Turki telah tangkap istri Baghdadi di Suriah

id Presiden Erdogan,Turki tangkap adik Baghdadi

Turki telah tangkap istri Baghdadi di Suriah

Presiden Turki Tayyip Erdogan menyapa anggota parlemen dari partai AK pimpinannya saat rapat di parlemen di Ankara, Turki, Rabu (30/10/2019). ANTARA FOTO/Presidential Press Office/Handout via REUTERS/foc/djo

Ankara (ANTARA) - Turki telah menangkap istri Abu Bakr al-Baghdadi, kata Presiden Tayyip Erdogan pada Rabu (6/11), lebih sepekan setelah mantan pemimpin ISIS itu bunuh diri dalam penyerbuan oleh pasukan khusus Amerika Serikat.

"Amerika Serikat mengatakan Al-Baghdadi bunuh diri di sebuah terowongan. Mereka memulai kampanye komunikasi mengenai ini," kata Erdogan.

"Tapi saya umumkannya di sini untuk pertama kali: Kami menangkap istrinya dan tidak membuat kehebohan seperti mereka. Pada saat yang sama kami juga menangkap adik perempuannya dan adik iparnya di Suriah," kata dia dalam pidato di Universitas Ankara. Ia tak memberi perincian.

Seorang pejabat senior Turki mengatakan awal pekan ini bahwa Turki telah menangkap saudara perempuan Al-Baghdadi, suaminya dan puteri mereka, dan berharap memperoleh informasi dari mereka tentang ISIS, walaupun Ankara tidak mengatakan informasi apa yang diperolehnya mengenai operasi-operasi kelompok itu.

Al-Baghdadi memimpin kelompok garis keras itu dan menyatakan dirinya khalifah, serta menguasai kawasan-kawasan yang besar di Irak dan Suriah mulai 2014 hingga 2017 sebelum kendali ISIS dilumpuhkan koalisi pimpinan AS.

Para pemimpin dunia menyambut baik kematiannya, tetapi mereka dan pakar keamanan memperingatkan bahwa kelompok itu yang melakukan tindakan-tindakan bengis terhadap kelompok-kelompok minoritas masih merupakan ancaman keamanan di Suriah dan wilayah lainnya.

Bulan lalu Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan dua istri Al-Baghdadi juga terbunuh dalam penyerbuan itu yang berlangsung bulan lalu.

Kelompok itu mengatakan pihaknya sudah mempunyai pengganti Al-Baghdadi, yang bernama Abu Ibrahim al-Hashemi al-Quraishi. Seorang pejabat AS mengatakan pekan lalu, Washington sedang meneliti pemimpin baru itu untuk menentukan asalnya.

Sumber: Reuters
 

Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar