Dino Patti Djalal : Wajah ekstremisme di Indonesia sudah berubah

id Dino Patti Djalal

Dino Pati Djalal saat presentasi (Foto ANTARA / Tengku Adnan) (1)

"Tantangan bagi Indonesia sekarang adalah bagaimana memonitor orang-orang ISIS yang kembali dari Timur Tengah, ada beberapa ratus orang, sedangkan dalam hukum kita mereka tidak bisa ditahan. Ini berbeda dengan Malaysia. Jadi bagaimana agar mereka kem
Kuala Lumpur, (AntaraKL) - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia, Dr Dino Patti Djalal mengatakan wajah dan modus operandi kelompok teroris serta ekstremis di Indonesia sudah berubah dibandingkan dengan kelompok Abu Bakar Basyir sekitar 20 tahun lalu.

"Model rekruitmennya berubah, targetnya berubah, cara pendanaannya juga berubah, cara sosialisasinya juga berubah, cara baiat-nya berubah, struktur organisasinya juga berubah. Jadi kita harus menyesuaikan dengan situasi yang berubah ini," ujar Dino ketika diwawancarai usai menjadi pembicara di Kuala Lumpur, Minggu.

Mantan Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat ini diundang oleh KL International Youth Discourse 2017 di PWTC untuk berbicara tentang "Regional Efforts Against Extremism" yang dibuka oleh Perdana Menteri Malaysia, Dato` Sri Najib Tun Razak.

Dino mengatakan terjadinya perubahan-perubahan tersebut juga disampaikan oleh pembicara dari Rajaratnam School Of International Studies, Dr Sashi Jayakumar.

"Dahulu Jamaah Islamiyah membutuhkan waktu dua tahun untuk indoktrinasi sekarang jauh lebih cepat. Dahulu dibaiat oleh ustadz, sekarang bisa online. Dahulu funding-nya Alqaeda dari Osama Bin Laiden seperti bom Bali kalau sekarang funding sendiri. Mereka mencari uang sendiri," katanya.

Dia mengatakan kalau dahulu pemimpin spiritual-nya Abubakar Basyir sedangkan sekarang lebih otonom dan terdesentralisir.

"Memang Aman Abdulrahman menjadi sumber spiritualnya tetapi sekarang sudah ditangkap dan sekarang hampir semua kelompok itu pro ISIS. Sekarang yang menarik ISIS sudah dikalahkan secara militer di Timur Tengah kemudian bagaimana pengaruhnya di Indonesia yang pro ISIS ini," katanya.

Dino mengatakan kalau tidak salah ada sekitar 20 grup kecil-kecil di Indonesia yang pro ISIS.

"Tantangan bagi Indonesia sekarang adalah bagaimana memonitor orang-orang ISIS yang kembali dari Timur Tengah, ada beberapa ratus orang, sedangkan dalam hukum kita mereka tidak bisa ditahan. Ini berbeda dengan Malaysia. Jadi bagaimana agar mereka kembali tetapi tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat dan negara," katanya.

Dino mengatakan program deradikalisasi tepat sekali kalau diterapkan dengan baik apalagi berdasarkan data dari 700 orang yang menjalani proses deradikalisasi yang kembali melakukan teror sekitar enam orang.

Menurut Dino kerjasama regional antar negara sangat diperlukan dalam memberantas terorisme karena pelakunya transnasional.

"Tadi ada satu hal yang kita catat dari pidato Menteri Pertahanan Malaysia, Datuk Seri Hishammuddin. Dia nggak pernah meledek `ganyang asing`. Keamanan Malaysia akan terjamin kalau bisa kerjasama dengan tetangga dengan barat juga. Semangat xenophobia-nya nggak kelihatan. Di tempat kita masih ada anti asing. Merasa kita akan di-obrak-abrik. Kalau ada tantangan kita melihat tetangga sebagai mitra bukan sebagai saingan," katanya.

Dino mengatakan penyebaran ekstremisme melalui sosial media di kalangan anak muda juga harus dilawan secara kreatif di online dengan masuk ke telegram, chat dan sebagainya.
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar