
OJK dan BI Diminta Terus Bantu Permudah Remitansi TKI

JAKARTA, BNP2TKI : BNP2TKI mengidentifikasi ada dua penyebab remitansi para TKI di kawasan Asia-Pasifik lebih rendah dibanding remitansi dari Timur Tengah. Ketiganya adalah kesulitan mengakses lembaga keuangan serta tingkat pendidikan TKI dan keluarganya yang terbatas.
Untuk itu perlu dibangun kedekatan antara TKI dan lembaga keuangan hingga mempermudah pengiriman dan pengambilan remitansi, kata Deputi Perlindungan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Lisna Yoeliani Poeloengan. Dia mengutarakan hal itu ketika workshop Kajian Penyebab Rendahnya Penerimaan Remitansi di Asia Pasifik, di Jakarta, 13 Januari 2016.
Lisna melukiskan tempat tinggal keluarga TKI jauh di pelosok desa, sementara akses lembaga keuangan berloksi di kota kabupaten atau provinsi. Ini juga salah satu hambatan. Dan disinyalir, ada juga jasa calo untuk mengambil uang kiriman TKI.
Melalui workshop ini, Lisna mengharapkan , supaya ada upaya membangun atau membuka semacam cabang atau outlet, baik di luar negeri maupun di desa-desa kantong TKI, yang fungsinya untuk mempermudah akses TKI dan keluarganya ke lembaga keuangan.
Kebetulan peserta dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia hadir disini, semoga OJK dan BI bisa mengambil peran untuk lebih mendekatkan diri lembaga keuangan kepada TKI dan keluarganya, ujarnya sambil senyum.
Faktor penghambat lainnya adalah pengetahuan atau pendidikan para TKI. Untuk itu pada pembekalan akhir pemberangkatan (PAP), BNP2TKI melalui instruktur membekali para TKI dengan pengetahuan perencanaan keuangan. Kepada para TKI dijelaskan agar remitansi dikirim melalui perbankan dan perlu membuat perencanaan keuangan untuk modal usaha, hingga tidak perlu kembali bekerja di luar negeri.
Selain itu, katanya, BNP2TKI juga memiliki program edukasi keuangan kepada para calon TKI dan keluarganya. Dalam program itu para TKI diajarkan antara lain mengenal lembaga keuangan, mengelola keuangan, dan cara menambah modal usaha melalui jasa lembaga keuangan. Harapannya agar para TKI dan keluarganya bisa merencanakan keuangan untuk modal usaha dan meminimalisir pengeluaran yang bersifat konsumtif.
Lisna menyebutkan faktor lain yang juga mempengaruhi rendahnya pengiriman remitansi, yaitu moratorium penempatan TKI informal ke Timur Tengah. Tidak bisa dipungkiri bahwa TKI penata laksana rumah tangga (informal) di Timur Tengah turut andil mempengaruhi rendahnya pegiriman remitansi.
Workshop satu hari ini diselenggarakan Pusat Penelitian dan Informasi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) bekerja sama dengan pihak ketiga. Kajian penyebab rendahnya penerimaan remitansi TKI di kawasan Asia Pasifik dilakukan mengambil sampel remitansi TKI di Malaysia, Hongkong, dan Taiwan, melalui pendekatan riset kuantitatif. (Humas/Pur/Sjr)
Pewarta : Jakarta, BNP2TKI, Selasa (12/01 - Badan Nasional P
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
