Malaysia akan bantu 500 ribu RM untuk tsunami Palu

id Wan Azizah,Tsunami Palu,Dian Islamiati

Wan Azizah (tiga dari kiri) dan Dian Islamiati (dua dari kanan)(

"Yang membuat dia kuat adalah anak-anak dan keluarga serta percaya Tuhan memberikan kekuatan menghadapi cobaan. Yang membuat dia terpukul adalah ketika Anwar Ibrahim masuk penjara dua kali," katanya.
Putrajaya, (AntaraKL) - Pemerintah Malaysia akan memberikan bantuan sebesar 500.000 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp1,7 Miliar untuk penanganan korban bencana tsunami yang terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah, Jumat (28/9).

Calon anggota DPR RI Provinsi DKI Jakarta Daerah Pemilihan II, Dian Islamiati Fatwa SSos MSc mengemukakan hal itu di Kuala Lumpur, Senin, usai bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Dr Wan Azizah Wan Ismail di Putrajaya bersama para peserta Sekolah Demokrasi Insan Cita (SDIC) Majelis Nasional Forum Alumni HMI Wati atau FORHATI.

"Tim `rescue` Malaysia sudah sampai di Makassar tapi terhambat sampai ke Palu karena secara geografis sangat menantang," katanya.

Putri tokoh nasional almarhum AM Fatwa itu mengatakan sebelumnya Malaysia juga sudah memberikan bantuan 500.000 Ringgit Malaysia untuk penanganan gempa di Pulau Lombok.

Cerita Perjuangan Wan Azizah

Pada kesempatan tersebut, Wan Azizah sempat menangis dan emosi saat menceriterakan perjuangannya sebagai politisi. Ia tidak merasa hebat dan merasa hanya perempuan biasa.

"Yang membuat dia kuat adalah anak-anak dan keluarga serta percaya Tuhan memberikan kekuatan menghadapi cobaan. Yang membuat dia terpukul adalah ketika Anwar Ibrahim masuk penjara dua kali," katanya.
 
Wan Azizah dan Ketua Forhati Hanifah Hussein (1)

Menurut Dian, Wan Azizah awalnya bingung menjadi politisi sebab dia tidak pandai bicara, hanya seorang dokter dan ibu rumah tangga biasa. Namun akhirnya, ia terbiasa setelah 20 tahun bicara.

Pada kesempatan tersebut, juga dibicarakan soal Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang diperlakukan tidak manusiawi meskipun memang diakui banyak yang ilegal.

"Wan Azizah mengakui memang ada perlakuan yang tidak manusiawi tetapi jumlahnya kecil. Pemerintah Malaysia akan memberikan perhatian agar mereka diberlakukan secara manusiawi," katanya.

Peserta Sekolah Demokrasi Insan Cita (SDIC) Majelis Nasional Forum Alumni HMI Wati atau Forhati dipimpin Koordinator Presidium MN Forhati Hanifah Husein.

Rombongan merupakan peserta pendidikan calon legislatif perempuan alumni HMI. Pendidikan sudah berlangsung dari tanggal 26 sampai 30 September 2018 di Jakarta.

Usai bertemu Wan Azizah, rombongan kemudian diterima Dubes RI di Kuala Lumpur, Rusdi Kirana, di ruang rapat lantai I KBRI Kuala Lumpur dilanjutkan mengunjungi shelter atau tempat penampungan TKI wanita bermasalah di KBRI Kuala Lumur.

















 
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar