Logo Header Antaranews Kuala Lumpur

Megawati dan Dubes Australia bahas hubungan kedua negara-geopolitik

Senin, 11 Mei 2026 20:57 WIB
Image Print
Presiden Ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (11/5/2026). ANTARA/HO-PDIP

Jakarta (ANTARA) - Presiden Ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin.

Saat berdialog, Megawati dan Dubes Rod membahas soal hubungan kedua negara dan situasi geopolitik.

Keduanya sepaham bahwa Kota Darwin, yang terletak di bagian Utara Australia, dengan Papua serta Nusa Tenggara Timur bisa menjadi pintu gerbang kerja sama perekonomian kedua negara.

Perbincangan makin hangat saat membahas diplomasi, termasuk kekaguman Dubes Rod kepada Soekarno sebagai pemimpin revolusi dan perannya dalam mencetuskan Konferensi Asia-Afrika.

Sementara itu, Megawati menceritakan antara lain pengalaman dirinya saat menjabat Presiden Ke-5 RI yang menyediakan waktu bertemu dengan perwakilan kedutaan negara sahabat.

"Saya diajarkan oleh Bung Karno, kalau ada perwakilan kedutaan yang ingin bertemu, harus segera diterima dan disambut dengan baik karena para dubes itu mewakili suatu negara yang berdaulat. Karena itulah ketika jadi Presiden dan ada dubes yang mau bertemu maka selalu saya prioritaskan," kata Megawati dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.

Megawati dan Dubes Rod juga membahas soal geopolitik saat Megawati menyinggung soal dampak perang yang merugikan semua pihak dan meminta lembaga PBB seharusnya lebih berperan.

Dubes Rod sepaham bahwa akibat situasi global terkini, Australia terkena dampak serius, antara lain kenaikan harga bahan bakar minyak yang melonjak drastis dan situasi saat ini mengkhawatirkan.

Dalam pertemuan itu, Megawati didampingi Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Kepala Badan Riset & Analisis Kebijakan Strategis PDIP Andi Widjayanto, dan Direktur Hubungan Luar Negeri PDIP Hanjaya Setiawan.

Sementara Dubes Rod didampingi Wakil Dubes Australia untuk Indonesia Gita Kamath.

Dubes Rod lancar berbahasa Indonesia dan Megawati pun kemudian bertanya sudah berapa lama di Indonesia.

Dubes Rod mengatakan dirinya memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan Kota Makassar karena pada masa muda ikut pertukaran mahasiswa.

"Saya satu tahun tiga bulan (sebagai Dubes). Saya pernah ikut pertukaran mahasiswa di Universitas Hasanuddin dan saya tinggal bersama keluarga Indonesia di Makassar. Waktu itu namanya Ujung Pandang," kata Dubes Rod.

Megawati pun menanyakan bagaimana penilaian Dubes Rod soal makanan di Makassar.

"Jadi, sudah berani makan cabe? Karena makanan Makassar enak-enak," sebut Megawati.

"Enak-enak dan sehat. Bahkan, saya merasa di sana pertama kali saya setuju dengan orang Indonesia bahwa makan dengan tangan lebih enak," ucapnya.

Megawati mengatakan dirinya diajarkan Presiden Pertama RI Soekarno yang mengatakan meski perlu mempelajari aturan etika dan tata krama saat makan di meja (table manner), namun makan menggunakan tangan itu lebih nikmat karena yang paling tahu tangan kita itu kotor atau bersih diri kita sendiri.

Dubes Rod mengatakan dirinya baru saja berkunjung ke Kebun Raya Bogor dan mendengar kepeloporan Megawati di dalam menjaga dan mengembangkan Kebun Raya.

Megawati saat ini juga menjabat Ketua Umum Yayasan Kebun Raya Indonesia.

"Saya selalu mendorong komitmen terhadap lingkungan. Sekarang sudah ada lebih dari 45 kebun raya. Setiap kepala daerah PDIP diminta untuk membuat Kebun Raya," ujar Megawati.

Mengakhiri pertemuan, Megawati menjelaskan dirinya sering mengajak para dubes untuk melihat Kebun Raya di berbagai daerah di Indonesia. "Kebanyakan dubes ingin melihat Kebun Raya Bali," kata Megawati sambil tersenyum.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Megawati dan Dubes Australia bahas hubungan kedua negara serta geopolitik



Pewarta :
Editor: Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026