Aisyiyah Malaysia presentasi TKI hingga akupuntur

id Aisyiyah Malaysia,Tanwir Aisyiyah

Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah Malaysia (PCIA), Nita Nasyithah SPd MEd melakukan presentasi di Tanwir I Aisyiyah di Surabaya. (Foto ANTARA / Idariyani Akhyar). (1)

"Aisyiyah Malaysia diresmikan pada 16 Februari 2009 oleh Ketua Umum PP Aisyiyah Ibu Prof Dr Siti Chamamah Soeratno dan hingga sekarang sudah mengalami pergantian ketua tiga kali," katanya.
Kuala Lumpur, (AntaraKL) - Utusan dari Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah Malaysia (PCIA) melakukan presentasi perkembangan organisasi tersebut pada Tanwir I Aisyiyah yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu.

Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah Malaysia (PCIA), Nita Nasyithah SPd MEd dengan didampingi pengurus Idariyani Akhyar mengemukakan hal tersebut melalui pesan whatsapp yang dikirim ke Kuala Lumpur.

Alumni Universitas Islam Internasional Malaysia tersebut menjelaskan tentang sejarah dan latar belakang PCIA Malaysia, sekilas pandang program kegiatan dan tantangan serta peluang berorganisasi di Malaysia.

"Aisyiyah Malaysia diresmikan pada 16 Februari 2009 oleh Ketua Umum PP Aisyiyah Ibu Prof Dr Siti Chamamah Soeratno dan hingga sekarang sudah mengalami pergantian ketua tiga kali," katanya.

Dia mengatakan hingga saat ini PCIA memiliki empat Pengurus Ranting Istimewa Aisyiyah (PRIA) yakni Ranting Kampung Baru, Ranting Kelang Lama, Ranting Kepong dan Ranting Ampang.

Untuk program PCIA, ujar dia, secara garis besar ada empat yakni ilmu dan keagamaan, pendidikan anak, pelatihan dan bakti sosial.

"Pendidikan anak seperti pendirian PAUD, Taman Pendidikan Al-Quran dan Pesantren Ramadhan, pelatihan seperti kursus pengurusan keuangan, kursus bekam dan akupuntur serta kursus menulis," katanya.

Sedangkan bakti sosial diantaranya seperti bantuan sosial untuk TKI dan TKW terlantar, bantuan dana dan pengobatan untuk korban musibah seperti kecelakaan kerja dan kebakaran serta khitanan massal bekerjasama dengan Muslimat NU Malaysia.

"Untuk khitanan massal bekerjasama dengan Muslimat NU sudah berlangsung yang ketiga kalinya," katanya.

Tantangan berorganisasi di Malaysia, ujar dia, diantaranya kesibukan pekerjaan, domisili yang tersebar seantero Malaysia, legitimasi organisasi di luar negeri, pendidikan pengkaderan minimal dan ibu-ibu yang multi peran.

Sedangkan peluangnya, ujar Nitha, adalah kepercayaan WNI di Malaysia yang cukup besar, dukungan KBRI di Malaysia, kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat dan dukungan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia.
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar