Logo Header Antaranews Kuala Lumpur

BRIN: Perlu pengembangan upaya cegah risiko RI jadi hotspot virus Nipah

Rabu, 4 Februari 2026 22:08 WIB
Image Print
Tangkapan layar - presentasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait virus Nipah dalam "Mengantisipasi Penyebaran Virus Nipah di Indonesia - FDD12 - Edisi 264" di Jakarta, Rabu (4/2/2026). ANTARA/HO - YouTube Forum Diskusi Denpasar 12 (Mecca Yumna)

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan perlu pengembangan upaya pencegahan dan penanggulangan virus Nipah lebih jauh, sebab Indonesia berisiko menjadi hotspot virus tersebut, karena keanekaragaman hayati yang besar, terutama jenis kelelawar buah yang banyak.

"Kita merupakan negara dengan megabiodiversity, yang mempunyai keanekaragaman yang sangat tinggi, tapi tentunya ini mempunyai salah satu potensi risiko dan memiliki distribusi luas terkait dengan fruit bat ini, yang merupakan reservoir alami dari virus Nipah," kata Kepala Organisasi Riset Kesehatan/Peneliti Ahli Utama Virologi BRIN Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan terdapat keragaman genetik virus Nipah (NiV), yakni NiV-Malaysia (M) dan NiV Bangladesh (B). Berdasarkan keparahan, NiV-B memiliki tingkat kematian 75 persen, dan NiV-M memiliki tingkat kematian 40 persen.

Kemudian temuan eksperimental, lanjutnya, menunjukkan replikasi NiV-B lebih lambat, tetapi proses shedding atau pelepasan partikel virus dari orang atau binatang terinfeksi, lebih cepat.

Sejumlah perbedaan klinis dari kedua jenis virus, kata dia, NiV-B sering menimbulkan penyakit pernapasan dan ensepalitis, serta berkaitan dengan penularan antar-manusia, sementara NiV-M sering menyebabkan ensefalitis.

Menurutnya, berbagai temuan ini menunjukkan bahwa keberagaman genetik virus Nipah mempengaruhi virulensi, transmisi, serta respon imun. Hal ini juga menyoroti pentingnya pengembangan vaksin, diagnostik, dan terapi berbasis strain.

Dia menyebutkan per 2024 kasus virus Nipah yang dilaporkan secara global ada 754, dengan kematian sekitar 435 kasus, sehingga rata-rata rasio fatalitas yakni 58 persen.

Indi menjelaskan,reservoir utama virus tersebut yakni kelelawar buah, dengan babi sebagai inang perantara. Babi, katanya, menjadi salah satu penyebab utama dalam wabah Nipah di Malaysia.

Sejumlah hewan domestik lain yang dapat terpapar, katanya, yakni anjing, dan di Bangladesh dilaporkan sapi dan kambing juga terdampak.

Dia menambahkan penularan terjadi dari kontaminasi makanan atau lingkungan oleh urine atau saliva kelelawar. Pada 1998 di Malaysia penyebaran virus terjadi dari buah yang dimakan babi, kemudian terjadi transmisi ke manusia.

Sementara itu di India dan Bangladesh, penyebaran terjadi dari nira kurma, dimana buah tergigit dan terjadi kontak dengan hewan ternak. Kemudian, katanya, terjadi penularan antar-manusia setelah infeksi.

"Nah beberapa hal yang menjadi pendorong mungkin adanya deforestasi, kemudian juga perubahan iklim, ekspansi pertanian dan juga beberapa diantaranya mungkin peningkatan kontak erat antara kelelawar dan manusia," katanya.

Dia menyebutkan sebagai langkah mitigasi perlu adanya surveilans guna penemuan kasus sedini mungkin guna kesiapsiagaan menghadapi wabah. Surveilans, katanya, perlu dilakukan dengan pendekatan One Health, yakni kolaborasi antara sektor-sektor yang menangani manusia, hewan, dan lingkungan.

"Kemudian tantangannya kita tahu bahwa penemuan ini masih sporadis, jadi data epidemiologis yang kita miliki sangat terbatas terkait dengan virus Nipah ini," ujarnya.

Selain itu kapasitas diagnostik laboratorium masih belum merata, dan kesadaran publik terkait virus ini masih harus ditingkatkan.

"Nah, arah penelitian ke depan tentunya kita akan melakukan pemetaan distribusi virus Nipah ini di Indonesia, juga studi ekologi dari reservoir, dan juga melakukan analisis genomik untuk memahami evolusi dan transmisi dari virus itu," ujar Indi.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BRIN: Perlu upaya lebih jauh cegah risiko RI jadi hotspot virus Nipah



Pewarta :
Editor: Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026