Menyelami roh dwiwarna Merah Putih

id Kemerdekaan, Merah Putih,lomba-lomba 17 Agustus

Menyelami roh dwiwarna Merah Putih

Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kachina Ozora mencium bendera saat Upacara Pengukuhan Paskibraka di Istana Negara, Selasa (15/8/2023). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/rwa.

Cerita masa lalu itu juga mengajarkan bahwa anak-anak Indonesia mewarisi genetika sebagai bangsa yang memiliki semangat juang tinggi dalam menjalani hidup.
Bondowoso (ANTARA) - Agustus merupakan bulan ketika Merah Putih berkibar di mana-mana. Dwiwarna itu memenuhi ruang-ruang ekspresi kesyukuran dan perayaan atas nikmat Tuhan yang diterima oleh bangsa ini berupa kemerdekaan.

Ekspresi itu bukan hanya memenuhi ruang-ruang fisik, seperti di pinggir-pinggir jalan, di rumah-rumah, dan lingkungan masyarakat. Ekspresi kegembiraan itu juga memenuhi ruang nonfisik, yakni di hati bangsa kita.

Semua warga merasakan aura yang mengalir dari spirit para leluhur bangsa bagaimana negara bernama Indonesia ini tegak dan hidup hingga saat ini, dengan pengorbanan. Pengorbanan harta benda, bahkan darah dan nyawa.

Merah Putih bisa berkibar bukan saja bisa dimaknai dalam konteks ideologi berbaju nasionalisme dan patriotisme. Kibaran dua warna yang melambangkan keberanian dan kesucian ini juga memiliki makna yang dalam secara spiritual.

Ulama besar milik bangsa ini, yakni Maulana Habib Lutfi mengingatkan kita untuk menyelami Merah Putih dengan tiga roh di dalamnya. Roh itu harus merasuk ke dalam jiwa bangsa ini untuk bekal menatap dan menjalani masa depan.

Rais Aam Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (Jatman) dengan nama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thaha bin Yahya Ba’alawi Al-Husaini yang juga Ketua Forum Sufi Internasional ini mengemukakan bahwa di Merah Putih itu memang tidak ada tulisan atau kata-kata.

Meskipun demikian, di Merah Putih-- yang tanpa tulisan itu-- setidaknya ada tiga roh bersemayam di dalamnya.

Ketiga roh itu adalah kehormatan bangsa, jati diri bangsa, dan harga diri bangsa. Karena itu bagi Habib Lutfi yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) tersebut, wajar kalau dalam suasana peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ini Merah Putih dikirab dan dikibarkan di mana-mana.

Selain mengajak generasi muda yang rentang waktu lahir dengan momen Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 ini cukup jauh, pengungkapan tiga roh Merah Putih itu juga mengajak semua komponen bangsa untuk menjaga komitmen kecintaan pada Tanah Air.

Sebagai roh, spirit Merah Putih bukan hanya berkibar setahun sekali pada momen Agustus, melainkan sepanjang masa di dalam jiwa kita.

Merah Putih harus menjadi jiwa kita, dan jiwa kita harus diliputi oleh spirit Merah Putih itu.

Sebagai negara dan bangsa yang dilahirkan dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, maka seharusnyalah generasi pengisi kemerdekaan tidak lepas dari sejarah masa lalu yang ingin mewujudkan masyarakat aman, damai, dan sejahtera.