Kuala Lumpur (ANTARA) - Sebanyak 53 mahasiswa Fakultas Kedokteran Umum dari tujuh kampus di Indonesia asal Malaysia melakukan ujian di aula Hasanuddin Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Minggu (21/2), karena mereka tidak bisa kembali ke Indonesia.

"KBRI dimintai tolong oleh Kementerian Pendidikan Tinggi (KPT) Malaysia untuk memfasilitasi ujian mahasiswa Malaysia yang kuliah di Indonesia di bidang kedokteran," ujar Atase Dikbud KBRI Kuala Lumpur, Mokhammad Farid Makruf di Kuala Lumpur, Minggu.

Farid mengatakan mereka berasal dari sejumlah  kampus di Indonesia yakni Universitas Brawijaya, Universitas Sumatera Utara, Universitas Padjajaran, Universitas Udayana, Universitas Sriwijaya, Universitas Andalas dan Universitas Hasanuddin.

"Total peserta yang terdaftar awalnya ada 59 orang namun kemudian hanya 53 yang bisa mengikuti ujian. Mereka dari Kedokteran Umum sedangkan Kedokteran Gigi ada tujuh orang rencananya Sabtu (27/2) depan di salah satu kampus," katanya.

Selain ujian berbasis komputer (CBT) ini mereka juga ada ujian praktek dan pihaknya meminta KPT agar mendapatkan tempat di salah satu kampus di Malaysia dan rencananya pada Sabtu (6/3).

"Mereka sudah lulus sarjana kedokteran dan di Indonesia ada istilah 'co-assistant' atau praktek di rumah sakit dan setelah 'co-assistant' selesai mereka harus ujian kompetensi (ujian kompetensi pendidikan profesi dokter) agar dapat profesi ijazah dokter," katanya.

Farid mengatakan ujian serupa sudah diselenggarakan yang ketiga kalinya di Kuala Lumpur yang pertama di Universitas Putra Malaysia (UPM) dan kedua di KBRI Kuala Lumpur.

"Jadi pada Maret - April lalu saat MCO (Perintah Kawalan Pergerakan) pertama kali, pemerintah Malaysia memulangkan sekitar 3.000 orang," katanya.

Farid mengatakan sebagian mereka sudah melakukan "co-assistant" dan harus ikut ujian kemudian karena ada kebijakan dari pemerintah bahwa orang asing tidak boleh masuk akhirnya mereka kesulitan.

"Saat itu kalau tidak salah Kedubes Malaysia pernah minta tolong ke Dikti dan KBRI juga, akhirnya kami juga memohon kepada Dikti dalam rangka hubungan bilateral Malaysia - Indonesia dan Dikti akhirnya mengizinkan sehingga Agustus diadakan ujian di Kuala Lumpur," katanya.

Menurut panitia, ujian CBT rutin dilakukan tiga bulan sekali dan bagi mahasiswa yang tidak lulus bisa ikut ujian selanjutnya.

"Kami belum tahu selanjutnya. Kalau kebijakan warga asing belum boleh masuk, ujian seperti ini masih diadakan lagi," katanya.

Pada kesempatan tersebut Farid ikut mengawasi ujian tersebut secara langsung dengan dibantu staf Atdikbud dan staf KBRI Kuala Lumpur lainnya.

Sejumlah pejabat Bagian Education Malaysia, Kementerian Pendidikan Tinggi yang turut hadir adalah Redhauddin Kamaruzaman (Direktur Departemen Pendidikan Malaysia), Cik Nurul Yasmin Abdullah (Ketua Asisten Direktur Seksi Koordinasi Mahasiswa Malaysia di Luar Negeri
Bahagian Education Malaysia) dan Salina Mokhtar (Asisten Direktur).

 

Pewarta : Agus Setiawan
Editor : Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2024