AntaraKL - Bagi anda yang bukan pengajar, perlu diketahui bahwa dalam dunia pendidikan, ada dua metode pengajaran yang telah cukup dikenal yaitu metode deduktif dan induktif. Metode deduktif adalah metode dimana guru menjelaskan teori dan contoh kemudian murid melakukan latihan dan praktek. Sedangkan dalam metode induktif, guru tidak menjelaskan langsung tetapi hanya mengekspos murid pada contoh dan praktek sehari-hari, kemudian merangsang mereka untuk berlatih dan menarik kesimpulan dari kejadian-kejadian tersebut.

Metode deduktif dikenal sebagai metode tradisional yang sangat teacher-centered (berpusat pada guru) sebaliknya metode induktif dianggap lebih kontemporer dan lebih student-centered (berpusat pada murid).

Metode induktif dianggap lebih merangsang pemikiran kreatif anak. Namun metode ini pun tidak lepas dari kekurangan, karena pengetahuan tidak diberikan secara langsung pada murid melainkan diperoleh dari pemikiran kreatif mereka sendiri sehingga proses dalam pengajaran tidak bisa berlangsung singkat.

Setelah beberapa waktu mengamati dan mempelajari kurikulum 2013 dari buku-buku teks yang akhirnya diterima setelah keterlambatan beberapa bulan, dapat diambil kesimpulan bahwa metode induktif inilah yang sekarang menjadi acuan pembentukan kurikulum tersebut.

Dapat dimengerti bahwa pemerintah berusaha mengikuti tren yang berlaku dan meninggalkan cara-cara lama yang dianggap terlalu berpusat pada guru dan kurang memacu kreativitas anak.

Usaha ini sebenarnya patut diacungi jempol, namun sayangnya hal ini kurang diimbangi dengan pengertian akan waktu transisi. Para pembuat kurikulum kurang mempertimbangkan bahwa transisi dari kurikulum dengan metode pengajaran deduktif ke metode pengajaran induktif tidak dapat berhasil dalam waktu singkat karena guru dan murid membutuhkan waktu untuk penyesuaian.

Untuk mengantisipasi hal ini memang telah diadakan pelatihan-pelatihan bagi guru di seluruh Indonesia. Terlepas dari berhasil atau tidaknya pelatihan tersebut, paling tidak hal ini telah diantisipasi oleh pemerintah.

Namun bagaimana dengan murid? Murid yang selama ini hanya menunggu diberi ilmu pengetahuan, sekarang dituntut untuk mencari sendiri informasi dan menarik kesimpulannya. Hal ini tentu memakan waktu yang tidak sebentar. Selama beberapa waktu murid dibiarkan kebingungan tanpa mengetahui kemana arah pelajaran yang diterimanya sebelum akhirnya ia memperoleh kesimpulan.

Tambah jam sekolah

Untuk mengatasi masalah kekurangan waktu ini, salah satu pemecahan masalah yang pernah diwacanakan pemerintah adalah dengan menambah jam sekolah anak. Namun apakah ini solusi yang tepat? Saat ini tanpa tambahan waktu sekolah saja para murid, orang tua dan guru sudah mengeluhkan jam sekolah yang terlalu lama dan beban pelajaran yang terlalu padat.

Kurikulum yang baru ini semula menjadi harapan agar jam sekolah dan beban pelajaran yang terlalu lama dan padat diperingan, namun setelah kurikulum diperbarui ternyata malah dibutuhkan tambahan waktu untuk menyelesaikannya. Masalah lain yang timbul adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu materi ajar dengan metode induktif tetap akan lebih lama dari pada metode deduktif.

Menarik kesimpulan dari contoh-contoh yang diberikan oleh guru memakan waktu yang tidak sebentar, tergantung dari kemampuan masing-masing murid mencerna informasi yang diterima. Menghadapi hal ini, akhirnya seringkali orang tualah yang menjadi ujung tombak pendidikan karena merekalah tempat murid bertanya saat mereka kesulitan mengerjakan PR.

Kalau saja para pembuat kebijakan sekolah memang terjun dan berhadapan langsung dengan para murid, maka seharusnya waktu yang tidak singkat yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu materi dengan metode induktif ini dapat diperkirakan dengan lebih baik. Daripada menambah waktu sekolah sehingga murid harus belajar dari pagi hingga sore, lebih baik mengurangi beban pelajaran yang terlalu berat.

Beruntunglah para murid yang memiliki orang tua yang mampu membantu mereka mengerti pelajaran di sekolah dan juga memiliki akses pada teknologi yang cukup. Namun bagaimana dengan para murid yang tinggal di daerah yang masih tertinggal, pendidikan orang tuanya tidak terlalu tinggi dan teknologi belum cukup dikuasai serta belum dapat diperoleh dengan mudah? Bagaimana cara mereka mencari sendiri sumber-sumber pengetahuan tanpa dituntun dengan lebih detail oleh para guru?

Salah satu argumentasi dari pendukung kebijakan kurikulum 2013 yang pernah saya dengar adalah bahwa anak-anak dari daerah yang belum berkembang justru akan lebih diuntungkan oleh kurikulum dengan metode induktif ini karena mereka diberi kesempatan mengeksplorasi lingkungannya dan sudah lebih terbiasa mengambil kesimpulan dari eksplorasinya tersebut. Namun sekali lagi hal yang perlu dipertanyakan adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga mereka bisa sampai pada kesimpulan tersebut sementara masih banyak materi lain yang harus mereka pelajari.

Untuk itu hal yang seharusnya dipertimbangkan kembali oleh para pengambil kebijakan kurikulum adalah mempertimbangkan kembali beban materi yang diberikan. Janganlah metode yang sebenarnya sudah cukup baik ini menjadi kurang berhasil karena beban materi yang terlalu berat. Cukuplah materi difokuskan pada materi-materi praktis sehari-hari yang dibutuhkan murid untuk bertahan hidup di dunia nyata, sedangkan materi-materi detail lebih jauh lebih baik dipelajari oleh para mahasiswa yang sudah mengambil penjurusan dengan tujuan profesionalisme sesuai dengan pendidikannya masing-masing.

*Sinta D. Ratnawati
(Penulis adalah mantan aktivis Edukasi Untuk Bangsa serta penggagas FB Page ‘Gerakan Orang Tua Peduli Kurikulum Sekolah’)