TKI korban kebakaran bingung tempat tinggal

id Kebakaran Kampung Baru,TKI Malaysia,WNI Malaysia

Kebakaran di Kampung Baru (1)

"Harta benda saya terbakar semua. Ini masih tersisa paspor, permit dan beberapa cincin yang ikut terbakar bersama tempatnya," katanya.
Kuala Lumpur,  (AntaraKL) - Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban kebakaran di Kampung Baru, Kuala Lumpur, Malaysia, kebingungan tempat tinggal karena pada Senin (1/1) harus meninggalkan penampungan sementara di Dewan Serbaguna Kampung Baru.

"Kami kebingungan mau tinggal dimana setelah Minggu (31/12) besok karena kami hanya diberi kesempatan tinggal tiga hari di tempat tersebut," ujar korban dan saksi mata kebakaran, Arif Saifuddin (35) saat ditemui Dewan Serbaguna Kampung Baru, Kuala Lumpur, Sabtu.

Sebanyak 15 rumah sewa yang ditempati 102 TKI dari 17 keluarga di Jalan Raja Muda Musa Lorong 6 Kampung Baru Kuala Lumpur hangus terbakar Jumat (29/12) pukul 08.00 pagi waktu setempat diduga akibat hubungan arus pendek listrik.

Arif yang berasal dari Desa Solokuro Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, tersebut akhirnya menempati rumah penampungan sementara di Dewan Serbaguna Kampung Baru yang disediakan oleh Dewan Bandaraya Kuala Lumpur (DBKL) bersama korban kebakaran lainnya.

Arif sudah menempati rumah sewa di tempat tersebut selama empat tahun. Dia bersama sejumlah TKI membayar uang sewa rumah antara RM (Ringgit Malaysia) 300 hingga RM 400 atau sekitar Rp1.000.000 per bulan di luar air dan listrik.

Menurut Arif, hampir semua korban kehilangan harta benda termasuk sejumlah uang yang disimpan di dalam lemari kamar.

"Ada yang kehilangan RM 2.000, RM 3.000 hingga RM 5.000. Mereka menyimpan uang `cash` untuk perpanjangan permit (izin kerja) yang sekarang sampai RM 3.000 lebih, karena itu kesulitan kalau harus mencari tempat persewaan baru," katanya.

Pernyataan yang sama disampaikan oleh Kholifatul Umah (53). Dia mengharapkan ada bantuan dari dermawan untuk bisa menyewa rumah yang baru.

"Harta benda saya terbakar semua. Ini masih tersisa paspor, permit dan beberapa cincin yang ikut terbakar bersama tempatnya," katanya.

Korban kebakaran yang lain, Zahra Nisaa (37), mengaku belum tahu hendak kemana setelah selesai di penampungan.

Wanita yang bekerja di Picoms Kolej Sains Perubatan Pusrawi ini telah kehilangan ATM dan buku tabungan Bank Mandiri, ATM dan buku tabungan BNI, buku nikah dan sejumlah dokumen penting lainnya.

Ketua Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, Dr Sonny Zulhuda mengharapkan Dewan Bandara Kuala Lumpur bisa memberikan kesempatan lebih panjang kepada para korban agar memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri mencari tempat baru. 

Aktifis pemuda Indonesia di Malaysia, Tengku Adnan, sudah berupaya menghubungi Kementrian Wilayah Persekutuan agar bisa diperpanjang namun hingga Sabtu malam (30/12) belum ada tanggapan.

Sementara itu, pada malam hari pascakebakaran dan hari kedua sejumlah bantuan terus berdatangan ke lokasi penampungan.

Tim Satgas Perlindungan WNI KBRI Kuala Lumpur yang dipimpin Sekretaris Pertama Konsuler Soeharyo Tri Sasongko dan Yulisdiyah Nuswapadi ke lokasi memberi bantuan uang RM 3.000 dan sejumlah perlengkapan mandi, pakaian, makanan dan minuman.

Ketua Kampung Atas Kampung Baru, H Malik pada Sabtu malam mendampingi Rotary Kampung Baru City Centre memberikan bantuan sarung dan sajadah kepada korban. Bantuan juga diberikan oleh pengurus Aisyiyah dan Muhammadiyah Malaysia. 
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar