Tarian Topeng Ireng Meriahkan Pariwisata Candi Borobudur

id Tarian Topeng Ireng Meriahkan Pariwisata Candi Borobudur

Tarian Topeng Ireng Meriahkan Pariwisata Candi Borobudur

Para penari Topeng Ireng dari Grup Topeng Satria Muda Dusun Bawang, Desa Ketawang, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, pentas di panggung terbuka Taman Lumbini, kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Sabtu (26/3). (Hari Atmoko/dokumen).

Borobudur, (AntaraKL) - Kesenian rakyat Topeng Ireng dari Dusun Bawang, Desa Ketawang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memeriahkan suasana kepariwisataan di Candi Borobudur, Sabtu siang.

Kelompok kesenian Topeng Satria Muda mementaskan tarian yang hingga saat ini tetap populer terutama di masyarakat Magelang tersebut, di panggung terbuka Taman Lumbini, kompleks Taman Wisata Candi Borobudur.

Para wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, yang hendak naik maupun sudah turun Candi Borobudur, tampak singgah selama beberapa waktu untuk menyaksikan pementasan kesenian rakyat yang merupakan kerja sama antara komunias Warung Info Jagad Cleguk Borobudur pimpinan Sucoro dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur.

Sekitar 60 orang menyajikan tarian Topeng Ireng yang dipadu dengan "Leak", diiringi aneka tetabuhan, seperti kendang, bedug, saron, bende, angklung, drum, dan organ. Para penari yang umumnya kalangan pemuda itu, setiap hari sebagai pekerja harian lepas membuat bangunan, bertani, dan wiraswasta.

"Ini pentas kedua kami di sini, setelah yang pertama awal Januari lalu, untuk menghibur wisatawan Candi Borobudur," kata Wakil Ketua Kelompok Topeng Satria Muda Dusun Bawang Wahono (35).

Tarian tersebut bercerita tentang sepenggal kisah dalam relief Karmawibangga yang tertera di Candi Borobudur dengan tiga pemain utama, Pangeran Sancaka (Suyani), Ki Sutopo (Paring), dan Empu Samba (Nurmadi). Wahono bertindak selaku penggarap formasi gerak, sedangkan Eko Pribadi penata musik.

Ia menjelaskan tentang cerita yang disajikan dalam tarian tersebut, yakni Pangeran Sangkala mengadakan pesta ria karena Pangeran Sancaka pergi memasuki hutan belantara dan dipercaya tidak akan pulang lagi ke istana.

Saat pesta meriah itu, datang Empu Samba untuk mengingatkan sikap Pangeran Sangkala. Tetapi Sang Pangeran tidak bisa menerima nasihat itu dan kemudian menghajar Embu Samba. Empu Samba kemudian mengutuk Pangeran Sangkala.

"Ini cerita tentang hal-hal kebaikan dan keburukan yang mendapatkan karmanya," ucap Wahono yang juga Kepala Dusun Bawang, Desa Ketawang, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang itu.

Pada kesempatan itu, ia juga mengatakan bahwa grup kesenian rakyat yang dipimpinnya tersebut sering melakukan pentas di berbagai dusun tetangga, terutama saat masyarakat memiliki hajatan, seperti pernikahan, sunatan, tradisi saparan, dan tujuhbelasan.

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar