Niat Ke Malaysia Bekerja Beruntung Jadi Sarjana

id TKI jadi sarjana,Agus Purwanto

Niat Ke Malaysia Bekerja Beruntung Jadi Sarjana

Agus Purwanto saat wisuda

"Kalau sudah di kampung halaman nanti ingin membaktikan diri dan mengamalkan ilmu yang diperoleh untuk daerahku. Dari kecil lagi saya suka pada kepemimpinan. Dan saya ingin memajukan desa dengan menjadi kepala desa agar saya bisa mengabdikan diri unt
Niat merantau ke Malaysia sepuluh tahun lalu untuk memperbaiki nasib dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, Agus Purwanto, pria asal Desa Klecorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, malah berhasil mendapat ijazah sarjana.

Pria penghobi sepak bola ini, beruntung, Kamis (13/12) ikut wisuda Universitas Terbuka (UT) bersama 11 wisudawan dari berbagai program studi, seperti Ilmu Pemerintahan, Sastra Inggris, Ilmu Komunikasi dan Akuntansi yang dihadiri Dubes RI di Kuala Lumpur, Rusdi Kirana.

Pria alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Madiun Jurusan Mesin Produksi ini mulai merantau sejak 2008 dan saat ini bekerja di sektor konstruksi sebagai sub-kontraktor.

"Sebenarnya niat utama masuk UT dulu karena saya ingin sekali menjadi PNS. Makanya ambil Jurusan Ilmu Pemerintahan. Namun ditengah perjalanan niat jadi PNS mendadak menghilang seiring bertemunya saya dengan orang-orang hebat selama kuliah di UT," katanya.

Meskipun sudah menyandang gelar sarjana namun dia masih akan di Malaysia dalam kurun waktu satu hingga dua tahun lagi. Dia masih mengejar target untuk bisa menerbitkan buku solo. Penggemar buku karangan Tere Liye ini selama ini sudah menerbitkan lima buku antologi.

"Kalau sudah di kampung halaman nanti ingin membaktikan diri dan mengamalkan ilmu yang diperoleh untuk daerahku. Dari kecil lagi saya suka pada kepemimpinan. Dan saya ingin memajukan desa dengan menjadi kepala desa agar saya bisa mengabdikan diri untuk desa saya tercinta," katanya.

Pria yang pernah mendapatkan Voice Of Indonesia (VOI) Award dari RRI ini menempuh pendidikan selama lima tahun dengan proses belajar yang tidak mudah karena dituntut benar-benar mandiri sebab sistem belajarnya online.

Lain halnya dengan seorang ibu bernama Wiwiningsih, alumni diploma manajemen informatika STIMIK Akakom Jogyakarta ini nekad masuk ke Johor Bahru Malaysia mulai 2004 karena problem keluarga yang membelitnya sedangkan dia harus membesarkan dua orang anaknya.

Mulai bekerja di bagian produksi sebuah perusahaan teknologi informasi kemudian naik menjadi staf hingga kemudian pada 2009 dia masuk ke Kelompok Belajar (Pokjar) UT Johor Bahru untuk melengkapi gelar sarjananya.

"Saya ingin memotivasi anak-anak saya, saya bisa bekerja, saya bisa membiayai anak-anak kuliah sehingga kalau mereka saya tinggalkan sedangkan sekolah-nya tidak benar mereka akan malu sendiri," ujar ibu yang anaknya kuliah di Fisika UGM dan Poltek Kebidanan Surabaya tersebut.


Wisuda Ke Tiga

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur menyelenggarakan prosesi penyerahan ijazah bagi pekerja migran yang menjadi mahasiswa Universitas Terbuka di Aula Hasanuddin KBRI Kuala Lumpur untuk yang ketiga kalinya.

Wisudawan berasal dari Pokjar Kuala Lumpur dan Pokjar Penang dengan berbagai latar belakang profesi seperti pekerja konstruksi, rumah tangga dan manufaktur.

Seharusnya peserta wisuda tahun ini berjumlah 30 orang, namun sebagian telah mengikuti prosesi wisuda yang diselenggarakan di Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Acara itu dihadiri oleh kurang lebih 200 orang yang terdiri dari para wisudawan, keluarga, mahasiswa dan Kepala Universitas Terbuka di Malaysia, Taufiq Salengke.

Prosesi wisuda dibuka oleh Rektor Universitas Terbuka Indonesia, Prof Ojat Darojat dan dilanjutkan dengan prosesi penyerahan ijazah dan pemindahan tali toga oleh Duta Besar RI untuk Malaysia, Rusdi Kirana.

Setelah prosesi penyerahan ijazah acara dilanjutkan dengan kuliah umum yang diberikan oleh Rektor Universitas Terbuka Indonesia dan Duta Besar RI kepada para Mahasiwa Universitas Terbuka di Malaysia.

Dialog yang dipandu oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Ari Purbayanto dan Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Kuala Lumpur Agung Cahaya Sumirat ini berlangsung hangat dan para mahasiswapun menunjukan antusiasme yang tinggi dengan berpartisipasi aktif dalam dialog tersebut.

Rangkaian kegiatan ini juga disiarkan secara langsung via facebook live video KBRI Kuala Lumpur dan siaran ini menjangkau 10.797 orang.

Prosesi penyerahan ijazah ini merupakan kali ke-tiga diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur. Prosesi sebelumnya dilaksanakan pada 2015 dan 2016.

Jumlah total mahasiswa Universitas Terbuka Luar Negeri di 36 negara sebanyak 2.500 orang dan sebanyak 1.500 orang berada di Malaysia.

Khusus pada Universitas Terbuka Pokjar Kuala Lumpur hingga kini tercatat sebanyak 400 orang mahasiswa.

Bangga

Dalam sambutannya Duta Besar Rusdi Kirana menyampaikan apresiasi kepada para wisudawan yang telah berhasil menyelesaikan perkuliahan di sela-sela pekerjaannya.

Pemilik Lion Air Group ini juga memberikan motivasi kepada para wisudawan untuk terus membekali diri, baik dengan ilmu pengetahuan maupun keterampilan.

"Saya bangga melihat kalian memakai toga wisuda. Saya juga pernah mengalaminya. Saya juga pernah berfikir untuk menjadi mahasiswa UT pada tahun 1983 karena pada waktu itu tidak mempunyai uang untuk kuliah," katanya.

Dalam pandangan Rusdi Kirana para wisudawan luar biasa karena disela-sela bekerja bisa belajar di UT apalagi ditempuh di negara orang.

"Saya bilang sama Kang Ojat, rektor UT, kalau lulusan sarjana UI, UGM atau kampus saya Universitas Pancasila masih kalah dengan lulusan sarjana UT. Mahasiswa UT lebih hebat dari lulusan UI karena kalau di UI ada dosen-nya dan bisa berhadapan dengan mahasiswa," katanya.

Sedangkan mahasiswa UT tidak ada interaktif dan tidak bertemu langsung dengan dosen-nya sehingga penilaiannya bisa obyektif sedangkan mahasiswa UT tidak kenal dengan dosen-nya.

"Jadi sarjana bukan akhir, jadi sarjana ini awal kehidupan. Saya waktu mahasiswa juga bekerja. Saya pernah menjadi salesman mesin ketik naik motor. Janji dengan seseorang setelah menunggu lama ternyata bos tidak di tempat kemudian pernah menjadi salesman kue, sekarang kalau bikin `black forrest` masih bisa," katanya.

Dia mengatakan yang paling berat adalah menghadapi kehidupan nyata karena tidak mudah dan sangat berat tetapi harus kita hadapi dan tekuni karena suka tidak suka merupakan kehidupan yang harus dijalani.

Rusdi Kirana mengajak mahasiswa untuk selalu bersyukur namun jangan pernah merasa cukup.

"Jangan pernah merasa cukup tetapi harus selalu bersyukur, bersyukur adalah obat yang membuat kita kuat menghadapi dunia ini. Jangan pernah tidak bersyukur. Saya tiap hari bersyukur. Setiap mau tidur saya berdoa. Itu harus tetapi jangan pernah merasa puas. Kalau hari ini dapat pendapatan Rp10 juta, coba dapat Rp12 juta, kalau dapat Rp12 juta coba dapat Rp15 juta," pesannya.
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar