Mantan Bupati Bojonegoro tabligh akbar di Kuala Lumpur

id Suyoto,Kang Yoto,Muhammadiyah

Tabligh akbar Muhammadiyah Malaysia (1)

"Ukuran kemajuan adalah infrastruktur, struktur, konten, nilai. Infrastruktur yakni berkembangnya organisasi PCIM, PCIA, IMM, MDMC dan ranting-ranting. Struktur yakni kesinambungan kepemimpinan dan kepengurusan, jamaah," katanya.
Kuala Lumpur, (Antara) - Mantan Bupati Bojonegoro yang juga tokoh Muhammadiyah Drs Suyoto MSi hadir memberikan tabligh akbar di ballroom lantai 8 Hotel Regency Jalan Raja Alang Kuala Lumpur, Selasa, bersamaan dengan hari libur Hari Buruh Internasional.

Bupati Bojonegoro dua periode tersebut hadir bersama anggota Fraksi PAN DPRD Jatim Drs Husnul Aqib MM memenuhi undangan Keluarga Besar Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) dan Pimpinan Ranting Istimewa Aisyiyah (PRIA) se-Malaysia.

Turut hadir Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Kuala Lumpur, Agus Badrul Jamal beserta istri, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, Dr Sonny Zulhuda, istri Wakil Dubes RI, Dhian Prihandini, Atase Dikbud, Prof Dr Ari Purbayanto beserta istri, Ustadz Arifin, Ustadz Zulfan Haidar dan sejumlah undangan ormas dan partai politik.

Selain ceramah acara diisi dengan pelantikan PRIM Kampung Baru dan Ampang beserta pengurus Aisyiyah serta pelantikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malaysia oleh pengurus DPP IMM Ratu Syaila.

Pada kesempatan tersebut Suyoto banyak memberikan motivasi tentang Kemuhammadiyahan, Kebangsaan dan kilas balik keberhasilannya terpilih menjadi Bupati Bojonegoro serta kesuksesannya saat memimpin daerah tersebut.

Dia mengulas tentang kondisi birokrat dan ulama saat Orde Baru dan perubahan saat era reformasi.

"Sekarang perjuangannya memakai Pemilu. Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif adalah sarana untuk merebut kekuasaan," katanya.

Suyoto memandang posisi Muhammadiyah sebagai organisasi hendaklah seperti sekarang yang tidak terlibat politik praktis.

"Tetapi kalau individu-individunya mempunyai peluang merebut kekuasaan maka harus direbut. Rebut BUMN, yudikatif, legislatif. Tidak cukup hanya dengan peduli. Tidak cukup hanya kutbah dan menjadi pengamat," katanya.

Dia mengatakan menjadi TKI, eksekutif, legislatif dan profesional hendaklah yang berkemajuan yakni kiprahnya bisa dilihat orang lain dan paling banyak berkarya.

"Ruang sudah terbuka lebar, sekarang era demokrasi, kompetisi terbuka. Kalau ingin mengatur kehidupan publik tetapi hanya mau menjadi pengamat dan penonton maka nggak cocok. Politik adalah alat mengatur kehidupan publik," katanya.

Sonny Zulhuda dalam sambutannya mengatakan sebagaimana perintah Allah SWT pergerakan kita harus serba terencana dan terukur sedangkan untuk terukur maka harus ada tolok ukur (yardstick), pembanding dan target.

"Ukuran kemajuan adalah infrastruktur, struktur, konten, nilai. Infrastruktur yakni berkembangnya organisasi PCIM, PCIA, IMM, MDMC dan ranting-ranting. Struktur yakni kesinambungan kepemimpinan dan kepengurusan, jamaah," katanya.

Isi berupa program kerja, hewan qurban, anak didik pesantren Ramadan, TPA dan PAUD, jumlah zakat, jumlah khitan.

Sedangkan nilai adalah Kemuhammadiyahan, Keislaman, Keindonesiaan dan Nusantara adapun tugas penting PCIM adalah menyukseskan internasionalisasi Muhammadiyah.

Akhir acara diisi dengan penyerahan bantuan proyektor oleh PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin) Malaysia yang terkenal dengan SIM card Kartu AS dua nomer kepada PCIM Malaysia dan door prize. Bantuan diserahkan Pimpinan Telin, Rifai dan dibantu Tengku Adnan.

Ketua Panitia Ali Fauzi menyampaikan terima kasih kepada para sponsor acara dan menyerukan pengggunaan produk dalam negeri.
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar