
BI komitmen optimalkan seluruh instrumen operasi moneter

Jakarta (ANTARA) - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan pihaknya berkomitmen penuh mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna menjaga pergerakan nilai tukar rupiah.
“Kami akan mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter yang kami miliki. Jadi yang sekarang ini yang terus dilakukan oleh kami adalah secara terukur, continue, dan juga timely,” ucap dia dalam agenda Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin.
Pasca-eskalasi konflik antara AS-Zionis Israel dengan Iran, mata uang beberapa negara seperti Indonesia, Korea Selatan, Thailand, dan Filipina mengalami depresiasi yang cukup mendalam.
Rupiah sendiri melemah sekitar 1,91 persen year to date yang dipicu aliran modal keluar (outflow) yang signifikan serta meningkatnya ketidakpastian global.
Dalam rangka menghadapi situasi tersebut, lanjutnya, BI secara aktif melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar Non-Deliverable Forward (NDF).
Kehadiran di pasar NDF dinilai menjadi krusial karena pergerakan kurs di sana seringkali melonjak secara spekulatif, bahkan sebelum adanya transaksi riil di domestik.
Karena itu, pihaknya kini beroperasi 24 jam dengan mengoptimalkan kantor perwakilan di London dan New York. Pengawasan dilakukan secara berkesinambungan, mulai di pasar finansial Singapura, Tiongkok, hingga Amerika Serikat (AS) guna memastikan volatilitas tetap terkendali.
Melihat dari sisi likuiditas, BI menargetkan pertumbuhan uang inti (base money) tetap terjaga di atas 10 persen sebagai indikator bank sentral tetap menempuh kebijakan ekspansif untuk mendukung penyaluran kredit perbankan.
Koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan pemangku kepentingan terkait juga terus dilakukan melalui pembelian atau penjualan surat berharga pada momentum yang tetap guna menjaga daya tarik instrumen domestik.
Pihaknya turut meningkatkan tata kelola transaksi valuta asing di dalam negeri dengan mewajibkan setiap transaksi valas di atas 50 ribu dolar AS wajib menyertakan dokumen pendukung (underlying transaction) yang jelas.
“Sebenarnya transaksi spot kita total valasnya itu sekarang sudah sekitar 9 miliar sampai 10 miliar (dolar AS) per hari..(Namun) dalam kondisi seperti ini, memang semua wait and see. Jadi yang dibutuhkan adalah confidence,” ungkap Destry.
“Tentunya dari kami regulator, kami akan terus mengawal. Kita tak mungkin melepas begitu saja. Kita akan terus bersama-sama mengawal pada kondisi ekonomi kita karena keuangan ini adalah yang langsung terekspos, sehingga dari BI kita akan terus all out untuk menjaga stabilitas,” katanya.
BI turut memperluas skema Local Currency Transaction (LCT) yang merupakan kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dengan negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand. Penerapan LCT diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah secara berkelanjutan.
“Akhir 2025, transaksi LCT itu mencapai 25,7 miliar dolar AS dan itu kenaikan dua kali lipat dibanding tahun 2025. Upaya ini akan terus kita lakukan bersama dan tentunya bukan hanya dengan Bank Indonesia, tapi kita juga tentu akan kerjasama dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya,” ujar Deputi Gubernur Senior BI.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BI komitmen optimalkan seluruh instrumen operasi moneter
Pewarta : M Baqir Idrus Alatas
Editor:
Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
