Dubes resmikan sekolah di kebun sawit Sarawak

id CLC Gayanis,Dubes Rusdi Kirana,CLC

Dubes Rusdi Kirana menyerahkan buku ke CLC (Foto ANTARA / Agus Setiawan) (1)

"Saya berharap lebih banyak lagi anak-anak yang melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi. Kami terima kasih dengan usulan pendirian CLC ini," ujarnya.
Bintulu, Sarawak, (AntaraKL) - Duta Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur Rusdi Kirana meresmikan sekolah "Community Learning Center" (CLC) Gayanis di tengah-tengah kebun sawit di Bintulu, Sarawak, Kamis.

Sekolah khusus untuk anak-anak tenaga kerja Indonesia (TKI) tersebut didirikan oleh Perusahaan Kelapa Sawit Wawasan Sedar Sdn Bhd untuk yang pertama kali-nya.

Sekolah yang memiliki 87 siswa dan empat orang guru tersebut didirikan bekerja sama dengan Kemdikbud, KBRI Kuala Lumpur dan KJRI Kuching.

Peresmian diawali dengan penampilan para siswa yang menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan lagu perjuangan dengan iringan gitar guru Nurdin Pinsas.

Senior Manager Plantation Wawasan Sedar Sdn Bhd Tham Chee Keong dalam sambutannya mengatakan pihaknya berharap anak-anak bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi lagi.

"Saya berharap lebih banyak lagi anak-anak yang melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi. Kami terima kasih dengan usulan pendirian CLC ini," ujarnya.

Dubes Rusdi Kirana dalam sambutannya mengatakan pihaknya sudah berbicara dengan perusahaan dan mengatakan apa yang bisa dilakukan agar pekerja bisa bekerja dengan baik.

"Ibu Adeline (pemilik perkebunan) ingin agar kalian bekerja dengan baik karena ke dua belah pihak saling membutuhkan," katanya.

Rusdi meminta kepada para WNI yang tidak memiliki paspor dan akta kelahiran akan dibantu pengurusannya oleh Konjen KJRI Kuching Jahar Gulthom dengan mengirimkan staf ke perkebunan.

"Pesan Pak Jokowi agar semua TKI diberikan paspor sesuai biaya resmi. Yang nggak punya izin kerja harus tetap punya paspor. Jangan sampai tidak punya warga negara. Kalau anak-anak besar mau jadi warga negara mana tidak ada masalah," tuturnya.

Rusdi mengatakan pemerintah akan membangun sekolah kejuruan atau vokasional di Kinabalu sehingga anak-anak bisa melanjutkan ke sekolah tersebut untuk mendapatkan keterampilan.

"Saya sampaikan ke orang tua. Setelah SD agar diusahakan ke SMP. Kami akan bangun sekolah vokasional. Nanti diajari mekanik, kuliner dan perhotelan," imbuhnya.

Dia mengharapkan ke orang tua agar anak-anak tidak lagi memanjat pohon seperti dilakukan orang tuanya.

"Para orang tua dulu belum mengenal sekolah. Saya sebagai Dubes merasa bersalah. Paksa anak kalian sekolah. Adeline pemilik ladang yang baik. Orang tua agar didik anak dengan baik. Mungkin dalam dua tiga tahun lagi akan dibangun vokasional dan nanti bisa kerja di Malaysia atau Indonesia," katanya.

Dia mengharapkan agar anak-anak bisa lebih baik dari orang tua-nya dan tidak mengalami "lost generation".

"`Lost generation` terjadi apabila anak-anak menjalani profesi yang sama seperti orang tuanya," ucapnya.

Turut hadir pada peresmian tersebut Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Ari Purbayanto, Koordinator Fungsi Pensosbud, Agus Badrul Jamal, Atase Politik, Agung Cahya Sumirat, Koordinator Fungsi Konsuler, Yusron B Ambary dan sejumlah diplomat KBRI Kuala Lumpur lainnya serta Konjen KJRI Kuching Jahar Gultom.



 
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar