Logo Header Antaranews Kuala Lumpur

Prabowo: Kritik terhadap Polri--TNI bagian pengabdian

Jumat, 13 Februari 2026 13:24 WIB
Image Print
Presiden RI Prabowo Subianto berpidato dalam agenda Groundbreaking 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Palmerah, Jakarta, Jumat (13/2/2026). ANTARA/Andi Firdaus

Jakarta (ANTARA) - Presiden RI Prabowo Subianto menyoroti besarnya tekanan dan kritik yang kerap diarahkan kepada aparat penegak hukum dan militer sebagai konsekuensi dari tugas mereka menjaga dan mengabdi pada negara.

Kepala Negara, dalam agenda Groundbreaking 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), di Jakarta, Jumat, menyebut polisi kini banyak menjadi sasaran kritik publik, serupa dengan pengalaman yang sebelumnya dialami TNI.

"Saya tahu saudara-saudara, polisi banyak jadi sasaran (kritik, red). Itu risiko. TNI juga dulu jadi sasaran, ya kan. Jenderal-jenderal kita yang paling hebat, paling jago, ya kan, dimaki-maki, dituduh penjahat perang, dituduh melanggar HAM," katanya saat berpidato.

Namun Presiden menegaskan keyakinannya bahwa TNI tidak pernah menargetkan fasilitas sipil seperti rumah sakit, panti asuhan, sekolah, maupun tempat ibadah sebagai sasaran.

"Rasanya, TNI enggak pernah ngebom rumah sakit selama sejarahnya TNI. Rasanya, TNI enggak pernah bom panti asuhan. Rasanya, TNI enggak pernah bom sekolah, enggak pernah bom gereja atau masjid," katanya.

Presiden Prabowo juga menyinggung sikap sejumlah negara Barat yang dinilainya kerap mengajarkan standar HAM kepada negara lain, namun tidak konsisten terhadap sikap negaranya sendiri.

"Negara-negara Barat yang ngajarin HAM kepada kita, saya enggak mau banyak komentar lagi lah ya. Anda tahu maksud saya. Jadi, banyak kalau istilah dulu kita jarkoni, iso ngajar ora iso nglakoni," katanya.

Ia meminta aparat kepolisian untuk tetap tegar menghadapi kritik sebagai bagian dari risiko profesi. Presiden menekankan bahwa yang terpenting adalah niat baik serta pengorbanan untuk bangsa dan negara.

"Jadi, kita harus tegar. Yang jelas, kita buktikan kepada rakyat. Hari ini, saya harus mengatakan bahwa saya bangga dan puas dengan prestasi. saudara-saudara," katanya.

Jika terdapat oknum yang melakukan pelanggaran di dalam institusi besar yang beranggotakan ratusan ribu personel, Presiden menegaskan bahwa tindakan harus diarahkan kepada individu yang bersalah, bukan kepada institusinya secara keseluruhan.

"Saya ibaratkan kalau ada sekolah, murid-muridnya ada yang brengsek, ada yang tawur-tawuran, ada yang kurang ajar, bukan kepala sekolahnya yang dicopot. Keliru itu, terbalik. Bukan sekolahnya ditutup," ujarnya.

Presiden Prabowo mengatakan, menjadi pemimpin berarti harus siap menerima tekanan, kritik, dan serangan, termasuk yang datang melalui media sosial, yang menurutnya kerap diramaikan oleh aktivitas buzzer.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Prabowo: Kritik ke Polri–TNI bagian pengabdian



Pewarta :
Editor: Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026