
KAHMI Malaysia diskusikan Pilkada Rasa Pilpres

"Malaysia itu sangat ingin mengetahui Indonesia. Indonesia juga menganggap penting Malaysia karena itu semua bidang di KBRI Kuala Lumpur ada. Di Kemenlu kalau orang ditempatkan di Kuala Lumpur luar biasa. Sedangkan Malaysia melihat Indonesia sedikit
Kuala Lumpur, (AntaraKL.Com) - Majelis Perwakilan Korps Alumni HMI (KAHMI) Malaysia mengadakan diskusi Pilkada Rasa Pilpres di Kuala Lumpur, Sabtu, untuk memperingati satu tahun organisasi tersebut di Malaysia.
Pada kesempatan tersebut Kunrat mengatakan bahwa energi bangsa saat ini sudah tertumpah di Pilkada DKI dengan dua titik ekstrim.
"Kita melihat media internet begitu semarak digunakan untuk berkampanye. Pilkada dengan perbedaan tajam ini harus disyukuri karena mendewasakan diri dalam berdemokrasi. Keterlibatan bangsa Indonesia ini sangat membanggakan karena melibatkan dari Sabang - Merauke," katanya.
Pilkada DKI, ujar dia, telah menjadi perhatian di Malaysia bahkan sopir taksi banyak yang menanyakan apalagi pejabat-pejabat di Malaysia kebetulan dirinya banyak berinteraksi dengan mereka.
"Saya harapkan masyarakat ASEAN juga belajar terhadap kejadian di Jakarta. Jangan hanya memuncul isu negatif tetapi juga menghasilkan yang produktif," katanya.
Tokoh Muhammadiyah Malaysia, Dr. H. Arifin Ismail MA mengatakan agama apapun akan berhubungan dengan orang lain hanya sekarang orang tidak memahami antara "unity" atau kesatuan pendapat dengan "ununity" atau ketidaksatuan pendapat.
"Peraturan KPU mengatur bahwa materi kampanye harus menjunjung Pancasila dan UUD 45, tidak boleh provokatif. Sebenarnya kalau merujuk pada aturan KPU saja Pilkada Jakarta sudah bagus," katanya.
Dia juga menilai bahwa hari ini demokrasi bukan antarwarga tetapi sudah dikuasai konglomerat.
Dia juga mengusulkan perlunya para politisi mengikuti sekolah politik sehingga bisa berpolitik secara benar.
Dosen Universitas Malaysia, Dr. Lili Yulyadi mengatakan kalau membaca literatur tentang politik dan agama sebenarnya toleransi hanya ada dalam politik.
"Kalau dalam agama tidak ada. Yang ada adalah tasamuh atau lapang dada lebih pas. Toleransi dalam agama itu salah kaprah. Toleransi hanya dalam politik dan hubungan luar negeri karena `take and give`," katanya.
Dia juga berpandangan kalau Indonesia akan sulit menjalankan demokrasi manakala syarat-syaratnya belum terpenuhi seperti kesejahteraan rakyat.
Tentang hubungan Indonesia - Malaysia, dia mengatakan sangat dinamis dan saling mempengaruhi.
"Malaysia itu sangat ingin mengetahui Indonesia. Indonesia juga menganggap penting Malaysia karena itu semua bidang di KBRI Kuala Lumpur ada. Di Kemenlu kalau orang ditempatkan di Kuala Lumpur luar biasa. Sedangkan Malaysia melihat Indonesia sedikit demi sedikit meninggalkan ASEAN," katanya.
Wakil Ketua PCINU Malaysia Cholis Waidi Salaman Lc mengatakan Indonesia diuntungkan dengan kehadiran NU dan Muhammadiyah.
"Konflik Suriah terjadi karena tidak ada organisasi seperti di Indonesia. Berkaitan dengan pendukung dan kontra Ahok yang sama-sama memiliki dalil maka akhirnya kita kembali kepada konstitusi," katanya.(T.A034/B/M016/B/M016) 09-04-2017 00:08:00
Pewarta : Agus Setiawan
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
