Tim Museum Muhammadiyah studi banding ke KL hingga Malaka

id Museum Muhammadiyah,Studi Banding Malaysia

Tim Museum Muhammadiyah di depan pintu gerbang Museum Diraja Kuala Lumpur (Foto ANTARA / Dok)

"Melalui kunjungan ini kita ingin melihat contoh-contoh museum. Beberapa museum yang dikunjungi memberikan inspirasi. Kita ingin membangun museum secara `on the track`. Dalam waktu satu tahun kita harapkan selesaikan pembangunannya dan 2019 akan dire
Kuala Lumpur, (AntaraKL) - Tim pendirian Museum Muhammadiyah yang berasal dari Pimpinan Pusat serta Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah melakukan studi banding ke sejumlah museum yang ada di Kuala Lumpur hingga di Malaka, Malaysia, Kamis (4/1) hingga (5/1) Jumat.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. saat dijumpai disela-sela silaturahmi dengan Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, Jumat, mengatakan tim sudah mengunjungi sejumlah museum di Kuala Lumpur.

"Tim sudah mengunjungi Museum Negara, Museum Diraja, Museum Seni Islam dekat Masjid Negara, Museum Bank, KL Galery di dekat Dataran Merdeka Kuala Lumpur. Jumat melanjutkan kunjungan ke Malaka," katanya.

Sejumlah tim yang menyertai rombongan diantaranya Ketua MPI, Dr. H. Muchlas, M.T dan Wakil Ketua Bidang Museum dan Kearsipan, Hj. Widiyastuti, S.S., M.Hum.

"Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendapat tugas Kemdikbud untuk membangun Museum Muhammadiyah seluas 2.000 meter persegi dengan lima lantai di Universitas Ahmad Dahlan Jogyakarta," katanya.

Dadang Kahmad mengatakan biaya pembangunan museum tersebut berasal dari pemerintah sedangkan isinya dari Muhammadiyah.

"Melalui kunjungan ini kita ingin melihat contoh-contoh museum. Beberapa museum yang dikunjungi memberikan inspirasi. Kita ingin membangun museum secara `on the track`. Dalam waktu satu tahun kita harapkan selesaikan pembangunannya dan 2019 akan diresmikan. Kita harus merebut tafsir sejarah melalui museum," katanya.

Jihad Digital
Dadang Kahmad dalam ceramahnya mengatakan sebelum berangkat ke Kuala Lumpur pihaknya baru melakukan rapat pleno untuk mengevaluasi dan menyusun rencana kerja 2018.

"Amalan di Muhammadiyah itu kerja. Karena itu ciri khas Muhammadiyah itu terus berlari. Kalau sudah melakukan sesuatu kemudian terus melakukan yang lain. Sekarang ini era-nya jihad digital, kita ingin membuat pustakamu. Sekarang sudah mempunyai TVMu dan Suara Muhammadiyah," katanya.

Ciri kedua orang Muhammadiyah, ujar dia, adalah keikhlasan kemudian ciri berikutnya ihsan atau melakukan sesuatu yang sebaik-baiknya kemudian kerjanya bermanfaat.

Pada kesempatan yang sama dia juga menyebutkan sejumlah hal yang menjadi racun organisasi yakni mengklaim menjadi orang yang paling berjasa, terlalu menyanjung atau kultus individu dan berorientasi masa lalu.

Ketua PCIM Malaysia, Dr Sonny Zulhuda mengatakan MPI dalam dunia informasi sekarang ini menjadi ujung tombak Muhammadiyah.

Turut hadir pada pertemuan tersebut pengurus PCIM, Pengurus Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA), sejumlah Pengurus Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) dan Pengurus Ranting Istimewa Aisyiyah (PCIA) Malaysia.
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar