panasihat Media Prima Berhad, termasuk membidangi interview di TV3.
Allahyarham meninggalkan isteri, Datin Norsimah Daud dan empat anak.
Kematian itu pasti. Namun kesedihan selalu datang setiap ada kabar kematian, lebih lagi tentang sahabat. Kenangan masa pertemuan, dialog, senda gurau, kembali muncul di pelupuk mata yang berair. Kebaikan demi kebaikan, silih berganti.
Tok Mat -- begitu biasa Datuk Ahmad Talib disapa -- salah seorang yang berjuang untuk hubungan lebih baik antara Malaysia-Indonesia. Selain pendiri, Tok Mat adalah Presiden pertama Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia Indonesia (ISWAMI) bersama Saiful Hadi Chalid dari Indonesia, yang juga telah wafat.
ISAWAMI didirikan wartawan senior untuk mempererat hubungan Indonesia-Malaysia, dua belas tahun lalu. Para pendiri antara lain Tarman Azzam (alm), Ilham Bintang, N Syamsuddin Ch Haesy, Saiful Hadi Chalid, dan saya. Dari Malaysia antara lain Tan Sri Johan Jaaffar, Datuk Ahmad Talib, Azman Ujang, Nasir Yussof, dan Sabaruddin Ahmad. Saat ini, untuk Malaysia dipimpin Abdul Rashid Yusof (NST), dan saya untuk Indonesia.
Allahyarham Ahmad Talib aktif menulis kolom di surat kabar berbahasa Inggris, New Straits Times. Tulisan terakhirnya pada 2 Mei 2020 tentang Perintah Kawalan Pergerakan Covid-19 (MCO --Movement Control Order). Judul tulisannya, "MCO the best time to reflect on life."
Ahmad Talib mengajak pembaca untuk tidak mengeluh menghadapi Perintah Kawalan Pergerakan Covid-19 ini. "Saya pikir begitu! Memang, ini adalah periode terbaik untuk refleksi pribadi dan keluarga. Juga untuk rekonsiliasi kesalahan masa lalu (jika ada), mencari dan memperluas pengampunan, terlepas dari apakah Anda merayakan Ramadhan atau tidak."
"Berhentilah mengeluh dan mengeluh tentang MCO. Gunakan itu untuk merefleksikan nilai-nilai keluarga, target, merencanakan karier, dan ikatan yang erat. Anda mungkin tidak pernah mendapatkan kesempatan lain," tulis Ahmad Talib pada bagian akhir kolom terakhir itu.
Tulisan yang menggugah kesadaran.
Selamat jalan Datuk Ahmad Thalib, semoga Allah menempatkan Allahyarham di sisi-Nya, di sebaik-baik tempat, seindah-indah tempat...
Jakarta, 26 Mei 2020
Pewarta : Asro Kamal Rokan
Editor : Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sekitar 60.000 orang tewas di Malaysia 10 tahun terakhir akibat kecelakaan
11 October 2025 21:34 WIB
Pemerintah Malaysia: Undangan untuk Trump hadiri KTT kesepakatan bersama ASEAN
05 October 2025 17:08 WIB
Terpopuler - Ragam
Lihat Juga
Pemkab Aceh Barat Daya sediakan beasiswa untuk mencetak 100 penghafal Al Quran
21 February 2026 23:01 WIB
Indonesia perkuat diplomasi budaya lewat Asia Pacific Film Festival Swiss
11 February 2026 11:03 WIB
Ribuan wisatawan asal Malaysia gunakan Whoosh untuk wisata di libur Natal dan tahun baru
28 December 2025 15:41 WIB
Gunung Semeru kembali erupsi dengan letusan setinggi 1.000 meter Sabtu pagi
20 December 2025 9:01 WIB
Sebanyak 14 mahasiswa UMPSA Malaysia belajar sains-budaya di Universitas Negeri Semarang
15 December 2025 19:01 WIB
KJRI Penang genjot peningkatan kunjungan turis Malaysia ke Indonesia lewat QRIS
03 December 2025 19:23 WIB