
Indonesia dorong penguatan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara

Kuala Lumpur (ANTARA) - Indonesia melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru, Malaysia bersama perwakilan Bank Indonesia (BI) di Singapura, mendorong penguatan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara.
Penggunaan mata uang lokal dinilai dapat memacu kedaulatan ekonomi dua negara, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan kerentanan ekonomi dunia, mengingat ketergantungan pada mata uang pihak ketiga seperti dolar AS semakin dipandang tidak efisien dan berisiko.
KJRI Johor Bahru dalam keterangan yang diterima di Kuala Lumpur, Sabtu, menyampaikan fluktuasi nilai tukar, biaya konversi berlapis, serta tekanan eksternal mendorong perlunya alternatif yang lebih stabil dan berdaulat.
Dalam konteks ini, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral menjadi sebuah solusi yang semakin relevan.
Indonesia dan Malaysia sendiri sebenarnya telah memiliki kerangka kerja Local Currency Transaction (LCT), yakni penyelesaian transaksi antarnegara dengan penggunaan mata uang lokal (rupiah dan ringgit) tanpa perantara mata uang pihak ketiga. Namun, implementasinya dinilai masih belum optimal.
Meskipun penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar transaksi masih bergantung pada mata uang global.
Sebagai salah satu upaya meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi, KJRI Johor Bahru dan perwakilan Bank Indonesia di Singapura menggelar forum strategis bertajuk “Leveraging the Benefits of Local Currency Transactions (LCT) Indonesia–Malaysia to Support Bilateral Economic Growth”, di Johor Bahru, Rabu (1/4) lalu.
Dalam acara tersebut, Analis Eksekutif Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Singapura Budi Satria menegaskan bahwa LCT merupakan solusi taktis untuk meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara.
Dengan dukungan infrastruktur pembayaran modern berbasis barcode seperti QRIS (Indonesia) dan DuitNow (Malaysia), penggunaan rupiah dan ringgit secara langsung mampu memperkuat konektivitas keuangan yang memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha, termasuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Budi menyampaikan meski kerangka kerja LCT telah dirintis kedua negara sejak tahun 2016, tetapi pemanfaatannya masih perlu diakselerasi.
Baca juga: BI: Transaksi QRIS antarnegara RI-Malaysia tertinggi dibanding negara ASEAN lain
Sebagai gambaran, pangsa penyelesaian perdagangan Malaysia-Indonesia dalam mata uang lokal baru mencapai sekitar 16,3 persen atau setara 10,6 miliar ringgit pada tahun 2025.
Sementara itu Konsul Jenderal RI Johor Bahru, Sigit S. Widiyanto mengatakan Indonesia memiliki hubungan erat dengan Malaysia, khususnya dengan Negara
Bagian Johor di berbagai aspek, seperti geografis, sosial, budaya, sejarah dan ekonomi.
Konjen Sigit memberikan contoh 8 dari 11 terminal feri penumpang internasional yang menghubungkan kedua negara berada di Johor.
Mobilitas warga kedua negara pun tercatat sangat intensif. Pada tahun 2025 tercatat 2,6 juta wisatawan Malaysia berkunjung ke Indonesia, sementara 3,8 juta wisatawan Indonesia mengunjungi Malaysia untuk keperluan pariwisata, kesehatan, hingga pendidikan.
Kedua negara juga saling menjadi mitra dagang utama dan saat ini pemimpin kedua negara memiliki hubungan yang sangat erat dan dekat.
Oleh karena itu Sigit mendorong para pelaku usaha untuk meningkatkan penggunaan LCT dengan konsep L.A.J.U yaitu:
1. L – Local Currency: Mendorong mata uang lokal sebagai pilihan utama guna mencapai efisiensi dan kedaulatan ekonomi.
2. A – Accelerate Adoption: Mempercepat adopsi oleh sektor perbankan dan pebisnis mengingat infrastruktur teknis sudah tersedia.
3. J – Joint Growth: Menempatkan LCT sebagai instrumen pertumbuhan bersama yang memberikan keuntungan setara bagi kedua negara dan kawasan.
4. U – Unlock Potential: Mengoptimalkan potensi besar yang selama ini terhambat, terutama di sektor perdagangan, pariwisata, pendidikan, hingga mobilitas talenta profesional.
KJRI Johor Bahru menekankan bahwa pendekatan LAJU menegaskan LCT bukan sekadar instrumen teknis, tetapi strategi untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan memperdalam integrasi kawasan.
Manfaat nyata
Dalam sesi diskusi yang menghadirkan pakar dari Bank Indonesia, Bank Negara Malaysia, dan Atase Perdagangan KBRI Kuala Lumpur, disampaikan berbagai manfaat praktis penggunaan LCT.
Sistem ini secara efektif menghilangkan biaya double conversion (konversi ganda melalui dolar AS) yang selama ini membebani pelaku usaha, dan menurunkan biaya logistik. Sistem ini dinilai akan meningkatkan efisiensi serta memberikan kepastian nilai tukar yang lebih stabil.
Bagi masyarakat umum, LCT mempermudah pembayaran biaya sekolah anak di luar negeri hingga pembayaran tagihan rumah sakit tanpa harus khawatir dengan fluktuasi mata uang global.
LCT juga menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan sistem keuangan regional.
Meski demikian, para narasumber mengakui adanya tantangan berupa dominasi psikologis dolar AS dan keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai mekanisme kurs lokal.
Sebagai tindak lanjut, forum ini menyepakati perlunya edukasi yang lebih masif serta transparansi penetapan kurs oleh bank-bank penunjuk (Appointed Cross Currency Dealers atau ACCD) agar LCT digunakan secara luas oleh masyarakat kedua negara saat melakukan transaksi bilateral.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 90 pelaku usaha yang merepresentasikan berbagai sektor vital, mulai dari perbankan dan lembaga remitansi, hingga pengelola rumah sakit swasta, institusi pendidikan, serta para eksportir dan importir.
Pewarta : Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor:
Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
