Logo Header Antaranews Kuala Lumpur

BAHU SEORANG AYAH

Kamis, 19 Juni 2014 18:26 WIB
Image Print
Potret seorang Ayah

Kuala Lumpur, 19/6 (AntaraKL) - Hari ini, hari minggu ketiga di bulan Juni 2014, Malaysia merayakan HARI BAPA atau Fathers Day yang juga dirayakan di seluruh dunia.

Pagi tadi, saya sudah mengucapkan Selamat hari ayah kepada Papa saya, dan beliau amat gembira dengan kabar dari saya dan celotehan cucu-cucu beliau (anak-anak saya) saat di telepon.

Saya ceritakan pada ayah saya, bahwa sejak awal Juni, semua pusat-pusat perbelanjaan memberikan diskon besar-besaran untuk para ayah. Demikian pula, suplemen atau obat-obatan untuk penyakit menahun yang memerlukan obat sepanjang hayat mendapat diskon hingga 70 persen.

Selain tentu saja, bagi pensiunan pegawai negeri ada subsidi dari pemerintah. Beliau juga bilang, mengapa ya di Indonesia tidak ada hari ayah? Nah, tentu saja saya tak dapat menjawabnya. Tapi, hari ini saya tak bercerita tentang ayah saya ya. Tetapi tentang beberapa ayah yang dikaruniai anak istimewa.

Terminologi anak istimewa biasa digunakan untuk anak-anak yang terlahir tidak normal. Atau di Malaysia sering pula digunakan istilah orang kurang upaya (OKU).

Tentu saja karena bulan Mei dan Juni adalah bulan mengingatkan kembali peran orangtua, maka saya ingin juga memberi penghargaan pada para ayah yang memberikan perhatian yang terbaik untuk anak-anaknya yang cacat.


Masih banyak yang malu

Saya amat jarang bertemu dengan para ayah yang memperlihatkan perhatian penuh dan menampakkan kasih-sayang yang tulus kepada anak-anak mereka, yang kebetulan lahir dengan disabilitas tertentu.

Di rumah sakit atau tempat-tempat umum, kebanyakan yang memberi perhatian pada anak-anak tersebut adalah para ibu. Itupun, jarang dari mereka yang melayani anak-anak ini dengan tersenyum.

Tampak guratan-guratan wajah letih dan hidup terasa muram buat para orangtua itu. Dalam beberapa kasus yang saya kebetulan temui, para ayah acapkali menyalahkan istri mereka yang melahirkan anak-anak yang lahir cacat.

Para ayah ini, kerap menjadikan alasan anak-anak yang lahir cacat, untuk meninggalkan istri-istri mereka. Bahkan, tidak jarang, anak-anak yang kurang upaya ini, terpaksa hidup terlalu singkat, mungkin hanya beberapa tahun saja, karena mengalami penganiayaan fisik dan mental yang kerap dari orangtua mereka, terutama ayah mereka.

Sebagian besar, para orangtua malu mempunyai anak-anak yang cacat. Padahal, seandainya mereka membuka diri, maka banyak bantuan dan pengetahuan yang mereka dapatkan.


Rahmat Allah


Beberapa waktu lalu, saya tersentuh dengan perlakuan seorang ayah yang dengan sabar menyuapi anaknya yang Down Syndrome dan masih berusia 5 tahun, di sebuah rumah makan.

Pelan-pelan ia menyuapi anaknya dan sesekali membelai kepala anak itu. Sang ayah yang menemani anaknya, karena ibunya masih bekerja, demikian katanya kepada saya.

Sang ayah yang cukup berpendidikan ini percaya, bahwa apapun yang terjadi pada nasib keluarganya, itu karena Tuhan mempunyai rencana untuknya. Rencana Allah, adalah yang terbaik untuk ia jalani.

Bapak ini pun mengatakan bahwa, tidak ada cobaan yang kita tak mampu mengatasinya. Allah sudah berjanji dalam kitabNYA, bahwa Dia tak akan menimpakan cobaan kepada seseorang atau sesuatu kaum, melebihi dari apa yang bisa mereka tanggungkan.

Bahkan menurut lelaki itu, ia belajar pada anaknya artinya semangat hidup dan bersyukur atas segala yang telah dikaruniakan Tuhan.

Anaknya memang lambat dalam beberapa hal seperti membaca dan bergerak, tetapi ia tekun kalau melukis, ceritanya. Sayang sekali, ia tak membawa hasil karya anaknya kala itu.

Anak itu memegang erat tangan saya, saat saya menjabat tangannya dan menyapanya. Ekspresi wajahnya tak berubah. Hanya ia seakan tak ingin melepaskan jari-jemari saya. Saya pun memeluknya.

Sebenarnya, teman baik saya, juga seorang Ayah juga pernah membuat saya terharu-biru. Ketika beberapa tahun silam, kami bertemu di Cilandak Town Square (Citos) Jakarta beberapa tahun silam. Ia membawa anaknya yang autism.

Saya lihat bagaimana ia memperlakukan anaknya itu seperti harta yang tiada ternilai. Saya tahu, ia tidak pernah menyesal memiliki anak tersebut. Meski tidak diucapkannya, saya tahu bagi dia anaknya adalah rahmat Tuhan baginya.

Saya ingin lelaki seperti dia menulis buku tentang bagaimana ia berinteraksi dengan anaknya yang Autism dan menjadikan anaknya, manusia yang berguna, sesuai kemampuannya.


Bersikap terbuka

Para ayah seringkali menganggap tugas mengasuh anak-anak adalah sepenuhnya tanggung-jawab Ibu. Penekanan ini dilekatkan, bahkan pada saat anak-anak masih kecil. Jika anda membaca buku-buku pelajaran sekolah dasar sekarang, maka anda akan temui hal-hal itu.

Para Ayah seringkali lupa, bahwa anak-anak belajar keberanian dan percaya diri dari seorang ayah juga. Anak-anak lelaki misalnya, akan gembira sekali jika mereka dapat meluangkan waktu bersama ayah mereka untuk bermain layang-layang, bermain sepak-bola, memancing ikan atau memanjat pohon saat musim buah.

Anak-anak perempuan pun sama, ia ingin melihat sosok ayah mereka sebagai hero, pahlawan yang setiap kali mereka menemui kesulitan, ayah mereka ada dan bersama mereka menyelesaikan berbagai persoalan.

Para Ayah dengan anak-anak yang terlahir cacat mesti memahami, bahwa kromosom-kromosom yang membawa kelainan genetik, kemungkinan besar dibawa oleh kedua belah orangtua mereka. Jadi tidak dapat menyalahkan seorang istri.

Para Ayah, juga selayaknya bersikap terbuka, sehingga dapat memperoleh bantuan dari berbagai pihak. Kelompok para ayah yang mempunyai anak-anak yang cacat seringkali muncul karena kebutuhan informasi antar mereka. Bergabunglah dengan para Ayah ini.

Saya kira, alangkah bagusnya jika mulai sekarang mereka mulai sadar, bahwa selalu ada masa depan yang lebih baik bagi anak-anak cacat ini. Sekolah-sekolah luar-biasa dibangun, para guru juga diberikan pendidikan yang lebih baik. Bahkan di antara para guru sekolah luar biasa, ramai yang sudah bergelar master (S-2).

Di Malaysia, fasilitas untuk orang-orang kurang upaya cukup diperhatikan, seperti tersedianya Lift di terminal-terminal bus atau kereta api, WC, kamar mandi dan tempat parkir untuk orang cacat dan lain sebagainya. Hal itu sebaiknya juga ditiru di Indonesia.

Sebagai warganegara mereka berhak mendapatkan perhatian dari pemerintah berkaitan keperluan mereka sehari-hari.

Mengingat kembali peran Ayah yang besar untuk anak-anak cacat mereka, dan melihat serta berinteraksi dengan para Ayah tersebut maka, senyampang masih bulan Juni, saya ingin mengucapkan hari bapa kepada para ayah yang dengan sabar dan tulus, telah dan akan terus, menjaga dan mengasuh anak-anak mereka yang istimewa ini. Semoga Tuhan, senantiasa bersama kalian, para Bapa yang hebat. Sekali lagi selamat hari Ayah ya.

Penulis: Weka Gunawan

Catatan, 15 Juni 2014.
(Weka Gunawan, adalah Doktor Ilmu Kesehatan Keluarga dari Fakultas Kedokteran National University of Malaysia. Weka Gunawan, merupakan pengamat berbagai kesehatan masyarakat sejak tahun 1995)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026