Orientasi Pendidikan Orang Tua Untuk Anaknya

id Sulton Kamal,SIKL,Pendidikan

Orientasi Pendidikan Orang Tua Untuk Anaknya

Sulthon Kamal (1)

Kuala Lumpur (ANTARA) - Baru saja berlalu peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-50 sekolahku, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Sekolah ini termasuk salah satu Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN) yang tertua yag dimiliki oleh Indonesia sejak NKRI Merdeka. 

Selain di Malaysia, sebenarnya SILN tersebar di berbagai negara. Kurang lebih ada 14 SILN, diantaranya di Cairo, Belanda, Jepang, Thailand, Singapore, Philipina, Saudi Arabia, Rusia, Malaysia dan Myanmar.
 
Di wilayah yang berada dibawah akreditasi KBRI Malaysia, sekarang ada beberapa sekolah setingkat SILN yang menampung dan melayani warga Negara Indonesia dalam masalah pendidikan. 

Diantaranya, dua di Semenanjung (Malaysia barat) yaitu Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) di Kuala Lumpur dan Sekolah Indonesia Johor Baru (SIJB) di Johor Baru, serta satu di Sabah (Malaysia timur), yaitu Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) di Kota Kinabalu. 

Disamping itu ada banyak pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) atau yang sering disebut dengan Community Learning Center (CLC) yang ada di ladang-ladang perkebunan di Sabah dan Sarawak.
 
Diantara sekian banyak SILN, SIKL merupakan sekolah terdinamis dan tertua dari sekolah-sekolah yang lain. Sekolah yang terletak di tengah-tengah kota Kuala Lumpur, tepatnya di No. 1 Lorong Tun Ismail ini, diresmikan keberadaannya pada 10 Juli 1969 oleh Duta besar saat itu Mayor Jendral TNI (Purn) Tan Sri H.A. Thalib Depati Santio Bawo dan dihadiri pula oleh Dato’ Abdul Rahman Jacob, Menteri Pengajaran Malaysia.
 
Moment usia lima puluh tahun bagi kebanyakan orang dianggap sesuatu yang istimewa, sebab merupakan waktu yang cukup panjang untuk sebuah proses kedewasaan. 

Oleh karenanya, panitia pelaksana peringatan Golden Anniversary SIKL juga menganggap sudah masanya untuk mengingatkan sekolah dan keluarga besar didalamnya untuk mampu mengaca, berinstrospeksi, bijak, matang dan menjadi dewasa dalam bertindak, dengan memperingati hari jadinya.
 
Peringatan hari ulang tahun SIKL sendiri pelaksanaannya berlangsung meriah dua hari berturut-turut pada 2-3 Agustus 2019. 

Mengundang para alumninya dari angkatan pertama sampai terakhir yang baru lulus kemarin pada tahun pelajaran 2018/2019. Juga dihadirkan para guru dan kepala sekolah yang pernah bertugas di sekolah yang menjadi almamater salah satu mantan artis rock wanita terkenal di Indonesia, yaitu; Nicky Astria.
 
Hari pertama diawali pada pagi hari dengan jalan sehat pagi bersama, yang diikuti oleh semua yang hadir dari mulai para murid, guru, karyawan, alumni, mantan para guru serta kepala sekolah, juga anggota komite sekolah, serta para undangan lainnya dengan route SIKL-OUM (open university Malaysia)-SIKL. 

Disusul kemudian sarapan pagi dan Talk Show yang menghadirkan para alumni sekolah yang dianggap berhasil dalam meniti karir dalam kehidupannya.
 
Adapun hari kedua diisi dengan pagelaran pentas seni seharian penuh yang menampilkan kebolehan para murid SIKL, para alumni, maupun artis komedi undangan. 

Untuk memeriahkan suasana acara tersebut, panitia juga sengaja membuka booth-booth Bazar aneka makanan dan masakan Indonesia, serta tidak ketinggalan mercendise yang berkaitan dengan tema ulang tahun ke-50 SIKL.
 
Masih pada hari kedua itu juga, pada malam harinya diadakan acara special yang dinamakan oleh panitia yaitu; Malam kenangan, dimana panitia mendesign mata acara-demi mata acara diantaranya untuk tujuan merangkai kembali kenangan dari para alumni dan para bapak / ibu guru serta kepala sekolah tentang apa yang pernah dialami disekolah tercinta ketika mereka bertugas maupun sekolah, pengalaman yang menyenangkan, membahagiakan, menggembirakan, menyebalkan, menyedihkan bahkan menyakitkan.
 
Seronoknye Reunian

Semua kita sudah tentu pernah sekolah, biasanya para alumni sekolah pada jenjang tertentu sangat lazim mengadakan reuni untuk bertemu kembali dengan kolega yang lama sudah tidak bertemu. 

Apalagi pada era kita sekarang ini, media sosial menjangkau tempat-tempat terpencil. Dengan gajet, semua bisa terhubung dan berhubungan satu sama lain. 

Penulis yakin masing-masing kita juga pernah menghadiri moment acara reunian, entah itu reuni dengan kawan-kawan sekolah atau komunitas dan perkumpulan tertentu dalam kehidupan kita.
 
Demikian juga dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, walaupun keberadaannya di Luar Negeri yaitu di Negeri Jiran Malaysia, dan sudah menghasilkan lulusan dari berbagai angkatan yang meneyebar diseluruh Indonesia, bahkan all over the world di seantero dunia, tetap saja para alumninya semangat untuk hadir dan menyemarakkan suasana ulang tahun sekolahnya yang dicintainya.
 
Tidak mau kalah dengan para alumninya yang jauh-jauh hari kedatangannya dikoordinir oleh Team Kuala Lumpur alumni, begitu juga dengan alumni para guru dan kepala sekolah yang pernah bertugas di SIKL. 

Mereka juga sudah memberitahukan sejak lama akan hadir dan bahkan sudah menyerahkan itenerery perjalanan mereka di Kuala Lumpur dari kedatangan hingga kepulangannya.
 
Semuanya dalam suasana suka cita menyambut perayaan hari ulang tahun sekolah yang sudah hampir setahun sebelumnya digagas dan direncanakan untuk diperingati. 

Setali tiga uang dengan keluarga besar sekolah yang nota bene menjadi panitia untuk mempersiapkan acara yang ditunggu-tunggu hari berlangsungnya oleh civitas academika dan stake holder SIKL. 

Sungguh suatu moment yang sangat menyejarah, dan tidak ada lagi kesempatan untuk yang kedua kali bagi yang tidak bisa menghadirinya.
 
Bagi penulis, yang secara resmi berada di SIKL menjadi tenaga pendidik sudah relatif agak lama, hampir sepuluh tahun. Tentu merasakan denyut nadi institusi ini dengan segala dinamikanya, paling tidak dalam satu dasawarsa terakhir sampai diadakannya peringatan anniversary. Dengan demikian banyak alumni dari para murid dan guru, serta kepala sekolah yang penulis kenal dan mengerti.
 
Dalam struktur kepanitiaan, semua guru dan karyawan dikerahkan untuk terlibat serta mensukseskan gebyar pentas kegiatan dari persiapan sampai akhir penutupan acara. 

Termasuk didalamnya penulis, sehingga penulis juga merasakan “heboh-hebringnya” kegiatan ini sejak sedari awal. Bagaimana tidak, semua kegiatan sekolah sebelumnya seolah seperti terkonsentrasi dan tertuju pada kegiatan yang menyejarah serta monumental ini.
 
Jauh-jauh hari panitia sudah marathon mengadakan meeting dan mempersiapkan segala sesuatunya berkaitan dengan kegiatan ini. Dari mulai persiapan panggung, acara, performance, tamu undangan, sponsorship, artis, lighting, penjemputan, transportasi, akomodasi, konsumsi, setting tempat, goody bag, sound system, decorasi dan dokumentasi, semua begitu tertata dan kelihatan well prepared, dibawah komando ketua panitia Drs. Mochammad Dadang Sholeh, M.A. seorang guru seni musik dan guru senior yang dimiliki SIKL.
 
Penulis sejak awal, walaupun bukan alumni, tapi lebih sebagai anggota panitia pelaksana juga merasa senang bisa menyaksikan dan terlibat dalam kegiatan ini. Kegembiraan penulis sudah mulai terasa ketika menjemput salah-satu keluarga mantan guru yang bertugas di SIKL. 

Suasananya begitu akrab dan hangat dengan keluarga tersebut, seolah sudah kenal lama. “Ngobrol ngalor ngidul” tentang pengalamannnya selama di “Ke-el”.
 
Suasana terasa semakin “seronok” (Demikian bahasa kami di Kuala Lumpur untuk mengungkapkan sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan hati) apabila penulis saksikan sendiri mulai hari pertama. 

Para alumni berdatangan ke sekolah yang lama mereka tinggalkan, bertemu dengan para alumni lain, teman-temannya dahulu ketika menuntut ilmu dan mengalami masa kebersamaan hidup di Kuala Lumpur.
 
Mereka mulai terlihat mengikuti satu persatu acara yang ditentukan oleh panitia, dari mulai jalan sehat pagi bersama, talk show, pentas seni, penggalangan dana, dinner, malam kenangandan lain sebagainya. 

Sekali lagi keseronokan tampak disetiap wajah masing-masing peserta reuni. Apalagi diselingi gelak tawa, cerita lama, selfi-selfi dan saling mengambil gambar secara bergantian dan bersama-sama.
 
Kegembiraan tampak dimana-mana, disetiap sudut sekolah tua peninggalan penjajah British yang dulunya adalah sebuah Coffe House tempat Rendesvouz para pembesar penjajah itu. 

Demikian pula stand-stand bazar makanan dan minuman yang dikonsentrasikan di Hall penuh dengan pengunjung para peserta reuni yang saling menyapa dan bercengkramasambil menikmati aneka jajanan, minuman serta makanan yang mereka pesan.
 
Kenangan Reuni

Pesta pasti berakhir, demikian kata pepatah. Sesuatu itu pasti akanada akhirnya, semeriah apapun dan sekuat apapun kita menghendakinya untuk terus berlangsung. 

Tapi ya begitulah sunnahnya, sesuatu pasti ada akhirnya. Demikian juga dengan acara Reunian, sekaligus peringatan Golden anniversary SIKL. Acara tersebut sudah berakhir, dan hanya tinggal kenangan yang akan dikenang oleh masing-masing peserta yang hadir ketika itu.
 
Kalau setiap peserta ditanya tentang kenangan apa yang didapat setelah mengikuti rangkaian acara reuni. 

Pasti kita akan mendapatkan berbagai macam jawaban sebanyak para peserta yang mengikuti dan menjawabnya. 

Mungkin saja ada yang terkenang dengan pertemuan dengan gurunya yang lama, mungkin juga ada yang terkenang karena bertemu dengan teman lamanya yang sangat dekat dulu ketika sekolah bersama. Juga sangat mungkin terkenang dengan peampilan mereka yang bisa menghibur para peserta. Seribu satu kenanganlah pastinya.
 
Penulis sendiri punya kenangan yang mungkin berbeda dengan yang lain. Dari semua rangkaian mata acara yang disusun panitia, bagi penulis semua menyenangkan dan bagus. Mengesankan dan meninbulkan kenangan tersendiri. 

Tapi kalau boleh penulis bertutur, ada yang menurut penulis perlu share, apalagi karena profesi penulis sebagai seorang pendidik. Jadi kenangan reuni kemarin juga penulis maknai dari pendekatan pendidikan (Educational Approach) yang kebetulan penulis alami.
 
Disela-sela seronoknya suasana pelaksanaan reuni 50 tahun SIKL kemarin, penulis sempatkan jajan dan minum di Hall, tempat bazar berlangsung. 
Suasana penuh dengan pengunjung yang sedang menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan sambil bercerita panjang lebar. Kebetulan penulis duduk satu meja dengan sepasang suami istri. Rupanya sang Istri adalah salah satu alumni SIKL dulu kalau tidak salah pernah duduk di bangku SMA antara 1986-1989.
 
Setelah berkenalan, rupanya dulu sang alumni ini adalah anak salah seorang home staff KBRI. Penulis dikenalkan juga dengan suaminya. Beliau adalah seorang dokter spesialis ahli bedah tamatan mulai Sarjana, Master, sampai Phd dan Spesialis keahliannya didapat dari universitas yang sangat bergengsi di Indonesia.
 
Disela-sela pembicaraan kami, berdua suami-istri itu bercerita bahwa, sebenarnya mereka sudah datang di Kuala Lumpur seminggu yang lalu bersama anaknya. 

Sambil menghadiri reuni di SIKL mereka juga akan survei ke beberapa Universitas di Malaysia untuk nanti anaknya kuliah. Sejurus kemudian penulis melihat sang suami mengeluarkan obat-obatan dari kantong saku celananya, seraya berkata: “Saya seumur hidup sudah tergantung dengan obat ini. Dalam tubuh ini sudah dipasang dua ring untuk kesehatan jantung saya.”
 
Penulis kaget ketika beliau menggenggam obat itu lalu dengan sekali gerakan tangannya obat tersebut sudah masuk dalam mulutnya. 

"Walaupun saya seorang dokter, tapi tidak berarti bisa mengelak dari kematian. Saya itu biasa, bahkan sangat sering membedah tubuh orang, ibaratnya saya itu melihat batas antara kehidupan dan kematian seseorang. Seolah-olah saya menjadi perantara antara malaikat maut dan kehidupan seseorang"". Demikian ujarnya disela perbincangan kami.
 
“Kamu disini sejak kapan, mengajar apa.” Tanyanya kepada penulis. Penulis mencoba melayani pertanyaannya dengan menjawab bahwa, penulis sudah sekitar sepuluh tahun menjadi tenaga pendidik di SIKL, dan mengajar Pendidikan Agama Islam. 

Tapi penulis buru-buru menambahkan, bahwa di SILN guru harus siap mengajar mata pelajaran apa saja, karena guru di SILN itu Come and Go. Jadi harus siap-siap menggantikan guru yang belum datang, atau malah sudah pulang ke tanah air.
 
“Bagus!” tiba-tiba saja sang bapak berkata, sambil menambahkan: “Sebaiknya kita mendahulukan dan mendidik anak-anak kita dengan pendidikan agama, perkuat sejak dini pendidikan agama anak-anak kita.” 

Sambil setengah mengingatkan kepada penulis beliau melanjutkan pembicaraannya: “Jangan seperti bapak ini, kesadarannya datang terlambat. Sadar akan arti pentingnya pendidikan agama setelah dekat dengan kematian. Semua manusiakan akhirnya akan mati, dan ujung dari kehidupan inikan memang kematian.”
 
Sambil menambahkan sebuah pepatah, beliau meyakinkan penulis: “Kalau kamu menamam rumput, tidak akan mungkin tumbuh padi. Tapi sebaliknya, yakinlah kalau kamu menanam padi pasti akan ikut disana tumbuh rumput.” 

Sejurus kemudian beliau menerangkan: “Kalau kamu belajar agama dan memprioritaskannya pasti nanti keduniaan juga akan kamu dapatkan. Tapi apabila kamu belajar keduaniaan semata dan memprioritaskannya, maka jangan harap kamu akan mendapatkan agama dan akhiratmu.”
 
Agak sedikit berseloroh dan memuji pandangannya, penulis menanggapi: “Ah Bapak ini bisa saja, bapak sebagai dokter bedah ternyata bisa juga ya bicara sebagaimana ustadz yang sering ceramah dan biasa dengan laku spiritual. Kalau yang bicara ustadz atau guru agama, itu biasa saja, tapi kalau seorang dokter ahli bedah, bagi saya itu sesuatu banget lho pak.” 

Dijawab oleh beliau dengan singkat: “Ini semua karena pengalaman hidup yang saya alami, memang kadang kesadaran akan hidup, mati, dunia, dan akhirat itu datangnya terlambat, dan kadang didapat setelah seseorang itu berpengalaman, serta dewasa dalam menghadapi kehidupan dunia ini.”
 
Pembicaraan kami akhirnya terpotong setelah hujan gerimis diluar hall reda. Dengan pelan, beliau bangkit dari duduknya dan mengajak istrinya pulang ke Hotel di kawasan Bukit Bintang karena anaknya sudah berkali-kali telpon, ingin keluar jalan-jalan. 

Setelah bertukar nomor telpon dan bersalaman, pergilah suami-istri itu dengan janji akan datang lagi di malam kenangan.
 
Orientasi Pendidikan

Masih dari kenangan reuni 50 tahun SIKL, penulis berkesempatan bertemu lagi dengan mantan kepala sekolah yang sedari dulu penulis kenal sebagai seseorang yang “berisi” dan bervisi. Masih seperti dulu, walaupun pertemanan kita agak kurang hangat karena adanya barrier Hierarchy dalam birokrasi, tapi tak menghalangi kita untuk saling menyapa dan berkomunikasi. 

Tapi keadaan beliau agak kurusan, apa karena sakit (Benakku menerka-nerka), ternyata tidak. Rupanya beliau sering mengamalkan berolah raga bagi orang-orang yang sudah berumur, yaitu semacam gerakan Tai-Chi.
 
Dalam kesempatan perbincangan dengan kami, para guru yang masih sangat mengenalinya. Beliau mengingatkan kepada prinsipnya yang dulu ketika masih menjabat sebagai kepala sekolah di SIKL.

"Anak-anak kita itu harus baik dulu, baru pinter kemudian. Betapa banyak orang yang pinter, tapi akhlaknya tak karuan. Lebih mudah membuat pinter orang baik, daripada memperbaiki akhlak orang pinter.”
 
Sambil berbicara panjang lebar, beliau menambahkan: “Makanya saya pingin selalu berbuat baik kepada siapapun, saya akan menularkan sikap, akhlak yang baik kepada orang-orang disekitar. 

I don’t Care, orang lain mau tidak baik sama saya, yang penting saya akan berbuat baik. Ibarat seorang petani tidak boleh hanya kebunnya saja yang baik, bebas dari hama tanaman, akan tetapi kebun-kebun milik petani lain juga harus terbebas dari hama. 

Bisa dibayangkan, sesuatu yang tidak mungkin kan, kita mempunyai kebun yang terbebas dari hama, sedang kebun sekitar kita penuh terserang hama tanaman. 

Tentu lama kelamaan, hama itu akan sampai dan menyerang kebun kita juga. Jadi harus baik bersama dan semua, baru bahagia kita hidupnya. Dikelilingi orang-orang yang akhlaknya baik.”
 
Selain itu, beliau juga mengingatkan: “Orang itu ujung-ujungnya kan akan mati, makanya yang dibawa itu hanya amal perbuatan yang baik. Akhlak yang baik selama kehidupan kita di dunia yang menjadi pemberat timbangan pahala nanti.”
 
Mak jleb!, Penulis mendengarnya. Dengan agak sedikit nyindir, “nyinyir” dan merendah, penulispun menimpalinya: “Sejak kapan bisa ceramah seperti itu? lulus… lulus dach, pokoknya… jadi guru Pendidikan Agama Islam… Saya selama ini sebagai guru Pendidikan Agama Islam saja jarang ngomong seperti itu didepan murid-murid.”
 
Dengan muka sedikit senyum kecut memperhatikan penulis dan “mlengos”, maka sekelebatan berikutnya, beliau sudah digandeng kolega yang lain untuk berjalan-jalan seputar sekolah (School Tour) sambil menikmati ramai hingar-bingarnya suasana reuni.
 
Dari perbincangan dengan dua orang dewasa yang penulis temui di arena reuni, penulis bisa mengambil benang merahnya, jika dikaitkan dengan dunia pendidikan yang sedang penulis geluti, yaitu; Orang semakin dewasa dan sudah melalui berbagai lika-liku pengalaman kehidupan, maka individu tersebut akan semakin bijaksana dan mengarahkan kehidupannya untuk persiapan kehidupan yang lebih abadi.
 
Penulis jadi teringat dengan sepenggal ucapan Prof. Dr. Bacharudin Jusuf Habibie, bekas presiden Republik Indonesia ke tiga. Ketika menyampaikan pidato di depan masyarakat Indonesia dan Para Mahasiswa kita yang belajar di Universitas al-Azhar Cairo di Mesir. Diantara isi ceramah beliau yang disampaikan pada 6 Juni 2011 itu adalah sebagai berikut:
 
“Jika Allah memanggilku dan bertanya padaku, wahai Habibie pilihlah salah satu dari dua pilihan ini. Mana yang kau pilih antara Ilmu pengetahuan dan tekhnologi (Iptek) atau iman dan takwa (Imtak). Maka dengan seketika saya menjawab Imtak, namun ternyata Allah memberikan dua keistimewaan itu pada saya.” 
 
Ternyata semua menganggap bahwa pendidikan Agama itu penting. Pada kenyataannya, banyak orang yang merasakan manfaat dan pentingnya peran agama itu pada waktu yang kurang tepat, yaitu; Setelah mereka umur dewasa (Sekedar untuk tidak mengatakan dan menyebut kata tua). Artinya mereka terkadang terlambat sadar atau kesadarannya terlambat datang. Tidak pada saat-saat mereka masih anak-anak, remaja, atau pada masa mereka muda belia.
 
Menurut hemat penulis, ini ada hubungannya dengan orientasi pendidikan yang ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Dan bisa jadi ini juga merupakan ketidaksesuaian ketika orang tua mendidik anak-anaknya dengan prioritas ilmu-ilmu apa yang harusnya mereka peroleh ketika masih kecil sampai mereka menginjak masa remaja dan mandiri.
 
Sekali lagi penulis bukannya ingin mempertentangkan Ilmu Agama dan Ilmu Umum, jangan salah sangka. Penulis hanya berpendapat bahwa, selama ini orang tua banyak yang kurang pas dalam mendidik anak-anaknya pada prioritas tahapan ilmu apa yang seharusnya diperoleh anaknya, ketika mereka masih pada awal-awal usia menuntut ilmu dan belajar.
 
Terus terang, sekarang ini banyak orang tua yang memberikan prioritas kepada anak-anaknya untuk memperoleh Ilmu Fardhu Kifayah daripada Ilmu Fardhu ‘Ain. 

Padahal, yang seharusnya diprioritaskan, dan dipelajari lebih dulu oleh anak-anak adalah Ilmu-Ilmu dari kelompok Ilmu Fardhu ‘Ain. Kebetulan menurut penulis, memang banyak Ilmu Fardhu ‘Ain ini yang masuk kepada kelompok ilmu-ilmu keagamaan (https://kl.antaranews.com/berita/3940/bagaimana-mendidik-anak-).
 
Memang, hidayah itu prerogratif (Menurut bahasa orang sekarang) Allah SWT, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Menurut salah-satu hadits Rasulullah, beliau pernah mengatakan bahwa; “Manusia itu lahir suci (Sudah mendapat hidayah dari Allah, yaitu beragama Tauhid/Islam). Tergantung orang tuanya yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (H.R. Muslim)
 
Dari sinilah, penulis berpendapat bahwa, hidayah (Petunjuk kepada kehidupan yang benar) itu perlu dipelihara terus. 

Bagaimana cara menjaganya, tidak ada lain kecuali sedari sejak dini anak-anak kita, lebih diprioritaskan kepada pengenalan (Mempelajari) Ilmu-Ilmu Fardhu ‘Ain dahulu ketimbang yang lainnya. Itupun tidak akan menjamin bahwa, anak kita akan tetap terus sadar (Aware) akan arti tujuan hidup, untuk apa dan kemana akhir kehidupan manusia itu.
 
Jangan sampai ilmu yang anak-anak kita pelajari (Karena salah prioritas), malah menyesatkan dan bahkan sampai membuat dirinya tidak sadar akan posisi dan kedudukannya (Pengetahuan tentang Islamic World View). 

Bahwa dirinya adalah manusia (hamba Allah SWT) yang harus memahami apa itu dunia dan akhirat, serta tahu dengan penuh kesadaran tentang siapa tuhan yang sesungguhnya, yang menciptakan semua sebagai makhluk ciptaan-Nya.
 
Alih-alih mendapatkan ilmu yang dapat menyadarkan akan kehidupan Ukhrowi dan mendekatkan kepada Allah SWT. Karena mengagung-agungkan Ilmu-Ilmu Fardhu Kifayah, dan mereka tidak mendasari dirinya dengan pondasi yang kuat, yaitu dengan mempelajari Ilmu-Ilmu Fardhu ’Ain terlebih dulu, akibatnya bisa jadi fatal.
 
Mereka malah menjauh dari hidayah Allah. Banyak contoh bisa kita dapati di zaman sekarang ini. Sekolah tinggi-tinggi jadi pandai, menguasai berbagai keilmuan, tapi kehidupannya hampa, rezekinya tidak berkah, rumah tangganya berantakan, orientasi kehidupannya hanya kesenangan dunia yang fana, bahkan dirinya tidak mengenal siapa Tuhannya.
 
Keadaan seperti ini persis seperti yang dikatakan oleh kata-kata bijak bestari: “Man yazdad ilman, walam yazdad hudan, lam yazdad minallahi ila bu’dan.” Artinya kurang lebih demikian: Barang siapa menuntut ilmu dan bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayah Allah kepadanya, niscaya tidak akan bertambah dalam dirinya, melainkan malah semakin bertambah jauh saja dari Allah SWT.
 
Oleh karena itu, marilah kita sebagai orang tua menggalakkan kepada anak-anak, sedini mungkin untuk kita ajari dan kenalkan dengan Ilmu-Ilmu Fardhu “Ain (Fardhu ‘Ain First) terlebih dahulu. Baru setelah sampai umurnya dan dianggap sudah mumpuni penguasaan Ilmu Fardhu ‘Ainnya, maka dipesilahkan untuk bersamanya mempelajari Ilmu-Ilmu Fardhu Kifayah.
 
Dengan begitu, insya Allah biidznillah (Dengan izin Allah), generasi muda muslim yang disegani, yang membanggakan Agama Islam dan Ummatnya akan cepat terlahir. Bukankah dulu pada zaman kegemilangan Islam dan Ilmu pengetahuan belum terkotak-kotak, banyak bermunculan Ilmuwan-Ilmuwan muslim di berbagai bidang. Mereka rata-rata menguasai keilmuan Fardhu ‘Ain sejak kecil, anak-anak, remaja, dan bahkan muda.
 
Mereka oleh orang tua mereka diarahkan terlebih dahulu mengenal, menguasai, dan bahkan hafal dalam kepala serta dada-dada mereka, Ilmu-Ilmu al-Quran, Hadits, Bahasa Arab dan Ilmu Agama (Ulumuddin), dibanding ilmu lain serta Ilmu Pengetahuan dari alam Yunani ketika itu, yang tergolong dalam keilmuan Fardhu Kifayah.
 
Sehingga mereka tidak sampai tersesat dan menyesatkan orang lain. Mereka paham betul makna hadits Rasullullah SAW yang berbunyi : “Man yuridillahu bihi khoiron yufaqqihhu fiddin.” Artinya: Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan pada dirinya, maka Allah akan menganugerahkan kepdanya kefahaman atas agamanya. (Wallahu A’lam).
 
Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dan Salah Seorang Unsur Pimpinan dari Persyarikatan Cabang Istimewa Muhammadiyah yang ada di Malaysia (PCIM).
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar