Logo Header Antaranews Kuala Lumpur

Merawat "Sayap-sayap patah"

Sabtu, 3 September 2022 14:47 WIB
Image Print
Aktor Nicholas Saputra (ANTARA/Suci Nurhaliza)

Semua agama, apapun nama formalnya, turun ke Bumi untuk menjadi sayap bagi pemeluknya untuk mewujudkan kasih sayang Tuhan. Menggunakan logika apapun, mereka yang menggunakan bom dengan dalih membela agama, adalah bentuk pengkhianatan paling kasat mata pada ajaran inti dari agama itu sendiri.

Kalau penganut paham garis keras itu menuduh pemerintahan yang menganut sistem demokrasi itu dianggap toghut, mereka, entah lupa, bahwa Islam juga melarang keras umatnya untuk membunuh secara semena-mena terhadap sesama agama, sebagaimana diingatkan dalam Surat Al Maidah ayat 32.

Terjemahan ayat itu adalah, "Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi."

Ayat itu mengisahkan tentang kasus pembunuhan pertama kali di muka bumi dalam versi Agama Islam, yakni Qobil membunuh saudaranya, Habil.

Atau kalau menggunakan "ayat" logika, motif mereka melakukan kekerasan, yakni untuk membela Allah atau agama Allah, juga terjebak dalam kesesatan berpikir, sebagaimana pernah dinyatakan oleh almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bahwa Allah tidak perlu dibela.

Dalam logika cendekiawan muslim Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, jika seseorang atau sekelompok orang menempatkan diri sebagai pembela, maka ia atau mereka berada di posisi lebih kuat dari pada yang dibela. Kalau logika mereka melakukan pengeboman dalam rangka membela Allah, tidak sadarkah mereka bahwa sesungguhnya Allah maha perkasa atas segala sesuatu? Itulah logika yang digunakan Gus Dur, mantan presiden itu bahwa Allah tidak perlu dibela. Demikian juga dengan Islam. Umatnya tidak lebih kuat dari pada agamanya. Allah sendiri yang telah menjaga Islam itu.

Peristiwa Bom Bali, Bom Sarinah di Jakarta, bom di gereja di Surabaya dan tempat lain, termasuk penyanderaan anggota Polri di Markas Brimob Jakarta, adalah luka yang membekas. Meskipun demikian, tak berarti lupa-luka pada sayap yang patah tidak bisa disembuhkan.

Baca juga: Fakta menarik di balik film "KKN di Desa Penari"
 

Oleh
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2026