Indonesia, Malaysia gelar Hari Kemerdekaan bersama

id Malaysia,Hari Kemerdekaan

Indonesia, Malaysia gelar Hari Kemerdekaan bersama

Tangkapan layar perayaan HUT Kemerdekaan RI dan Hari Kebangsaan Malaysia secara virtual dari Kuala Lumpur, Selasa. (ANTARA/Agus Setiawan)

Kuala Lumpur (ANTARA) - Gemuruh Network dan Club Yummy Mommy menyelenggarakan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-74 dan Hari Kebangsaan Malaysia ke-64 secara virtual di Kuala Lumpur, Selasa.

Acara bertajuk "Live Celebration: Sekali Merdeka Tetap Merdeka" tersebut dipandu oleh Shantee Muzafar dan Henny Melina.

Kegiatan diawali dengan pembacaan doa oleh Ustadzah Wan Noor Wan Abdullah yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" dan lagu kebangsaan Malaysia "Negaraku".

"Semoga acara ini dapat mengekspresikan self-diplomacy kepada bangsa dan negara. Kita yang tadinya sedih dan muram karena pandemi, dengan mendengarkan motivasi semoga bisa memberi semangat pada yang menonton," ujar Shantee yang merupakan pendiri Club Yummy Mommy,

Pendiri Gemuruh Network Tinur Sunandar mengatakan kegiatan ini diselenggarakan untuk membangkitkan nasionalisme Indonesia dan Malaysia.

"Suami saya orang Malaysia dan anak warga negara Malaysia. Saya sudah 13 tahun tinggal di sini. Insya Allah kita sama-sama menggelorakan acara ini," ujar pemilik Rumah Kebaya tersebut.

Kegiatan itu juga diisi dengan pemutaran video peristiwa kemerdekaan dan ucapan-ucapan HUT Kemerdekaan dari para anggota.

Joyce Nelwan, pengajar John Robert Powers, ikut memeriahkan acara dengan membawakan lagu "Rayuan Pulau Kelapa".

Puncak dari acara adalah ceramah motivasi yang menghadirkan tiga pembicara, yaitu Vice President Indonesia Trade Association (ITA) Kandi Rahayu, pemilik Cemara Ayu dan Presiden International Women Association Kuala Lumpur Ayu Mudiasih, dan selebriti Malaysia Maznah Zolkifli.
Guru Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur, Aan Mulyani, mengajari peserta menari Jaipong. (ANTARA/Agus Setiawan)


Kandi Rahayu dalam ceramahnya menyitir proklamator RI Soekarno yang mengatakan "perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, sedangkan perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri".

Kandi mengatakan pada situasi sekarang ini ada yang merasa kewarasan hati dan jiwa tidak lurus lagi karena keterbatasan-keterbatasan saat pandemi.

"Yang terpenting berjuang melawan diri sendiri. Anak-anak muda dan diri kita harus melawan kemalasan diri kira, melawan kesombongan dan melawan kebodohan, melawan pikiran negatif, melawan putus asa dan melawan kefakiran."

Untuk tetap berkibar, ujar dia, tidak hanya fisik dan kesehatan, tetapi juga mental yang tangguh.

"Lockdown menyentuh emosi termasuk rindu kampung halaman. Satu pikiran positif adalah bersyukur. Mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbaiki diri," katanya.

Ayu Mudiasih pada kesempatan itu menceritakan bagaimana awal mula perjuangannya membuka usaha spa di Langkawi pada 1998 hingga diterima publik di Malaysia kemudian sekarang ditantang oleh kondisi pandemi.

"Tantangan kerja di spa, banyak yang menilai negatif. Tetapi saya tidak putus asa. Saya bertekad ingin membuktikan dunia spa adalah dunia yang menjanjikan. Kami berhasil buktikan spa Indonesia, terutama Bali, tidak hanya disukai nasional tetapi juga internasional," katanya.

Di saat pandemi seperti ini, ujar dia, industri spa paling menderita karena begitu Movement Control Order (MCO) diterapkan, bisnis spa ditutup dan diizinkan buka kembali pada saat fase empat Rencana Pemulihan Negara (PPN).

Maznah Zolkifli mengajak kaum muda untuk menemukan jati diri dan tidak putus semangat dalam kondisi pandemi.

"Pandemi terlalu banyak kesedihan. Hilang pekerjaan, hilang keluarga. Waktu pandemi juga mengingatkan pentingnya ilmu," katanya.

Acara diakhiri dengan belajar tari jaipong secara virtual selama 30 menit yang dibawakan oleh guru Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Aan Mulyani.
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2021